Verbatim

black-and-white-empty-public-transportation-172486

Dalam bentuk terbaiknya, rinai hujan adalah dimensi kata-kata yang purna sebelum waktunya. Gigil angin membawa kidung laksana rumpun awan hitam menenggang jenuh air. Jemari getir melukis nama di kaca jendela yang diburamkan embun. Jemari getir lelah menggenggam tunggu.

Hari ini two for Tuesday. Beli satu loyang specialty pizza ukuran apa saja dapat gratis satu lagi. Tondi sedang craving for it, katanya, makanya ia mengajak Badra makan di Domino’s. Namun tiba-tiba hujan turun, untuk kesekian kalinya di pekan ketiga bulan Januari ini. Badra melayangkan ikon kepala kuning berwajah sedih. “Hujan,” ia katakan. “Deres banget, kayak mau kiamat. Jadi, nggak?”

“Nggak usah ke Domino’s, deh. Daripada mati,” Tondi menjawab, tiga puluh detik berselang. “Lagi ngapain?”

Badra mengetik, “lagi bikin verbatim dari rekaman wawancara kemarin. Aku nggak ngerti siapa bicara apa di sini. Rekamannya busuk. Gimana mau nyalin kata per kata kalau gini ceritanya. Kamu ngapain?”

Lama tidak ada jawaban, Badra kembali tenggelam dalam verbatim. Sesekali ia beralih dari laptop dan alat rekamnya, mengintip ke layar ponsel. Last seen today at 4:12pm, demikian tertera di kiri atas layar. Sudah dua jam yang lalu. Ia menghela napas, mencoba berdamai dengan guruh dan renyah suara pepohonan yang diguyur hujan. Ponselnya bergetar. “Bukain pintu depan.”

Badra datang melemparkan Tondi sehelai handuk. “Katanya nggak usah ke Domino’s.”

“Iya, kamu nggak usah,” Tondi meletakkan hawaiian turkey dan beef mushroom di atas meja. “Kan kita bisa makan di sini. Saus tomat, dong?”

***

Menunggu commuterline terakhir di Stasiun Lenteng Agung, Badra melihat jam tangannya. Pukul 23.35. Dua menit lagi. Benaknya dirumung amarah. Bahunya terasa seperti dilekati dua besi berani yang saling tarik-menarik, meremukkan paru-parunya. Kian sesak dadanya.

Sebelum ini, ia telah menghubungi Tondi lewat telepon umum di samping loket. “Dari Stasiun Jayakarta, ke mana?”

“Nanti aku jemput. Kamu nggak apa-apa?”

Gemerisik suara Tondi bernada resah. Mendengar itu, Badra hanya terdiam, pandangannya mengembara ke kios koran di pinggir jalan yang tengah dikemas, ke puing-puing barisan toko kelontong sisa penggusuran, ke konstruksi jembatan penyeberangan yang belum rampung. Perjalanan ini harus diambil. Badra menjawab ia baik-baik saja, menyampaikan salam sampai jumpanya, kemudian menutup telepon.

Di dalam kereta, Badra duduk di pojok. Kereta terakhir menuju ke Jakarta Kota di malam Kamis, siapa yang punya kepentingan? Tidak ada penumpang lain selain dirinya. Ia mengintip ke gerbong belakang, ‘gerbong wanita’, deretan bangkunya merah cerah dan bersih, namun tidak ada yang menempati. Begitu pula gerbong di depan. Badra kembali tenggelam dalam pikirannya yang berontak dan redam silih berganti. Pelipisnya berdenyut. Ia memasukkan tangan ke saku depan hoodie-nya untuk menghangatkan diri.

Satu hal yang selalu ia lakukan, dan ini pula yang menjadikannya wartawan muda kepercayaan pemimpin redaksi Bentara Jakarta, adalah mudah larut dalam lingkungan sekitar. Hanya saja kali ini ia merasa akrab dengan dinginnya kerangka besi yang menyusun pegangan kursi dan bagasi atas. Ia ingin melekat, ia ingin menjelma. Bagaimana caranya agar menjadi kokoh dan liat? Bagaimana caranya agar menjadi bebas dan kebas?

