Apostasi

adult-army-battle-171944

Senja menggantung rendah di kolong langit Pelabuhan Port Numbay. Bahtera raksasa KM Trembesi bermandikan cahaya matahari terakhir di bulan April, bayangannya tandas di dermaga. Kapal itu mengangkut barang dan manusia, mengangkut harapan dan nelangsa. Sepanjang sejarah, baru dua kali pelabuhan ini ramai di luar kebiasaan. Pertama, sepuluh tahun lalu, ketika Port Numbay dikarantina akibat wabah flu endemik. Kedua, hari ini. Loket dengan sepuluh petugas masih belum cukup untuk mengurai sulur manusia yang kian panjang. Kota ini terkutuk. Semua orang ingin pergi.

“Trembesi, untuk lima orang,” seorang pria menerobos barisan di depannya.

“Maaf, Bapak, Anda harus mengantri seperti yang lainnya,” Soe berkata. “Silakan, Ibu.”

“Trembesi! Untuk lima orang!” pria itu memaksa sambil mengepalkan tangan ke meja.

Perempuan yang diterobos mencoba maju mendapatkan kembali gilirannya, namun pria itu menyikutnya hingga jatuh ke samping. Terkejut melihat kejadian itu, Soe berseru, “Eh, Bapak! Jika Anda tidak bisa tertib, saya akan panggil petugas supaya Anda dikeluarkan dari sini.”

Namun, siapa yang mau mendengarkannya? Tiga orang pemuda tengah menyerang pria itu dengan papan pembatas antrian, tepat di depan loket. Tidak ada yang dapat dikendalikan. Terdengar klakson panjang dari dermaga, pertanda KM Trembesi, dengan tujuan Kupang, akan segera berlayar. Sebagian besar penumpang kapal itu akan melanjutkan perjalanan ke Australia sebagai imigran gelap. Ancamannya adalah hukuman mati, namun mereka tidak punya pilihan lain. Australia adalah satu-satunya negara terdekat yang belum meratifikasi Konvensi Wellington.

Mendadak batu seukuran genggaman tangan menghantam kaca loket hingga pecah berantakan. Batu-batu berikutnya menggenapi kehancuran ruang tiket. Soe terhentak ke belakang, sementara luapan manusia mencoba masuk ke dalam. Sebagian lagi menembus portal yang membatasi ruang tunggu dengan dermaga. Berlari bebas. Petugas loket berusaha menyelamatkan diri dari amuk dengan masuk ke ruang pegawai. Alarm meraung. Ruangan dipenuhi pendaran warna merah yang berkedip-kedip. Hendak berlari, sebuah tangan seketika menarik Soe ke belakang. “Soe! Soe! Kitorang harus segera lari dari sini. Ko ikut saya ke Kupang, setelah itu kita berlayar ke Darwin.”

“Cevnat, sa pu hidup su rumit!” Soe menarik tangannya. “Ko jangan tambah sa pu masalah, sudah!”

“Sa ingin ko selamat! Ko ingin mati di sini, kah? Ko tahu menga– awas!” Sebuah kursi melayang tepat ke arah Soe dari belakang. Dengan sigap Cevnat merangkul Soe ke bawah meja. Cevnat mengeluarkan keping hologram. “Ko lihat ini,” ujarnya sembari memperlebar tampilan tabir, kemudian membuka laman utama surat kabar nasional. “Ko baca. Port Numbay jadi kota pertama yang akan diapostasi. Esok pagi, Port Numbay akan sepenuhnya di bawah kendali Jakarta.”

Soe tampak ragu, sesaat ia mengintip ke arah dermaga di mana orang-orang tengah memanjat tambang, berusaha naik ke KM Trembesi. “Soe, ini satu-satunya kesempatan yang kitorang punya untuk bertahan dalam lingkaran Tuhan,” Cevnat meletakkan kedua tangannya di pipi Soe. “Hanya ko satu-satunya yang sa miliki di dunia ini. Kitorang harus pergi. Kitorang harus pergi.”

Soe membiarkan Cevnat memagut bibirnya. Soe menundukkan kepalanya, merengkuh tengkuk Cevnat dengan kedua tangannya. Merengkuh ayat-ayat yang meneduhkan hatinya, yang mengingatkan akan kasih, yang mengingatkan akan orang-orang yang mengasihinya.

