Lintang Waluku

rP71Q5Q

“Cinta itu hebat, bahkan lebih hebat dari dunia perkawinan. Doa adalah bagian penuturan cinta pada sebuah cita-cita yang belum kita capai. Dia bukan urusan Tuhan, melainkan urusan manusia. Dan Tuhan ada pada seberapa besar rasa cinta kita akan kebenaran itu. Nah, berdoalah dengan cinta, tapi jangan berdoa untuk cinta. Cinta itu dalam dirinya mengandung sebagian kecil rasionalitas, tapi penuh dengan benih rasa yang tidak perlu dihitung secara matematik mengapa dia ada.”
― Munir (1965-2004)

Bhumi

Apakah malam terlalu malam? Apakah pagi terlalu pagi? Tidak banyak yang dapat dilakukan pada dini hari. Sebagian orang tidur, sebagian beribadah, sebagian berhubungan seks, sebagian lagi belajar neurosains.

Dalam waktu lima jam dari sekarang, Bhumi harus sudah duduk siaga di auditorium fakultas. Keterlambatan dapat berujung pada penyesalan seumur hidup. Begitu cepatnya waktu berlalu, hingga cahaya matahari pagi datang, menembus tirai kamar, memaksa Bhumi untuk segera berkemas mengarungi rimba manusia setengah sadar yang dikendalikan masalah.

Kembali duduk di stasiun. Kembali menunggu di peron berkarat yang sama. Neurosains. Sinapsis. Sirkuit memori. Struktur otak. Stabilo. Modul. Oh! Betapa warna-warninya modul neurosains Bhumi dengan stabilo. Menggarisbawahi istilah asing dan kalimat pertama dalam paragraf menggunakan stabilo membuatnya merasa lebih produktif, meski ia tidak memahami apa yang ditaindainya, yang penting ia melakukan sesuatu!

Kerumunan yang sama. Di jam yang sama. Cuaca yang sama, sepekan terakhir ini cerah dengan awan putih tipis menggantung di langit pagi yang biru pucat, matahari bersembunyi di balik atap peron sebelah timur.

Pertanyaan yang sama. Seperti, kapan speaker stasiun diganti? Atau, kapan informan stasiun mendapat pelatihan public speaking agar suaranya dapat dimengerti? Atau, mengapa ‘gerbong wanita’? Mengapa bukan ‘gerbong bebas pencabulan’?

Banyak hal di luar sana yang tidak Bhumi mengerti, seperti Tuhan, birokrasi, teori-teori ilmu kedokteran yang mematri jati dirinya, serta sesosok cahaya yang hadir tanpa diminta, namun kini dinantinya diam-diam.

You’re in love with a total stranger!” kata Mai Anh, mahasiswi program pertukaran dari Vietnam, dalam suatu obrolan sehabis praktikum di laboratorium histokimia.

Bhumi terdiam sesaat, sambil membersihkan tabung-tabung reaksi, “how do you define love?

You don’t have to define. I mean, love is like throwing a piece of solid sodium into a glass of water. Explosion. Kamu ngerasa kayak gitu, nggak?”

Jemari Bhumi bergerak kikuk membersihkan mulut tabung reaksi dengan alkohol. Bagaimana ia menjelaskannya dengan bahasa yang dapat dipahami?

Jika saja sorot mata dan siluet senja dapat diejawantahkan dalam kata-kata tanpa mengurangi maknanya…

Bhumi melanjutkan kesunyiannya.

Just tell me, what does she look like?” tanya Mai Anh.

Bagai tumbuh merekah dari tanah liat yang tak pernah diharapkan bertunas, ganjilnya rasa menjadi nyata. Demi pagi dan senja yang silih berganti, seperti inilah bagaimana adanya.

Setelah laboratorium histokimia rapi, mereka berjalan pulang. Bhumi tahu rasa penasaran Mai Anh belum terpuaskan, sepanjang jalan wajahnya masam seperti laboran yang kehilangan kamera optilab. Mereka berpisah di pertigaan Salemba Raya karena Mai Anh tinggal di gedung asrama sedangkan Bhumi harus naik bus ke stasiun.