Kereta berhenti di setiap stasiun. Badra masih duduk sendiri, hingga akhirnya di Stasiun Tebet seorang penumpang masuk. Selepas Stasiun Manggarai, kereta menanjak perlahan ke jalan layang. Badra memandang melalui jendela. Cahaya kota berpendar sendu dari kejauhan. Embun, refleksi diri di kaca, lampu-lampu jalanan, menara Metropole.

Seketika terdengar suara berdecit bagai rem mencengkeram roda-roda kereta. Badra tersentak, ia berpegangan pada tiang besi, sementara lampu dan layar plasma berkedip dan padam selama beberapa detik. Kereta baru saja berhenti tanpa peringatan.

***

Dinding dan lantai rumah sakit berwarna seperti susu vanilla bertabur bubuk teh hijau. Pekarangannya hijau royo-royo. Mungkin sengaja dibuat demikian untuk memberi rasa tenang kepada calon-calon ibu yang duduk–di bangku empuk berwarna hijau–sembari menunggu panggilan. Ruang tunggu bagian obstetri dan ginekologi.

Perempuan ini mengenakan daster batik parangrusak berwarna putih kelabu, kardigan coklat kayumanis, dan aroma bedak talcum seadanya. Hitam rambut sebahu dikuncir ke belakang. Lima bulan ini berat badannya telah naik hampir sepertiga dari berat semula. Namun bagaimanapun juga, tiap pagi gelar ibu tercantik selalu dikecupkan ke keningnya. Suami yang setia berada di sampingnya ke mana pun ia pergi, terutama di usia kehamilannya yang sudah setengah jalan ini. Ah, bicara tentang usia, perempuan ini baru menjelang tiga puluh tahun, sebenarnya.

Sambil menunggu namanya dipanggil, ia bersandar dalam lingkar lengan suaminya. Keduanya berdebat tentang mana yang lebih penting untuk diperdengarkan kepada janin laki-lakinya: Beethoven’s 5th Symphony atau Surat Ar-Rahman ayat 1 sampai 78. Merasa kalah, ia kemudian mengubah topik pembicaraan. Ia bertanya kapan suaminya akan mulai mengecat kamar untuk calon bayi. Ingin warna biru, katanya. Boks bayinya harus berwarna putih, dipasangkan kelambu dan mainan gantung tata surya yang bisa berputar sendiri. Bak mandinya juga belum dibeli, ia mengingatkan suaminya untuk mampir ke My Baby sepulang dari rumah sakit. Bak plastik yang warna biru stoknya terbatas, katanya. Suaminya sedang menimbang-nimbang, mengatakan dia mungkin harus pergi ke ATM terlebih dahulu.

Perawat keluar dari ruangan dokter. “Ibu Murni?”

Ah, namanya dipanggil.

***

Siang berawan di akhir bulan Desember, Badra tengah mengunduh Jesse & Celeste Forever sambil mengunyah Beefacon ketika Gun seketika muncul dari balik bilik menyerahkan selembar Terms of Reference. “Cuy, sorry ganggu torrent lo. Lo harus berangkat sekarang.”

“Apaan, nih?”

Sambil menunjuk lembar perencanaan peliputan itu, Gun berkata, “lokasi, nomor telepon narasumber, duduk perkara, semua ada di situ. Sorry juga nggak ada fotografer yang bisa nemenin. Jadi, ini kameranya.”

“Iya, tapi apaan, nih? Gue belum di-briefing. Lagian jatah liputan gue buat minggu ini kan udah abis. Gantian, lah.”

“Bad, lo jangan mentang-mentang jadi darling-nya Pak Sapta terus belagu gini, dong. Ini artikel cuma soft news, kok. Cuma feature. Semua anak rubrik juga kaget baru nemu ToR ini, keselip nggak tau di mana, padahal harus terbit besok. Sementara, semuanya juga mesti pada turun sekarang. Lo ngerti, kan?” Gun mendorong kertas itu ke arah Badra, kepalanya mendekat. “Please…”

Badra berputar dan kembali melihat laptopnya. “Feature? Itu sih tanggung jawab lo.”

I know, I know, I know, I know!” suara Gun meroket seketika. “Tapi sekarang gue harus liput Kamisan! Please, Bad, Please. Gue transfer jatah cuti gue bulan depan buat lo. Setengahnya!”