“Cevnat, ko tahu, sa tra akan pergi tanpa mama,” ujarnya lirih. “Kitorang masih punya waktu. Pukul enam nanti akan siap KM Sumunar, tujuan Ende. Dari Ende kitorang bisa dengan mudah ke Darwin, toh?”

Cevnat akhirnya setuju dengan rencana itu. Keduanya bergegas ke ruang pegawai, tembus ke lapangan parkir. Dengan motor Cevnat, mereka lantas menerjang jalanan pusat kota yang riuh rendah. Kertas beterbangan. Semua orang turun ke jalan sehingga mobil tidak dapat bergerak. Asap hitam bergelung dalam diamnya yang menyalakkan tanda bahaya di sudut-sudut kota.

Pasukan berseragam lengkap dan dengan persenjataan sudah tiba di kota. Dikirim langsung dari Jakarta. Bintik-bintik hitam bagai jamur melayang pelan dari angkasa. Mereka datang dari berbagai penjuru. Di kejauhan, pekerja berseragam putih berkerumun melakukan sesuatu terhadap tembok kota. Cevnat mengambil jalan tikus. Di blok ketiga, mereka keluar gang dan langsung mengambil jalur cepat, menuju ke rumah susun tempat Soe tinggal bersama mamanya.

Cevnat menghentikan motor di balik sebuah kios pinang. Soe menyuruh Cevnat untuk menunggu di sini sementara ia naik ke atas. Cevnat menolak. Mereka berdua berjalan mendekati gerbang rumah susun. Namun kemudian langkah Cevnat terhenti. Soe bertanya mengapa. Cevnat menunjuk objek berkedip-kedip di sudut kiri dan kanan pekarangan.

“Ada yang tidak benar,” ujar Cevnat.

“Cevnat, kitorang harus segera selamatkan mama. Semua orang pi gila di mana-mana, sa tra mau ada sesuatu terjadi pada mama di dalam,” bantah Soe. Namun Cevnat masih menggengamnya erat. “Cevnat, lepaskan sudah!”

Soe mendorong hingga Cevnat jatuh ke belakang. Cevnat berusaha menarik Soe namun gadis itu telah berlari ke pintu masuk rumah susun.

“Kitorang harus cari pintu belakang! Soe! Ada yang tidak beres di sini!” Cevnat berteriak memanggil. Ia bangkit, mengejar kekasih yang tidak mendengarnya.

Dua meter sebelum pintu masuk, Soe terpelanting ke belakang. Badannya terbakar seketika.

***

Sambil menenggak ballo’, Jakob memperhatikan foto yang ada di balik bandul Cevnat. “Soe?”

Yang ditanya mengangguk pelan, kemudian membenamkan bandul itu di dalam genggamannya. Matanya memandang kosong ke arah hutan. Cahaya samar-samar dan kelabu asap terlihat dari kejauhan. Kota yang terkutuk.

“Abduksi?”

Cevnat menggeleng. “Mereka memasang tabir listrik di depan rumah susun tempat kami akan menjemput de pu mama.”

“Maaf. Saya turut berduka cita,” Jakob berujar lirih. Untuk mengimbangi perasaan bersalah, ia menawarkan ballo’. “Tegukan terakhir?” tawarnya. Cevnat menolak dengan halus, berkata bahwa ia sudah berhenti minum sejak Soe memintanya demikian setahun lalu. “Baiklah, padahal ini tidak memabukkan, lho. Beristirahatlah, Cevnat. Besok pagi kita akan pergi jauh.”

“Akan ke mana kitorang besok?”

“Hmm…” Jakob memandang ke dinding, “Rahasia, sebenarnya. Apa yang kamu ketahui tentang nadir?”

“Nadir, titik terendah…” Cevnat menggantung jawabannya, teringat bahwa nadir itu tak lain adalah hidupnya saat ini. “Titik terendah dalam hidup manusia.”