Ah, tidak semua pertanyaan memerlukan jawaban, pikir Bhumi. Terkadang bahagia itu sederhana. Kau abaikan beberapa pertanyaan yang mengancam, lalu jalani hidup sebagaimana mestinya.

Tiba di Stasiun Cikini, Bhumi masuk ke commuter line yang berangkat pukul 5 sore tepat. Di Stasiun Manggarai, seseorang masuk ke gerbong 4. Tidak sulit untuk mengenalinya di antara kerumunan manusia commuter line yang wajahnya mulai sekebas beton-beton kota.

Yang satu ini seperti manusia.

Kehadirannya bagai sayup-sayup nelangsa akustikan, meranggas dan bersemi pada saat yang bersamaan, berpadu dengan rona senja yang selalu ingin diabadikan mereka yang tengah menanam kasih. Bhumi dan lelaki ini berdiri bersisian.

Sampaikan padanya, sepi itu indah. Membisu itu anugerah.

Pagi itu mereka kembali duduk di peron yang sama, menunggu kereta pagi yang jaraknya masih dua stasiun jauhnya. Mereka akan masuk melalui pintu yang sama, berdiri di pojok yang sama—mungkin hanya terpisahkan dua sampai tiga orang, atau kalau beruntung, ya, berdiri bersisian seperti sore kemarin.

Oh, Jayabaya, telah kau ramalkankah nestapa ini?

Bhumi tidak tahu harus memulai dari mana. Namanya saja tidak tahu. Kali pertama bertemu, lelaki itu mengenakan hoodie merah marun dan sepatu kets, tas softcase gitar disampirkan di punggungnya. Lain waktu, ia hanya mengenakan kaus tipis dengan lengan digulung dan celana chino, gelang-gelang temali melingkar di tangannya, tekun membaca buku dari pengarang Rusia yang Bhumi tidak kenali. Jika berpakaian seperti itu, Bhumi senang mencuri-curi kesempatan memandang lekuk-lekuk lengan dan bahunya yang bidang.

Wajahnya mengingatkan Bhumi pada senja pertama di bulan Agustus, ketika sebentang langit selatan diwarnai jingga terang yang membawa kehangatan sekaligus menjemput malam dengan sabuk bintang langit selatan yang menghibur hati. Aroma citrus dan tembakau manis yang tercium jika Bhumi berjarak satu rentangan tangan dengannya membuatnya terbayang akan senja di kepulauan timur yang tak pernah didatanginya.

Lagi-lagi senja.

Nampaknya mereka sebaya, pikir Bhumi, sembari memerhatikan jenis-jenis raut wajah yang timbul dari balik buku tebal itu. Terkadang bersungut, berseri, mengangkat alis—ah, Bhumi paling suka yang terakhir itu. Betapa gurat wajah terkadang dapat membuat seseorang terpaku begitu lamanya, hingga waras kembali mengambil alih diri. Keterasingan membuatnya indah.

Kereta berhenti di Stasiun Manggarai. Dia turun.

Kereta berhenti di Stasiun Cikini. Bhumi turun.

Any updates?

Sorry?

Her.

Oh, you mean him. “Baik-baik aja.”

“Baik-baik aja gimana maksudnya? Udah kenalan?”

“Belum.”

Nghiêm túc, những gì là sai với bạn? What is wrong with you? Do you need some plan? Like, umm, scenario? I’ll make it up for you, come!”

“No, Mai Anh, wait!”

“Til when?”

“I don’t think this is right.”

“What on Earth are you talking about? You wait for her every morning at the station. You make yourself to be on the same train with her. Every single day. If you think this is not right, why are you keep doing the same shit?”

“Because—”

“…………….”

“Why did you kiss me?”

“Did you think that was right?”

“It felt wrong.”

“That’s it. When you fall in love, you don’t think about it. You feel it.”

“Even though it’s not right in everybody’s eyes?”

“Look, Bhumi, you can close your eyes to the things you do not want to see, but you can’t close your heart to the things you don’t want to feel.”

Pagi ini Bhumi tidak merasa begitu sehat. Mungkin karena kondisi tubuhnya, atau mungkin karena apa yang tengah dilihatnya. Mata itu lirih. Ya, sepasang mata itu, tempat di mana Bhumi ingin sekali bercermin, bahkan merelakan dirinya untuk tenggelam demi memahami misteri mengapa mereka berdua belum bersatu.