“Semuanya, nggak?”

Gun nampak menimbang-nimbang. “Ya–fine!

Badra memutar kursinya ke arah Gun yang berdiri lemas. “Tentang apa, sih?”

“Pembebasan lahan di Mangga Dua, kan–“

“Itu kan udah diliput kemarin, Gunnar, Gunawan, Gugun–“

“Bukan, bukan,” Gun memotong cepat. “Ini lebih difokuskan kepada yayasan yang membuka sekolah anak jalanan di lokasi sengketa pembebasan lahan. Mereka terancam. Lo lihat apakah ada kemungkinan mereka direlokasi, atau malah kegiatan mereka sebenarnya nggak dianggap sama Pemprov sehingga konsekuensinya ya mereka digusur aja gitu. Lo ke sana sekarang. Gue tunggu sampai nanti malam. Lo malaikat gue, Tuhan memberkati!”

Sore itu, Badra tidak berhasil menemui pimpinan yayasan yang sedang ujian akhir di Depok. Sebagai gantinya, Badra mewawancarai salah seorang pengajar yang baru selesai bertugas. Tondi, namanya. Sebelum wawancara, Badra menjelaskan bahwa ia sedang dikejar deadline, jadi seandainya Tondi mampu menjawab pertanyaan dengan kalimat yang efektif, itu akan sangat membantunya menulis verbatim. Tondi tertawa sambil bergurau bahwa ia sebagai mahasiswa hukum tidak pernah diajarkan demikian.

Beberapa hal menjadi catatan pinggir Badra, salah satunya: deru commuterline yang kerap datang lima menit sekali, mengganggu kegiatan belajar-mengajar. “Sejak tempat lama disegel Pemprov, kami pindah ke kolong Stasiun Jayakarta ini. Udah dua kali pertemuan, ya di sini,” Tondi menjelaskan. “Emang berisik, sih. Pungutan liarnya juga bukan main. Selama ini kami bayar pungli dari gaji mengajar, yang datangnya juga dari donasi. Tapi mau bagaimana lagi? Anak-anak nggak bisa jauh dari tempat kerjanya. Kami juga nggak bisa menyediakan atap buat berteduh dari hujan dan panas. Kecuali berak di kali, apa sih yang gratis di Jakarta?”

Hal berikutnya yang menjadi catatan pinggir adalah ketika Tondi berhenti bicara, minta off-the-record, dan bertanya merek pomade apa yang dipakai Badra.

Setelah mengambil beberapa gambar, Badra pamit. Ia katakan ingin secepatnya menyelesaikan artikel karena sudah ditunggu redaksi. Ia bertanya di mana tempat terdekat untuk mengakses internet. Tondi menjawab di sini banyak 7-Eleven, tinggal pilih mana yang paling sedikit premannya. Tondi menawarkan diri menemani. Badra tidak keberatan.

Hal berikutnya yang terjadi–dan ini luput dari catatan pinggir Badra–adalah bahwa ia tidak menyelesaikan artikel sebagaimana yang telah ia janjikan. Dengan keadaan verbatim yang baru tersalin setengah, Badra larut dalam cerita praktik perdagangan seks di rumah bordil berkedok warung kopi Belitung, di mana pekerjanya adalah gadis-gadis muda asal tanah Sunda yang dikapalkan dengan iming-iming menjadi TKI di Malaysia. Badra bercerita bagaimana mereka dengan canggungnya meracik kopi, serta bagaimana ia menghitung ada setidaknya dua belas bilik lengkap dengan kasur dan botol pelumas di belakang warung kopi.

Tondi, yang cukup lama mendengarkan, akhirnya bercerita pula tentang pengalamannya mengajar di tanah kering Soe, di mana untuk makan sekali sehari saja ia sudah untung. Tak jarang ia mengajar sambil menggigil kelaparan. Pada suatu hari dusun tempatnya bertugas terbakar habis, ia terpaksa membuka kelas di tenda pengungsian, berbagi lahan dengan gereja darurat.

Badra dan Tondi lupa akan waktu. Mereka membeli bir. Mereka membeli nori. Mereka menertawakan Azrax. Mereka berciuman.