“Seratus tahun yang lalu, di pulau ini pernah ada sebuah tambang emas mahaluas. Orang-orang kaya yang bekerja dan memperoleh manfaat darinya tinggal di sebuah kota dengan perencanaan terbaik di republik ini, lebih baik dibanding Jakarta. Namun tambang itu bukan untuk sembarang orang. Bukan untuk kita. Begitu juga kota, sekolah, pasar, cahaya malam, dan segala kemakmurannya. Setelah emasnya tandas, tambang itu ditinggalkan. Nganga rasa malu berupa lembah raksasa yang dulunya adalah gunung menjadi bukti. Lembah itu begitu dalam, begitu rendah, selalu mengingatkanku akan rendahnya kemanusiaan dan dalamnya konsekuensi yang harus ditanggung oleh semua orang kecuali mereka. Seperti kita yang hingga hari ini pun masih hidup bagai paria di republik sendiri. Besok kita ke sana. Selamat malam, Cevnat.”

***

“Samarya Nainggolan dan Jakobus Supit siap melaporkan, Karaeng.”

“Silakan, Sam.”

“Hari ini, 30 April 2144, pukul 16:55 GMT +9, dalam perjalanan darat melewati pinggiran Port Numbay, kami bertemu dengan seorang warga sipil yang berhasil kabur dari okupasi Pasukan Apostasi dengan cara merusak tabir listrik di barat kota.”

“Identitas?”

“Cevnat Rumere, laki-laki, 21 tahun. Bertempat tinggal di Jalan Sonai 585, Port Numbay, Papua. Agama, Katolik.” Samarya menutup catatannya. “Sebagai tambahan, Karaeng, Cevnat adalah staf informatika di Electronym. Dengan kapasitas yang dimilikinya, kami rasa ia dapat mendukung pengembangan sistem jaringan di Nadir.”

“Saya yakin kita sudah punya sumber daya yang cukup untuk itu. Bagaimana keadaan terakhir Port Numbay?”

“Terisolasi penuh, Karaeng. Sejak sore tadi Pasukan Apostasi telah tiba di Port Numbay melalui jalan darat, udara, dan laut. Total yang dikirim dari Jakarta sekitar lima ribu pasukan, belum termasuk teknisi yang membangun kubah listrik di sekeliling kota, Karaeng. Malam ini, psikolog dan psikiater Jakarta akan mulai ditempatkan di Port Numbay. Diperkirakan sekitar dua juta warga sipil terjebak di dalam kota. Jam malam sudah mulai diberlakukan. Mulai besok pagi, Undang-Undang Apostasi akan sepenuhnya diterapkan. Dalam Peraturan Pelaksana terbaru yang disesuaikan dengan konteks Distrik Papua, warga akan dikumpulkan di rumah ibadah masing-masing untuk proses apostasi pada hari pertama. Abduksi akan dilakukan secara paksa bagi warga yang menolak program itu. Pemuka agama yang menolak apostasi akan dikenakan sanksi pidana, dengan kemungkinan terburuknya adalah eksekusi di muka umum. Buku panduan apostasi akan didistribusikan melalui perpustakaan pusat Port Numbay, hanya saja saat ini masih dalam proses pengiriman dari Bandung.”

“Apakah kamu sudah mendapatkan cetak biru apostasi di Port Numbay?”

“Prita sudah kami tempatkan di Port Numbay untuk memperoleh cetak biru apostasi. Paling lambat tengah malam nanti cetak biru sudah dapat kami terima. Sulit untuk melakukan pengiriman sejak Pasukan Apostasi memasang kubah listrik. Prita sedang mencari cara untuk menggunakan deep web agar IP address tidak terlacak oleh Jakarta. Jika mengacu pada Peraturan Pelaksana, okupasi akan berlangsung selama dua bulan. Di hari terakhir akan dilangsungkan pemeriksaan untuk memastikan indikator apostasi terpenuhi baik secara administratif maupun psikologis. Jika sudah demikian, maka Port Numbay akan dinobatkan sebagai kota bebas agama pertama di republik.”

“Karaeng, dapatkah kami mengakses daftar kota yang menjadi rangkaian apostasi untuk tahun ini?” tanya Jakob.

“Setelah Port Numbay, okupasi secara bersamaan akan dilakukan di Merauke, Timika, Wamena, Manokwari, dan Sorong. Setelah itu, program akan bergeser ke Distrik Aceh di barat seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Takengon,” Karaeng menjelaskan. “Informasi ini belum terlalu penting untuk kalian akses. Sekarang, fokuslah pada perkembangan di Port Numbay. Di mana kalian?”

