Dampar

beach-coast-daylight-632330

Kujelmakan dirimu dalam mendung yang bergelung rendah. Sayup-sayup daun kelapa berbisik. Namamu dinyanyikannya. Di sini, beralaskan bulir-bulir pasir kutumpahkan nasibku penuh-penuh. Sudah tidak bersisa lagi isi kaleng makanan dalam kotak darurat. Apa pula arti buku petunjuk bertahan hidup ini. Toh hidup hanya berarti bagi mereka yang masih menginginkannya.

Aroma api unggun malam itu masih melekat di kemejamu. Bodoh. Kau biarkan ikan tangkapanku terbakar hangus sementara kita bercinta hingga mengantuk dan lupa akan lapar. Namun tak apa, ikan masih bisa kutangkap. Sedangkan kau kini, bayanganmu saja tak berbekas. Toh hidup hanya berarti bagi mereka yang masih menginginkannya.

Mungkin inilah yang terjadi jika manusia tidak punya cukup keberanian. Untuk menolak tawaran sloki keempat tequilla, misalnya. Atau, dalam kasus ini, keberanian seharusnya hadir ketika dirimu masih di sini dan aku punya waktu seharian untuk mengatakan betapa aku tak pernah menyesal berakhir bersamamu. Karena sejak Tuhan mendamparkan kita di sini, sejak itulah hanya kehadiranmu yang kubutuhkan.

Kau mungkin bodoh, tapi aku pengecut. Pacsca pagutmu malam itu, kita hanya diam dan berbaring bertukar napas, menunggu api unggun mati dengan sendirinya, dan terlelap tiga jengkal jauhnya dari ombak pasang. Kulit bertemu kulit. Kaki saling mengait. Kuherankan tidak ada satupun kata yang terucap dari diri ini. Sepanjang malam aku memaki-maki diri sendiri, sembari memeluk tanganmu yang memeluk tengkukku. Kubiarkan diriku mendekat sedikit, sedikit lagi, hingga wajahku terbenam dalam tengiknya kemejamu. Kupasangkan kancingnya satu per satu, masih sambil memaki diri sendiri karena mulut ini tak kunjung membuka suara.

Menjelang pagi, kuberanikan diriku untuk menatapmu. Seperti yang sudah kuduga, kau terjaga sepanjang malam. Apa yang baru saja kita lakukan? tanyamu. Bukan apa-apa, sahutku, hanya sesuatu yang seharusnya tidak terjadi dan tidak dianggap terjadi. Di titik itu aku semakin menghina diri ini. Malah semakin ku jauh dari apa yang sebenarnya ingin kusampaikan.

Bintang fajar menggantung di pucuk tertinggi pohon kelapa. Dingin, gumamku pelan. Lompat dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain. Ada bagian dalam diri yang menyuruhku memutus rantai rasa ini, namun bagian lain mendorongku untuk semakin dekat, semakin tenggelam dalam gelap bola matamu.

“Kita harus segera pergi dari sini”, kau duduk melipat lutut, memandang ke atas. “Kukira semakin lama kita di sini, semakin gila kita bisa-bisa. Dua minggu, Maros, dua minggu kita terdampar di sini dan lihat apa yang sudah kita lakukan semalam!” tanganmu menebas bagian gosong kayu yang sudah dingin. “Tunggu satu minggu lagi, kita mungkin akan makan daging satu sama lain.”

Kusuruh dirimu pergi. Jika itu yang ingin kau lakukan, kubilang. Namun hanya ada dua kemungkinan jika seseorang meninggalkan pulau ini, yakni antara mati kemudian terjerat jaring nelayan, atau mati kemudian langsung dimakan ikan hiu.

“Oh, setidaknya aku punya dua kemungkinan, karena kamu hanya punya satu. Berdiam di sini, menunggu juru selamat yang mungkin akan datang dengan jubah hitam dan itu adalah malaikat kematianmu.”

Kutimbun amarahku. Kubiarkan kata-katamu merambat pelan hingga kemudian disaput debur ombak, seperti bayi-bayi penyu yang belum tahu getirnya hidup.

“Maros. Pohon kelapa di pulau ini bahkan tidak berbuah!”

“Kau tidak akan ke mana-mana.” Aku tak pernah berpikir.

“Tolol.” Kau melepas kemejamu. “Aku akan kembali mengambil ini. Jaga.”

Hal berikutnya yang kutahu adalah kurasakan getar takutmu melalui bibirmu di bibirku. Tanganmu di kepalaku, tanganku di kepalamu. Ketika aku ingin menahanmu lebih lama, kau genggam tanganku dan kau jauhkan dirimu.

Hanya dengan begitulah, kau ambil satu-satunya perahu karet yang kita miliki. Kau tinggalkan aku di sini dengan egoku yang mendesak meledak meneriakkan namamu. Dua meter selepas bibir pantai, kau menoleh dan berteriak padaku “Terkadang kita tidak bisa hanya sekedar menunggu!”

Dan kini sudah tiga hari. Aku tahu kamu sudah mati. Hilang ditelan buih. Atau mungkin hilang menjadi buih. Sayang, beginilah hidup. Semua orang akan mati memang pada akhirnya. Tetapi mereka yang kelewat batas akan mati lebih dulu. Mereka yang bermain aman, sepertiku, akan hidup lebih panjang.

Meski demikian, aku tidak bahagia, kau tahu? Aku sedih. Aku takut. Karena kau tidak di sini. Karena setelah badai ini berlalu mungkin aku juga akan mati. Karena sang pencari aman pada akhirnya akan menerima suratan yang ditentukan untuknya jua. Jadi, kubiarkan kau menertawaiku dari dasar laut sana. Apa yang tidak semestinya berpisah akan kembali menyatu, toh? Terimalah rasa iriku.

(Jakarta, 3 November 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s