Pagi harinya, Tondi menuliskan nomor telepon pada secarik kertas tisu. Badra, sembari berkemas dengan tergesa-gesa, menyimpan tisu itu dan berjanji akan menghubungi Tondi dengan segera. Tondi menggeleng, berkata bahwa itu bukan nomornya, melainkan nomor pimpinan yayasan. Just in case dibutuhkan untuk melengkapi wawancara kemarin sore, katanya. Badra mengangguk paham sambil meminta maaf. Namun Tondi menarik tisu itu lagi. Di baliknya, ia menuliskan nomornya.

***

Pendingin ruangan mati. Badra berdiri, menunggu penerangan kembali normal. Seperti biasa, mungkin ada pengalihan jalur sehingga satu rangkaian harus mengantri sebelum masuk stasiun, atau semacamnya. Namun deru commuterline lain tidak terdengar, pun tidak ada kereta malam yang melintas langsung. Ia menunggu hingga dua puluh menit, ia perkirakan, namun belum ada tanda-tanda kereta akan bergerak. Ponselnya mati. Sesaat ia coba untuk nyalakan namun tidak bisa. Diusapnya retakan pada layar ponsel. Ia bersandar sambil melambungkan ponselnya di udara, mencoba mengalihkan pikiran dengan membayangkan ekspesi wajah jenaka Tondi sehabis main the cinnamon challenge.

“Mas, sekarang jam berapa, ya?”

Badra menoleh ke arah sumber suara. “Maaf?”

“Sekarang jam berapa?”

Handphone saya mati, Mbak,” Badra menjawab. “Tapi mungkin sekitar jam dua belasan kurang.”

Perempuan itu mengangguk paham dan berdecak sendiri. Badra kembali sibuk dalam pelik pikirannya. Sesaat ia memutuskan untuk pergi ke gerbong masinis, maka ia bangkit berjalan ke rangkaian depan. Namun baru beberapa meter melangkah, ia sadar ia berada di dua gerbong terakhir. Masih ada enam sampai tujuh gerbong lagi yang harus ia lalui hanya untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya ia sudah tahu.

Mendadak terdengar suara seperti ingin muntah. Badra kembali ke gerbong tempat ia semula duduk, menghampiri perempuan muda yang tengah hamil besar itu terbungkuk-bungkuk. Badra menanyakan keadaannya, perempuan itu hanya menggeleng lemah. Ia meminta Badra untuk membuka ventilasi atas agar udara bisa masuk.

***

Murni menangis di pelukan suaminya. Rasanya ingin ia meringkuk di lantai, jika saja tak ada yang menahannya untuk tetap pada posisi. Di depannya, tangan kanan dr. Rosmini menggenggam erat tangan Murni, sementara tangan kirinya memegang laporan yang baru saja dibukanya. Janin laki-laki yang dikandung Murni, pada dasarnya adalah janin yang kuat dan siap lahir tepat pada waktunya. Kemungkinan besar zodiaknya Taurus, begitu dr. Rosmini memprediksi. Tidak perlu operasi. Tidak perlu pula melahirkan dalam air, terlalu mahal. Cukup melahirkan secara normal. Untuk itu, Murni diingatkan agar selalu mengonsumsi makanan kaya serat, mengurangi benar kegiatan yang menguras tenaga, dan sebisa mungkin selalu didampingi suami.

Hanya saja, dr. Rosmini menemukan lima belas inklusi trofoblas pada plasenta Murni, serta kadar testosteron yang melampaui batas dalam rahimnya.

“Ibu Murni,” dr. Rosmini mencoba mengulangi kalimat yang sama untuk kesekian kalinya. “Sekali lagi, ini hanya grafik potensi. Anak Ibu masih memiliki kesempatan untuk terlahir normal, tidak dengan autisme…” dr. Rosmini terdiam sejenak. Potensi autisme 98,7% pada janin Murni adalah vonis yang serius. Kata-kata apapun yang ia keluarkan, pada akhirnya akan terbang ringan menuju antah-berantah bagai remah debu disapu angin. Jauh di dalam batinnya, sebagai makhluk yang sama-sama memilki rahim, ia memahami betapa terguncangnya hati perempuan ini. “Ibu Murni, saat ini yang perlu kita pikirkan bersama adalah persiapan persalinan dan program terapi Ibu. Saya sangat mengharapkan Ibu mau bekerjasama di sini. Untuk kesehatan dan keselamatan anak Ibu, dan Ibu sendiri. Ya, Bu? Ya, Pak?”