“Pegunungan Cyclops, di barat Port Numbay. Kami menemukan sebuah kabin kosong untuk bermalam.”

“Baiklah. Selalu pastikan kalian berada di luar jangkauan radar Jakarta. Kembalilah segera ke Nadir setelah mendapatkan cetak biru dari Prita.”

“Siap, Karaeng,” sahut Samarya. “Kami bertiga akan tiba di Nadir besok petang. Jalan darat terlalu berisiko sehingga besok pagi kami akan berangkat dengan heli–“

“Kalian tidak perlu membawa Prita. Biarkan dia tetap berada di Port Numbay. Satu, dia dapat menjadi informan kita selama proses apostasi berlangsung. Dua, dia ateis, jadi dia akan baik-baik saja. Tiga, resiko menembus kubah listrik Port Numbay untuk menjemputnya berpotensi buruk pada keamanan gerakan ini. Berpikirlah cerdas.”

“Bukan Prita, Karaeng,” Jakob menjawab. “Kami akan membawa serta Cevnat.”

“Apakah tadi saya kurang jelas menyampaikan bahwa kita tidak butuh sumber daya manusia tambahan untuk sistem informasi?”

 “Karaeng, Anda melewatkan poinnya. Anak ini–“

Karaeng mengernyitkan kening. “Tunggu. Ini pasti bukan tentang sistem informasi?” 

“Mohon maaf, Karaeng. Selain karena memang kapasitasnya yang baik, kami sengaja bermaksud membawa Cevnat ke Nadir karena…” Samarya memandang Jakob. Keduanya tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan dengan kata-kata yang dapat diterima akal sehat. Namun, jika dipikir lagi, ini sama sekali bukan perkara logika. “Karaeng, kapan kali terakhir Karaeng membaca ramalan Jayabaya, tafsir pasca-nuklir?”

***

Di Nadir, tujuh belas level di bawah permukaan tanah, Karaeng duduk tertegun mendengarkan penjelasan Samarya. Ia memperlebar tampilan tabirnya agar dapat membuka ramalan Jayabaya, tafsir pasca-nuklir.

Pada bagian sinom, Karaeng membaca, “dene parege wong ndesa, akeh warninira sami, lawan pajeg mundak-mundak, yen panen datan maregi, wuwuh suda ing bumi, wong dursila saya ndarung, akeh dadi durjana, wong gedhe atine jail, mundhak tahun mundhak bilaining praja. Kukum lan yuda nagara, pan nora na kang nglabeti, salin-salin kang parentah, aretu patraping adil, kang bner-bener kontit, kang bandhol-bandhol pan tulus, kang lurus-lurus rampas, setan mindha wahyu sami, akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa.”

Pajak rakyat banyak sekali macamnya, semakin naik, panen tidak membuat kenyang, hasilnya berkurang, orang jahat makin menjadi-jadi, orang besar hatinya jail, makin hari makin bertambah kesengsaraan negara. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna, perintah berganti-ganti, keadilan tidak ada, yang benar dianggap salah, yang jahat dianggap benar, setan menyamar sebagai wahyu, banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.”

Samarya menimpali dari tabir hologram, “akeh ingkang gara-gara, udan salah mangsa prapti, akeh lindhu lan grahana, dalajate salin-salin.”

“Banyak hal-hal yang luar biasa, hujan salah waktu, banyak gempa dan gerhana, nyawa tidak berharga,” Karaeng menerjemahkan. “Namun, keadaan akan berubah ketika prabu tusing Weton, Raja keturunan Timur, hadir. Ia akan datang dengan ndadekke pesen katentreman, membawa pesan perdamaian. Kono ana pangapura, ajeg kukum lawan adil. Waktu itulah ada keadilan.”

“Cevnat Rumere, keturunan timur. Ia membawa psan perdamaian sebagaimana yang diramalkan Jayabaya,” Samarya mengirimkan foto profil tiga dimensi Cevnat. “Kata-kata pada tato di tengkuk Cevnat dikutip dari 1 Korintus 13: 4-6.”

