Bira

muhammad-haikal-sjukri-423569-unsplash

Senja pertama di bulan Agustus. Kali ini hangatnya tidak menetap. Musim kering yang basah, demikian rubrik perkiraan cuaca di surat kabar menyampaikan. Namun matahari menemui celah terbaiknya hari ini. Sinar penghabisannya memindai pelataran air mancur yang menari-nari di depan sebuah courtyard dengan langit-langit kaca. Mistletoe tropis yang dulu dianggap parasit bagi kayu ukiran dibiarkan tumbuh merambat di kusen jendela. Tempat ini berubin granit. Bahan yang sama yang digunakan di pedestrian, hanya saja beda motif dan ukuran. Meja-meja persegi beraroma tasmanian lavender ditata diagonal seperti ketupat, masing-masing dilapisi taplak kertas. Gelas kecil berisi air dan sepotong lilin mengambang tenang, belum dinyalakan. Sementara itu mesin pendingin berhembus sepanjang hari, berbagi energi dengan lampu-lampu gas yang menempel di dinding berlapis wallpaper merah marun dan coklat pinus.

Meja atas nama Bira dipesan hingga pukul sembilan malam, tidak bisa lebih larut karena ia bukan satu-satunya orang memiliki rencana untuk duduk di brasserie ini. Favorit di kota, tetapi sedikit yang benar-benar menghampirinya. Seperti berwisata ke Raja Ampat.

Di meja bar, Yumna menyelesaikan pesanan terakhir. “Kopi Wamena, hanya untuk Bira seorang,” ujarnya.

“Terima kasih.”

Yumna membiarkan Bira mereguk hasil racikannya. Kemudian ia melirik ke jam dinding. “Oke, waktu kerja gue sudah habis. Artinya,” Yumna menarik pelan telinga cangkir dari jemari Bira, “gue boleh bagi, dong.”

“Kapanpun.”

“Pahit, ya,” Yumna menyecap. “Ada banyak pilihan, sebenarnya. Kopi Toraja, Enrekang Cold Drip, semuanya, you name it. Kenapa harus kopi Wamena, Bira? Kenapa harus selalu ini?”

“Kenapa nggak, Yumna? Kalau ini yang membuat gue selalu mampir ke sini ketika cuaca lagi aneh-anehnya.”

“Cuaca di luar atau cuaca di sini?” telunjuk lentik Yumna merujuk dada Bira. “Tria bilang meja lo udah siap, dari sejam yang lalu. Kenapa nggak langsung ke sana?”

“Raga belum dateng.”

“Oke, gue cuma mau memastikan lo nggak kesepian aja karena gue harus cabut sebentar lagi,” Yumna melepas celemek hitamnya dan menghilang ke belakang, sesaat kemudian kembali dengan ransel bermotif lopapeysa. “Lo baik-baik aja?”

“Ditinggal sendiri di sini?” Bira memutar matanya. “Yumna, gue dua puluh tahun, dan gue menafkahi diri sendiri.”

“Maksud gue, in general, are you okay?” Yumna keluar dari meja bar dan menarik kursi untuk duduk di samping Bira. “Lo nggak kelihatan seperti Bira nyebelin yang gue kenal—yang punya nosejob radar dan suka niupin minuman orang pake sedotan. Kuliah baik-baik aja? Ada anak baru yang annoying lagi di redaksi? Apa karena Raga?”

“Semuanya baik, semuanya beres, semuanya rapi. Raga, kami bahkan habis jalan-jalan ke Baluran bulan lalu, untuk liputan utama. Kami naik kuda, ikut safari gratis, kemah di tengah savana, pulang-pulang dapet gaji dan bonus karena edisi Baluran bikin Periskop naik oplah sedikit di atas National Geographic, ya meski cuma seminggu,” Bira menjelaskan sambil memainkan cangkirnya yang setengah kosong. “And for the record, ini prestasi terbaik Periskop setelah edisi kapsul waktu dari Muntilan. Jadi, nggak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali ransel lo yang mau jebol itu.”

Fuck. Semua orang notice, ya? Harus cepet-cepet gue jahit lagi,” Yumna memeluk erat ranselnya. “Tapi bener, ya, Bira. Kalau lo butuh teman cerita: Yumna. Kalau lo pengen makan es krim duren tengah malem di Cikini: Yumna. Atau kalo es potong di Sabang: Yumna. LINE gue lagi error, sih. Tapi SMS masih relevan sama peradaban kita, kan?”

All is fine. Pergi sana.”

Anytime, ya. Awas lo. I’m still your other-half.

“Kayak lo ngerti aja artinya apa.”

“Artinya lo nggak boleh insecure di meja gue tanpa sepengetahuan gue. Bye!

Yumna menghilang di balik pintu yang kusennya dibalut mistletoe hingga ke eternit. Bira menghabiskan kopi dalam kesunyian, hingga ampas membentuk guratan-guratan abastrak di dasar cangkir.

Pada suatu maghrib saat meliput edisi kopi Belitung di kota kecil Manggar, Bira menemukan warung kopi yang sedang beralih rupa menjadi rumah bordil. Berkenalan dengan seorang perempuan peracik kopi yang sekaligus bekerja sebagai mucikari, ia diberitahu bahwa kopi dapat berbicara kepada manusia melalui ampasnya. Jika teh dapat ‘dibaca’ ketika daun-daun keringnya mengambang di permukaan, kopi menemui maknanya ketika ampas tersisa di dasar.

Sejak saat itu Bira tidak pernah melewatkan kesempatan membaca ampas kopi. Ia menatap ke dasar cangkir, mengangkatnya sedemikian rupa. Ampas kopi Wamena sore ini meyakinkannya untuk melakukan sesuatu yang sudah dipikirkannya baik-baik, sematang ubin granit yang dijerang matahari.

Masih merenungi pola di dasar cangkir, sepasang lengan memeluk lehernya. Sebuah kecupan mendarat di tengkuk, kemudian di belakang telinga kirinya. Masih ada tiga jam sebelum reservasi meja di Centhini Brasserie usai.

(Jakarta, 3 Agustus 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s