“Silakan lakukan yang terbaik, Dok. Kami percayakan semuanya kepada Dokter,” suami Murni berkata, mencoba mewakili istrinya, dengan gemeletar suara yang tak dapat disembunyikan.

Murni melayangkan tatapan kosong secara bergantian pada kalender dinding, vas bunga, bingkai foto, dan lemari berkas, sementara dr. Rosmini bagai lesap di ruang kedap suara. Kepala Murni kemudian terbenam dalam dekapan suami. Isaknya mengguncang bahu. Ia ingat ketika sedang bulan madu di Pantai Carita, empat jam perjalanan motor dari Jakarta, ia menggunakan ranting untuk menggurat namanya dan suaminya di atas pasir. Sayang, sebelum suaminya datang melihat, ombak pasang kadung menyaput rata nama mereka. Terenggut, rasanya serupa. Hatinya remuk redam, serpihannya berpuntir bebas dalam ruang hampa.

Murni tidak mendengar apa yang dikatakan dr. Rosmini, sejauh ini ia hanya mengangguk saja.

***

Badra tidak dapat menolong dirinya sendiri ketika jemari Tondi mulai berkelana di punggungnya, pada tulang belakang yang berakhir di tengkuk. Ia biarkan rambut-rambut halus pada rahang Tondi mengulas lehernya, sekali lagi, hingga bibir itu dipagutnya perlahan, dalam derai hujan yang mewangi bunga saliara, dalam tetesan air yang menghidupi keluarga suplir. Badra membaringkan Tondi di sofa, sementara ia merebah di atasnya, memainkan ikal rambut Tondi, mendengarkan detak jantung yang berkelindan dengan sayup-sayup adzan Maghrib dan Bogor Biru.

Perlahan telunjuk Badra tiba di bibir Tondi, yang rapat dan serah. Ia mengangkat kepalanya, memandang lekat sepasang mata coklat mahogani yang seolah mengajaknya berenang lebih dalam. Tondi membelai rambutnya, bertanya apakah hari ini ia menggunakan American Crew. Ia mengangguk, menunjukkan wajah bingung seolah bertanya tahu-dari-mana. Tondi tersenyum, sejenis senyum yang membentuk lesung di pipi kanan dan kerutan halus di sekitar mata dan alis yang turun di kedua ujung terluarnya. Tondi katakan rambut Badra tidak selicin ketika menggunakan Murray’s.

Badra katakan Tondi bau seperti hawaiian turkey. Tondi mengangguk, aku tahu, jawabnya. Badra mendekatkan wajahnya, berbisik di antara bibir yang hendak berpalun, agar Tondi jangan merasa tersinggung, sesungguhya itu adalah pujian, karena kini ia mulai lapar lagi. Keduanya saling melucuti pakaian, berguling ke lantai, memburu nafas satu sama lain, purna dalam gelimun asmaragama.

 

***

Setelah berkenalan, Badra dan Murni duduk berhadapan dalam diam, canggung menunggu kereta yang tak kunjung bergerak. Untuk memecah kebekuan, Badra bertanya, “udah berapa bulan, Mbak?”

“Lima.”

“Oh, berarti udah pernah di-USG, Mbak?”

Murni mengangguk.

“Laki-laki apa perempuan, Mbak?”

“Laki-laki.”

“Oh…” Badra mengangguk pelan. Mungkin sudah cukup, sebaiknya tak ia lanjutkan usahanya untuk menjadi warga kota yang ramah. Hanya saja Murni kini menatapnya agak lebih lama, seakan-akan ia kerabat lama yang ditemukan kembali. Namun Badra mengira mungkin Murni hanya sedang menatap kosong, maka ia bergeser duduk bersandar menyamping, memandang menara Metropole di kejauhan dan kembali dalam pelik pikirannya.

Perlahan sayup isak tangis mengambang di telinga, merembes dalam kesunyian, kian lama kian kentara.