Karaeng membaca dengan seksama. “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Kasih tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Karaeng berhenti pada kalimat terakhir yang membuatnya tercekat, “kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”

Jakob dan Samarya membiarkan Karaeng merenungi titik temu ini selama beberapa saat. Keduanya memahami bahwa momen spiritual tidak datang dan diterima secara langsung, tiba-tiba. Bahwa esensi utama dari gerakan bawah tanah Nadir adalah pencarian kekuatan untuk melakukan perlawanan. Kini mereka dapat melihat benang merahnya, berjuntai meliuk-liuk berpangkal pada seorang pemuda Port Numbay yang tengah getir hatinya.

Jakob melanjutkan membaca ramalan Jayabaya dengan membuka bagian dhandhanggula. “Nuli rena manahe wong cilik, nora ana kang budi sangsaya, sarwa murah tetukone, tulus ingkang tindandur, jamanira den jujuluki, gandrung-gandrung neng marga, andulu wong gelung, kekendon lukar kawratan, keris parung dolen tukokena nuli, campur bawur mring pasar. Sunya gegana tanpa tumingal, ya meh tekan dalajate, yen kiamat puniku.”

“Raja kecil yang gembira hatinya, tidak ada yang sengsara, murah segala-galanya, yang ditanam subur. Jaman ini dinamakan: gandrung-gandrung neng lurung andulu gelung kekendon lukar kawratan, kris parung dolen tukokna campur bawur mring pasar,” Karaeng menutup ramalan Jayabaya. Sudah ingat di luar kepala ia terjemahan akhir dari ramalan ini. “Hingga pada akhirnya angkasa sepi, tidak terlihat apapun juga, menandakan sudah hampir tibanya waktu kiamat.”

Jakob, Samarya, dan Karaeng berpandangan cukup lama tanpa cakap. Ini adalah saat ketika apa yang mereka yakini berkenlindan dari satu titik ke titik lainnya; ketika apa yang merupakan keadilan sejatinya adalah kata-kata manis bergelimun keputusan politik yang harus mereka lawan. Apa yang menjadi susila kini tercerabik oleh penegakan keadilan itu sendiri. Ke mana lagi manusia mencari penghiburan dan pengampunan? Ke mana lagi manusia memenuhi kebutuhan untuk menyampaikan lelah dan bahagia, serta sedih dan syukur, manakala hati ini tak sanggup menampungnya sendiri? Ke mana lagi manusia harus berdoa?

“Nadir akan menyambut kedatangan kalian bertiga.”

“Siap, Karaeng. Laporan selesai.”

***

Samarya dan Jakob tidak bisa tidur. Menanti kiriman cetak biru dari Prita yang akhirnya tiba pada sepertiga malam, mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu pagi sambil mengobrol di beranda, berteman dua botol ballo’ dan sedikit kesadaran.

“Bagaimana rasanya?”

“Saya tidak bisa memahami bagaimana Karaeng sangat tergila-gila dengan minuman ini,” ujar Samarya dengan senyum getir dan alis menyatu.

“Bukan, maksud saya, bagaimana rasanya mendapati Ratu Adil sedang nyenyak sepuluh meter dari tempat kita duduk saat ini?”

“Ah! Sesuatu yang akan saya ceritakan kepada anak dan cucu. Bahkan jika saya demensia, kejadian ini–dan termasuk kamu juga di dalamnya–rasanya tidak akan saya lupakan.”

“Saya akan merasa sangat terhormat jika bisa punya tempat di kenangan hari tuamu,” ujar Jakob.

“Kamu sendiri? Di suatu hari yang beraroma jahe di masa depan, apa yang akan kamu katakan jika cucumu datang dan bertanya tentang, ya, misalkan tentang hidup?”

“Ada dua kemungkinan. Apakah ketika itu gerakan Nadir berhasil, atau tidak?”

“Seandainya tidak berhasil.”

“Maka saya tidak mungkin sempat menjadi tua. Saya akan telah gugur di suatu tempat pada suatu perang. Perang salib pasca-nuklir, perang Badar pasca-nuklir?”

“Oh, Tuhan, kamu militan sekali. Seandainya gerakan Nadir berhasil?”

“Maka saya akan ceritakan semuanya.”

“Semuanya?”