Mata itu redup, seperti senja pertama di bulan Januari, atau seperti sebentuk awan tebal yang melingkupi kota dengan bayang-bayang ketidakpastian hujan. Ada apa gerangan? Cahaya yang hadir tanpa diminta seperti bara natrium yang beranjak padam. Bhumi lagi-lagi tidak tahu harus melakukan apa. Haruskah ia mendekat beberapa jengkal? Haruskah ia merangkulnya? Haruskah ia—

Bodoh!

Lelaki itu bangkit dan pergi sebelum kereta datang. Bhumi duduk bergeming menyaksikan sosok itu berjalan dengan langkah-langkah panjang menghilang di pintu keluar stasiun. Apakah ini karena salahnya?

Bhumi hendak bangkit ketika ia melihat sesuatu melalui sudut matanya. Tergeletak di bawah peron, sebuah pembatas buku berwarna hijau kelabu. Aroma citrus dan tembakau manis menyaput hidung ketika ia memungutnya. Secarik tulisan tangan menghangatkan hati. Ia tak sempat mengejarnya.

Bhumi muntah-muntah dan pingsan di kelas matrikulasi sore. Gejala tifus, kata dokter yang memeriksanya. Bisa jadi karena kelelahan, karena salah makan, namun Mai Anh yang mengantarnya sampai ke rumah yakin kalau itu karena Bhumi malas mandi.

“Sekarang bertambah satu faktor pengingat selain Tuhan dan jamur kaki,” bisiknya.

“Mai Anh, ko tidak kasihan kah dengan Bhumi?” ujar Yakob yang punya inisiatif untuk mengantar Bhumi pulang dengan mobil kampus. “De su sakit, su muntah-muntah sampe. Lebih baik ko nina-bobokan, sudah.”

He doesn’t need me,” sanggah Mai Anh. Ia membiarkan Bhumi yang lemas bersandar di bahunya. “He needs her.”

“Bhumi pu pacar, kah? Siapa?”

I don’t know who she is. Tapi fakta bahwa Bhumi mikirin cewek itu sampe dia kena tifus… Bhumi is really in love,” ujar Mai Anh.

“Tapi kalau begini ini terus, tidak sehat, Bhumi. Ko harus selesaikan ko pu petak umpat.”

Could’t agree more.”

But what if he—” Bhumi mencoba berpikir jernih, tetapi kepalanya terlalu pening. Semakin ia berpikir, semakin ia merasa seperti dijungkir-balikkan mobil yang Yakob kemudikan di tengah macetnya Jalan Ampera Raya.

He? Udah, kamu tidur aja, deh,” Mai Anh menempelkan tangannya di kening Bhumi.

“Bapa dokter kasi ko pu obat apa kah sampe ko melantur begitu? Tapi ya, ko perlu bersyukur pada Tuhan, Bhumi. Kalau ko sakit seperti ini di Papua, ko pu kecil kemungkinan untuk dapat pertolongan pertama. Banyak doa supaya cepat sembuh, itu sudah. ”

“Yakob, radionya matiin deh. Nanti dia pusing terus jackpot, lagi.”

Ketiganya masih akan terjebak di kemacetan hingga dua jam ke depan, dengan kondisi satu jam sekali mereka harus membantu Bhumi jackpot di pinggir jalan.

Malam. Bhumi beranjak sehat. Bukan kali pertama Bhumi pergi ke stasiun malam hari. Namun malam ini berbeda. Seperti ada yang memanggilnya, meski ia merasa sedang tidak butuh kereta untuk membawanya ke kampus atau ke mana pun. Ia harus ke stasiun.

“Cinta itu hebat, bahkan lebih hebat dari dunia perkawinan. Doa adalah bagian penuturan cinta pada sebuah cita-cita yang belum kita capai. Dia bukan urusan Tuhan, melainkan urusan manusia. Dan Tuhan ada pada seberapa besar rasa cinta kita akan kebenaran itu. Nah, berdoalah dengan cinta, tapi jangan berdoa untuk cinta. Cinta itu dalam dirinya mengandung sebagian kecil rasionalitas, tapi penuh dengan benih rasa yang tidak perlu dihitung secara matematik mengapa dia ada.”