“Semuanya. Supaya dia tahu betapa manusia dengan kekuasaan haruslah memiliki oposisi yang imbang. Kalau tidak, maka absolutismenya akan mengorupsi kemanusiaan,” Jakob  menjelaskan. “Saya akan cerita, zaman dulu, manusia berperang karena merasa agamanya yang paling benar, yang paling layak memonopoli Tuhan. Sisanya adalah sesat dan menyesatkan. Perang ini berlangsung terlalu lama. Sembari berperang, manusia belajar membuat senjata nuklir, hingga suatu hari senjata ini meniadakan belahan Bumi bagian utara dalam sekejap. Semoga Tuhan memberkati mereka.”

Bumi bukan lagi tempat yang sama seperti dulu ketika kakek dan nenek buyut kita lahir. Perubahan wajah Bumi berbanding lurus terhadap perubahan kepribadiannya, terhadap cara manusia-manusianya memandang pranata agama. Jika agama memang benar untuk kebaikan, maka katakan itu pada setengah populasi Bumi yang lenyap pada hari nuklir; katakan itu pada setengah populasi sisanya yang harus hidup bergelimun radiasi selama 25.000 tahun ke depan.”

Pada hari yang sama ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa dinyatakan gagal menjaga perdamaian dunia, dan kemudian dibubarkan, Konvensi Wellington dibuat di Selandia Baru. Terhadap negara manapun yang meratifikasi konvensi ini, maka dalam waktu dua tahun, negara itu harus memiliki kebijakan yang mewajibkan setiap warganya menjadi ateis atas nama perdamaian dan keamanan dunia. Tidak boleh lagi ada agama. Agama, apapun konsepnya, siapapun Tuhannya, adalah sumber kesengsaraan dan tragedi kemanusiaan.”

Negara-negara berkembang dipaksa secara politis untuk meratifikasi Konvensi Wellington dengan iming-iming bantuan internasional dalam menanggulangi dampak radiasi. Republik tidak dapat menolak. Republik mempertaruhkan lima ratus juta rakyatnya menjadi ateis dalam waktu tiga tahun melalui dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2144 tentang Apostasi. Jika undang-undang ini berhasil, maka republik akan terintegrasi dalam komunitas warga dunia. Jika tidak, maka pengucilan tanpa ampun menjadi konsekuensinya.”

Oh, satu lagi, dia juga harus tahu bahwa kakeknya ambil bagian dalam gerakan menggagalkan program apostasi di republik ini karena kakeknya percaya bahwa manusia yang tidak berani merdeka adalah manusia yang tidak berani bertanggung jawab. Dia harus tahu bahwa kakeknya–bersama dengan rekan kerja yang luar biasa seperti Samarya, Karaeng, dan Ratu Adil dari timur yang sedang tidur di belakang–adalah manusia-manusia yang ingin bangun pada suatu pagi dan punya kebebasan untuk memilih apakah ingin menyembah Tuhan atau tidak, punya kebebasan untuk memilih apakah ingin ke gereja atau tidak, punya kebebasan untuk berdoa atau tidak.”

Sejatinya, cucuku–begitu nanti saya akan katakan–ini bukan perkara siapa yang beragama atau siapa yang tidak beragama. Ini juga bukan perkara siapa yang menyimpang dan siapa yang disimpangi. Ini adalah persoalan siapa yang sedang kebetulan berkesempatan menjadi mayoritas dan memiliki semua kekuatan untuk menindas dan meninabobokkan manusia dengan puntiran kiri-kanan sejarah. Kami, melawan.”

Samarya tertegun mendengar tutur Jakob. “Cucumu berhak mendapatkan jawaban yang lebih sederhana.”

Pagi mulai merangkak menembus pekatnya Pegunungan Cyclops. Semak-semak gelap yang mengelilingi kabin kini terlihat bentuknya. Ada anggrek hitam, anggrek besi, anggrek janur kuning, anggrek kelinci, anggrek dasi. Gema kakatua raja dan kasuari hikmat dari tempat persembunyiannya. Seekor burung mambruk dengan beraninya berjingkat-jingkat ke depan beranda, mematuki biji-bijian yang diserahkan angin kepadanya.

“Ada warna-warni yang hadir ketika kita membiarkannya tumbuh dalam kebebasan, seperti Pegunungan Cyclops. Ada warna-warni yang hadir ketika kita melindungi dan menegakannya, itulah kemanusiaan.” Jakob menenggak tandas botol ballo’ terakhir. “Percayalah, Samarya, suatu saat dia akan mengerti.”

(Jakarta, 10 Januari 2014)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s