“Munir.”

Bhumi mengeluarkan pembatas buku dari tasnya. “Kamu meninggalkan ini kemarin pagi.”

“Terima kasih.” Diterimanya benda itu. “Kukira hilang di mana.”

“Kamu menjatuhkannya waktu itu… waktu kamu nggak jadi naik kereta.”

“Oh,” lelaki itu memandang Bhumi agak lama, kemudian tersenyum. “Kamu lagi nunggu kereta?”

Bhumi mengangkat kedua bahunya. “Kamu?”

Yang ditanya menggelengkan kepala.

“Ya, sama,” Bhumi duduk di sampingnya. Kini ia memberanikan diri tiga jengkal lebih dekat, masih dengan aroma citrus dan tembakau manis. Lelaki di sampingnya mengenakan kemeja biru tua dengan lengan digulung dan kaus abu-abu. Rambutnya rapi, seakan Bhumi tak pernah melihat versi yang lebih rapi darinya selain malam ini.

Lelaki itu melanjutkan, “enggak, maksudku, aku nggak tahu kenapa aku ada di sini. Di dunia ini.”

“Ya, sama. Beberapa hal memang hadir tanpa diminta. Seperti kehidupan.”

“Seperti kematian…”

“Seperti rasa nyaman…”

Lampu-lampu stasiun mulai dimatikan. Sepi.

“Kamu percaya takdir?” tanya lelaki itu sambil menengadah ke atas.

“Maksudmu bahwa sesuatu di atas sana sudah merancang kejadian-kejadian yang akan menimpa kita, dari A sampai Z?”

“Ya, semacam itulah.”

Bhumi sulit menjawabnya. Kapan kali terakhir dia pergi ke gereja? Ya, waktu misa Natal, itu pun karena dipaksa oleh teman satu gerejanya. “Aku percaya ada saat di mana kita punya kebebasan untuk memilih. Dan ketika kita menggunakannya, kita memberi dampak yang besar terhadap apa yang akan terjadi di masa depan.”

“Omong kosong kebebasan.”

“Maksudmu?”

Bibir mereka berpagutan.

“Kamu merasa bebas sekarang?”

Bhumi mengangguk. Keduanya kembali tenggelam satu sama lain. Semakin dalam. Semakin erat. Cahaya yang hadir tanpa diminta memberinya kehangatan. Tumbuh dari dalam palung jiwa yang kini terisi. Hatinya berpendar bagai kunang-kunang di tengah kegelapan langit selatan, membaur bersama rasi bintang yang kekal. Penuh tafsir. Lesaplah wahai rasa.

Lelaki itu bertanya, “apakah kamu mau melakukan ini setiap pagi, di sini, bersamaku?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Banyak orang yang lihat. Apa kata mereka nanti?”

“Oh…”

Bhumi membalas, “kenapa kamu nggak menyapaku dari kemarin-kemarin?”

“Aku mau. Tapi—”

Banyak orang yang lihat. Apa kata mereka nanti?

“Iya.”

Kau ada untuknya dan dia ada untukmu bukan karena hukum sebab-akibat, tetapi karena kamu dan dirinya merupakan suatu senyawa.

“Hei,” panggilnya, “Kamu punya tiga permintaan!”

“Kamu, kamu, dan keberanian.”

“Jadi kamu mau tahu apa itu keberanian?”

“Tentu.”

“Oke,” tandasnya sembari bangkit dari peron, berjalan ke tepian dan melompat ke jalur kereta. “Ayo, ikut aku.”

“Kamu udah gila.”

“Gila karena kamu. Ayo, sini,” ia mengulurkan tangan.

Bhumi menyambut tangannya. Sesaat kemudian mereka sudah berbaring di atas batu kerikil dan rel besi. Di hadapan mereka, sebentang langit malam dengan titik-titik bintang. Ada yang redup dan terang. “Ini bukan berani, ini namanya gila.”

“Lihat bintang-bintang yang di situ, deh.”

Bhumi menutup mata kanan dan kirinya secara bergantian agar mengikuti arah yang ditunjuk.

“Kamu lihat tiga bintang paling terang yang berjejer berdekatan?”

“Ya.”

“Itu lintang waluku,” ujarnya.

“Dan lintang waluku itu adalah?”

“Untuk orang Jawa, munculnya lintang waluku di langit itu pertanda masuknya musim panen. Untuk orang Yunani, lintang waluku adalah bagian dari rasi Orion, sang pemburu.”

“Kalau untuk kamu, apa artinya?”

“Untuk kita,” lelaki itu membenarkan. “Kalau kamu jadi salah satu dari lintang waluku, kamu mau yang mana?”

“Tunjuk satu bintang?”

“Boleh.”

“Yang sebelah kiri,” Bhumi menjatuhkan pilihan.

“Kalau begitu aku yang sebelah kanan.”

“Lalu, bintang yang di tengah itu untuk siapa?”

“Untuk dia yang selalu berada di tengah-tengah kita,” ujarnya pelan. “Untuk norma sosial.”

Bhumi merasakan hangatnya genggaman tangan. Ada sebuah energi yang mengalir. Energi yang tak pernah lahir dan mati, hanya saja selalu berubah wujud sehingga terkadang dianggap tidak ada. Jangan dilepas.

“Hei. Kapan-kapan kita minum kopi, ya? Atau duduk-duduk di atas genteng sambil lihat matahari terbenam, layangan nyangkut, atau ngobrolin hidup dan nyinyiran lainnya?”

“Bhumi,” desahnya, “aku nggak tahu.”

“Loh, dari mana kamu tahu namaku?”

“Tahu saja.”

“Nama kamu siapa?”

Bibir Bhumi diciumnya lagi agar diam.

Lalu kami menghilang dalam tata nilai. Lengan merangkul, tangan menggenggam. Omong kosong dunia-milik-berdua. Tanah ini milik mereka yang dibenarkan.

Dalam kelas neurosains, Profesor Susetya pernah bergurau bahwa dalam waktu lima menit setelah terbangun dari tidur, kita mulai melupakan 50 persen bagian dari mimpi kita. Setelah sepuluh menit, 90 persen akan hilang. Menyadari hal itu, Bhumi segera mengambil jurnal terdekat yang ada dalam jangkauannya dan mulai menulis.

Pagi. Pembatas buku ada di genggaman. Bhumi duduk di peron yang sama. Telah lima hari ia berbaring di rumah. Meski hari ini kepalanya masih terasa berat, ia menguatkan diri untuk keluar, berbungkus jaket tanpa kancing yang sering dirapatkannya dengan gerakan memeluk diri. Memeluk sisa-sisa mimpi.

Banyak hal di luar sana yang tidak Bhumi mengerti, seperti Tuhan, birokrasi, teori-teori ilmu kedokteran yang mematri jati dirinya, serta sesosok cahaya biasanya hadir tanpa diminta, namun kini tak nampak.

Seorang bapak tua tengah serius membaca surat kabar, duduk di peron yang biasa ditempati sosok yang dinanti Bhumi. Mungkin kesiangan.

Pukul setengah 8 lewat. Seharusnya mereka berdua sudah berada di kereta saat ini, namun Bhumi masih menunggu di peron entah sampai kapan. Tak lama commuter line tujuan Kota datang. Bhumi memilih untuk bertahan sebentar lagi. Ia sendiri lagi.

Setengah jam berlalu dan Bhumi mulai merasa dirinya menunggu dalam kesia-siaan. Mungkin hari ini ia sedang libur, atau sebenarnya sudah berangkat lebih pagi dari biasanya. Ya mungkin hari ini Bhumi memang diharuskan untuk kembali tidur dan melanjutkan mimpi?

Namun akhirnya mereka toh bertemu. Wajah teduh bagai senja pertama di bulan Agustus hadir melalui halaman pertama surat kabar yang ditinggal bapak tua.

Kini ia tahu namanya, meski dingin dan gelap dunia menjadi harga yang harus dibayar.

***

Anggrek

Namaku Anggrek. Umurku 23 tahun. Seorang lulusan SMK, pegawai shift-malam di minimarket stasiun. Setiap hari aku pulang pagi. Orang-orang bilang kalau akhwat sepertiku nggak pantes pulang pagi. Tapi, ah, mereka nggak tau apa-apa tentang hidupku dan jam kerjaku. Pagi itu aku nggak pulang ke kost. Aku mau balik ke Bogor untuk mengurusi perkawinan kakak perempuanku. Ah, habis dia, pasti aku yang kena suruh cepat kawin. Aku nggak mau. Aku nggak suka laki-laki. Aku sedang naksir dengan mbak-mbak butchy yang tinggal di kost-an sebelah. Namanya Patrice, panggilannya Patrick, biar lebih macho.

Jadi, pagi itu aku menunggu KRL Ekonomi jurusan Bogor. Hari masih agak gelap, sepi seperti biasa. Tapi itu awalnya. Aku nggak mungkin lupa kejadian hari itu. Pengalaman pertama menyaksikan orang bunuh diri! Sewaktu aku sedang duduk, tiba-tiba ada cowok dari peron seberang turun ke rel. Ganteng sih, masih muda pula, tapi wajahnya yang dingin dan sendu itu bikin aku takut. Dia mati seketika terlindas KRL Bogor. Mendadak stasiun geger.

Alih-alih pulang, aku malah dibawa ke kantor polisi untuk jadi saksi! Mendadak aku ingin dipeluk Patrick, mencari perlindungan.

***

Hilman

Nama gue Hilman. Umur gue 20 tahun. Mahasiswa jurusan seni rupa. Gue punya geng. Kami sering ngumpul di warung sebelah toko buku langka, Taman Ismail Marzuki. Anggota kami lima orang, tapi sekarang tinggal empat. Bukan resign, tapi meninggal dunia. Bunuh diri. Namanya Surya. Umurnya sama dengan gue. Dia mahasiswa seni musik semester 4. Gue sayang banget sama dia udah kayak saudara sendiri. Sedih banget dia harus meninggal dengan cara seperti itu.

Semua bermula ketika dia coming out kalau dia gay. Jujur kami kaget. Surya coming out dengan cara yang unik. Dia nggak datang dan tiba-tiba bilang “guys, I’m gay,” tapi dia cerita kalau dia sedang naksir dengan seorang cowok yang dilihatnya setiap hari di stasiun. Mereka naik kereta bareng, pulang juga sering kebetulan bareng. Jodoh, lah, itu namanya! Tiga orang diam-diam mulai menjauhi Surya. Tinggal gue seorang.

Sewaktu Surya coming out ke keluarganya, dia disuruh minta ampun ke Tuhan. Rekeningnya ditarik. Abangnya yang baru keluar dari penjara karena kasus pembacokkan, suatu ketika kirim pesan kalau seandainya Surya ketahuan pacaran dengan cowok, dia bakal dihajar dan nggak segan-segan dibunuh demi nama baik keluarga. Kami putus kontak selama seminggu. Perjumpaan berikutnya, ya, di TPU Jeruk Purut.

Mungkin salah satu alasan kenapa gue termasuk orang yang menerima Surya adalah, karena gue juga nggak straight. Diem-diem sekarang gue lagi naksir waria yang suka ngamen dari warung ke warung di Taman Ismail Marzuki. Gue pengen kenalan, tapi apa kata temen-temen gue nanti, ya? Kadang-kadang gue pengen meluk dia aja, sih. Semoga wangi cologne-nya nggak bikin ilfeel.

***

Patrick

Namaku Patrick. Nama asli, sih, Patrice, tapi panggil aja Patrick. Aku 24 tahun. Tinggiku 175cm. Mungkin aku bisa jadi model kalau saja tubuhku nggak kekar seperti ini. Tapi aku suka dengan bentuk tubuhku yang sekarang. Orang-orang jadi lebih patuh pada kemauanku. Menjadi petugas BLU Transjakarta sudah menjadi keseharianku sejak satu tahun terakhir. Koridor Kampung Melayu-Ancol sudah kuhafal di luar kepala,  koridor lain menyusul.

Malam itu seorang waria masuk ke dalam bus tempat aku bertugas. Bajunya warna-warni. Banyak yang diam-diam bergeser posisi ke tengah supaya menjauh darinya. Aku perintahkan mereka untuk mengisi bagian dalam supaya pintu masuk tidak sesak.

Tiba-tiba terjadi keributan di belakang bus. Ketika kuhampiri, waria itu tengah meringkuk di lantai dipukuli beberapa laki-laki. Aku mengamankan dirinya. Seorang pemuda mengaku dompetnya dicopet waria ini. Terpaksa bus kita hentikan di tengah jalan dan penggeledahan dilakukan. Ternyata pencopetnya seorang bapak berbaju batik yang diam-diam melipir saat keributan.

Menangani kejadian ini, aku jadi teringat tetangga kost-an ku, si sholehah Anggrek. Aku nggak tahu apakah dia suka denganku sama halnya aku ke dia. Tetapi seandainya iya, dan kami jadian, kami akan seperti menelanjangi diri di tengah siang bolong. Sudah perempuan, lesbian pula. Aku jadi khawatir apakah kami juga akan sering dituduh macam-macam seperti waria ini karena kami tidak lurus? Mendadak aku ingin memeluk Anggrek, masih muhrim kan ya?

***

Siska

Nama saya Siska. Umur saya 22 tahun. Saya waria. Itu saja yang perlu kamu tahu. Biasanya, begitu orang-orang tahu kewariaan saya, nggak ada lagi yang mereka ingin tahu selain kapan saya bisa dipakai dan berapa harga saya semalam.

Tapi, ya, kalau kamu ingin tahu lebih lanjut, ya sudah. Saya bukan pekerja seks. Saya pengamen. Kalau kamu ingin dioral, saya bisa antar kamu ke teman-teman saya. Jiwa dan tubuh saya hanya untuk seni. Saya keluar dari sekolah ketika kelas 2 SMP. Selain karena capek harus menerima seribu julukan, saya dan keluarga juga nggak punya uang. Ke Jakarta, saya mengaku kerja di bengkel. Setiap bulan saya kirim uang ke rumah di Banyumas dari hasil mengamen dan menari. Ya, saya bisa tayuban sedikit, dulu belajar diam-diam sepulang sekolah—kalau nggak mau dikencingin sambil dikatain banci ya harus diam-diam.

Sebenarnya saya pengen masuk sekolah lagi. Saya iri sama anak-anak institut kesenian yang suka kumpul di Taman Ismail Marzuki. Saya pengen ikut akademi tari, biar bisa profesional dan tidak perlu pura-pura mengaku kerja di bengkel. Terakhir saya ngamen di depan mereka, ada cowok yang menatap saya begitu lamanya. Memang dia bukan cowok pertama yang memandangi, tapi biasanya cowok lain memandangi itu tatapan nafsu. Kok yang ini beda.

Malamnya, tenggelam dalam lamunan akan dirinya, saya pergi ke Pasar Senen. Ada janji main dengan teman-teman pengamen waria. Lagi ada uang, jadi saya naik Transjakarta saja dari Dukuh Atas. Siapa yang sangka di dalam bus saya malah dituduh mencopet, dijambak dan ditendang. Untung ada mbak penjaga pintu yang mengamankan saya, badannya besar kuat. Terbukti tidak bersalah, saya keluar dari bus ditemani dua orang. Mereka mengobati saya.

Malam itu perasaan saya campur aduk. Badan saya sakit, tapi saya ingin lari ke Taman Ismail Marzuki dan menemukan cowok itu. Saya ingin memeluknya. Semoga dia nggak jijik dengan saya.

***

Mai Anh

Xin chào! Namaku Mai Anh. Umurku 19 tahun. Aku dari Vietnam, tapi mungkin akan menetap lebih lama di sini karena aku cinta orang-orangnya. Sore ini aku habis membeli buku-buku kedokteran di Matraman bersama Yakob. Terkadang aku ragu apakah ia mengerti apa yang kukatakan, tapi ya sudahlah. Dalam perjalanan pulang ke Salemba, di bus kami menyaksikan seorang waria dipukuli karena dituduh mencopet. Bus berhenti. Tas semua penumpang digeledah. Ternyata pencopetnya bukan dia. Tetapi dia sudah terlanjur babak belur.

Aku dan Yakob mendekati waria itu. Wajah dan badannya lebam juga berdarah, harus segera diobati. Kami sepakat untuk turun di halte berikutnya. Kami mencari tempat dengan pencahayaan cukup: jembatan penyeberangan. Dengan air mineral dan tisu alkohol seadanya, kami membersihkan luka Siska. Sedikit betadine, kain kasa, selesai.

Melihat keberanian Siska, aku jadi teringat pada sahabatku Bhumi. Kapan dia akan pindah ke kost-an, ya? Sejak kejadian itu, dia memutuskan untuk pindah ke Salemba. Ingin keluar dari rutinitas commuter line, katanya.

Ketika kami berpisah dengan Siska, kupeluk tubuhnya yang wangi cologne stroberi dan betadine. Mendadak aku juga ingin memeluk Bhumi.

***

Yakob

Saya punya nama Yakob. Umur saya 20 tahun. Saya mahasiswa kedokteran semester 4, tapi sepertinya akan lulus lama-lama karena pelajaran di sini susah sekali. Saya datang dari Papua, ikut program beasiswa pemerintah daerah. Bersama dengan teman saya, Mai Anh kami habis belanja-belanja buku di Matraman. Bosan di Kwitang. Meski dia punya bahasa campur-campur, Inggris, Indonesia, dan Vietnam, saya berusaha memahaminya sepenuh hati. Karena pada dasarnya kita semua manusia, toh?

Malam ini kami habis mengobati seorang waria. Rasa pedih yang saya lihat di matanya mengingatkan saya pada teman kami yang satu, Bhumi. Anak Jakarta. Dia punya kisah memilukan juga. Dia punya orang tersayang mati bunuh diri.

Bhumi datang ke kapel tempat saya biasa persekutuan doa sore itu. “Yakob,” panggilnya.

“Eh, Bhumi, ko sudah sembuh, kah?”

“Kamu ingat yang Prof. Susetya katakan tentang ingatan dan emosi?”

“Bahwa ingatan tentang peristiwa—atau sosok tertentu—dapat muncul disertai dengan timbulnya reaksi emosi yang kuat?”

“Bagaimana jika ada peristiwa yang tidak pernah benar-benar terjadi, namun menimbulkan reaksi emosi yang kuat? Atau bagaimana jika kamu ingin mematikan emosi dari peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi?”

Menit berikutnya, kami duduk di bangku kapel. Saya biarkan Bhumi menangis hingga cerita dan air matanya habis di bahu saya. Ia berbicara mengenai banyak hal, mulai dari pembatas buku, mimpi, hingga menyalahkan dirinya atas kejadian yang menurutnya dapat dicegah seandainya ia dapat berkenalan dengan Surya lebih awal.

Kematian dan kehidupan adalah sesuatu yang datang tanpa diminta. Saya peluk ia erat-erat supaya rasa pedihnya terbagi. “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati,” bisik saya di telinganya.

Bhumi pamit. Ketika kembali ke dalam kapel, saya mulai menitikkan air mata. Saya membayangkan Bhumi-Bhumi lain di sekitar saya, hidup dalam sulitnya mengungkap rasa karena pertentangan kasih sayang dan sistem nilai yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Di stasiun kereta, taman-taman kota, bus Transjakarta, rumah ibadah, barisan pengunjung perpustakaan, pedestrian sempit, kolong jembatan, dalam lift yang tersendat, antrian kasir minimarket, ruang ujian, ada berapa kisah lintang waluku yang dapat terjadi?

Berapa banyak pasang manusia yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya saling mengasihi, hanya saja kebisuan yang dipelihara oleh rasa benci dan takut itu membuat mereka duduk tanpa bicara untuk waktu yang lama—mungkin selamanya? Berapa banyak pasang manusia yang membayar mahalnya harga keberanian untuk mengasihi?

Hari ini hari pertama di bulan Agustus. Saya dan Mai Anh membantu Bhumi memindahkan perabotan ke kost-an barunya di belakang kampus. Sorenya, kami naik ke atap, menyaksikan senjakala sambil membicarakan hidup, layangan nyangkut, dan nyinyiran lainnya. Bhumi cerita bahwa Surya itu seperti cahaya yang beranjak tumbuh menjadi hangat agar bisa hadir tanpa diminta. Melalui kutipan sajak yang ditulis untuknya di pembatas buku, melalui senja yang menyerap lelahnya hidup dalam persembunyian, melalui bersinarnya lintang waluku di langit selatan, Bhumi merasakan hangatnya dekapan Surya.

Mendadak saya ingin memeluk Bhumi.

(Jakarta, 11 April 2013)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s