***

Badra mundur dari meja kerjanya untuk meregangkan tubuh, memastikan sendi-sendinya masih berfungsi normal. Ia menghapus recording file dari alat rekam satu per satu. Namun ada satu file yang ternyata belum diputarnya. Lantas ia kembali duduk dan memasang headset. Kepadanya diperdengarkan suara yang tidak asing lagi.

Badra pergi ke ruang TV, memindahkan lengan Tondi agar ia dapat bersandar di lingkarnya. Tondi menoleh, masih setengah terjaga ketika merasakan hangat tubuh Badra.

Itu lagu Pieces-nya Cider Sky, ya?” Badra bertanya.

Tondi mengernyitkan dahi, berpikir. “Oh,” ia menangkap maksud Badra. “Bagus, ya? Iya.”

“Kalau aku bilang jangan nyanyi, Ton, artinya jangan nyanyi.” Badra mengadu sorot mata Tondi. “Ngomong-ngomong, tape recorder itu properti pribadinya Badra. Udah tau?”

“Oh, ya?” Tondi menantang pandang.

“Oh, ya.” Badra mengangguk, mencium bibir atas Tondi, bersandar pada bahunya sembari mengganti saluran TV.

“Ton, sebenernya aku udah mikirin, sih…”

Tondi bertanya, apa. Badra menjawab, sudah tiba waktunya ia terbuka pada keluarga. Tondi memastikan tidak ada yang memaksa Badra untuk melakukan itu. Badra menggeleng, ia tahu, gumamnya. Tondi bertanya, apa yang membuat Badra berpikir sekarang waktu yang tepat. Badra terdiam, ia menangkup telapak tangan Tondi, mengisi setiap celah, mengusap buku-buku jarinya. Sesungguhnya jemari Tondi begitu pas dalam genggamannya.

***

Dengan langkah gontai, Murni dibantu suaminya keluar dari ruang dr. Rosmini. Di kafeteria, keduanya duduk dalam dunia masing-masing sembari mengaduk teh. Sejujurnya, Murni mengharapkan saat ini suaminya memeluknya, mengusap kepalanya, menyentuh pipinya yang basah, merengkuh bahunya, menggenggam tangannya, menjanjikan semuanya akan baik-baik saja, menjanjikan kesediannya untuk mendampingi, menyemangatinya untuk memulai program terapi. Tetapi suaminya tengah larut bersama teh dan gula.

“Kita jadi ke My Baby, Mas?”

Selang tiga detik, suaminya tersentak, seolah nyawa dan raga baru saja menyatu kembali. “Huh?”

My Baby? Kita jadi beli bak mandi biru yang di My Baby kan, Mas?”

“Oh. Aku lagi nggak megang duit sekarang, Mur,” jawabnya sambil memandang lekat pusaran air pada cangkir teh. Kemudian ia genggam tangan Murni sembari berujar lirih, “aku nggak bisa.”

“Ya udah, besok aja kalau begitu, Mas.”

Aku nggak bisa,” ujarnya lagi sebelum ia pamit pergi. Lima menit, sepuluh menit, Murni menunggu seolah-olah suaminya pergi ke kamar kecil. Tak lama ia menerima pesan teks dari suaminya yang harus menghadiri rapat mendadak, berharap Murni dapat pulang sendiri dengan taksi. Disampaikannya juga permohonan maaf dan pesan agar berhati-hati.

Murni tercenung pada ponselnya cukup lama. Lalu ia memandang kosong ke tanaman rambat di dinding kafeteria, merasakan angin yang berhembus melalui rambutnya, menyaksikan keluarga muda yang tengah menatah anak balitanya agar bisa melompat di batu-batuan setapak.

Dalam perjalanan keluar dari rumah sakit, ketika matahari sudah jauh bersembunyi di ufuk barat, Murni menyadari dua hal. Pertama, bahwa dompetnya ada di motor suaminya. Kedua, bahwa tadi ketika mengatakan “aku nggak bisa,” suaminya sedang tidak membicarakan bak mandi biru di toko My Baby.

Sembari mengantri kartu single-trip di loket Stasiun Tebet untuk commuterline terakhir, Murni memikirkan satu cara yang mungkin dapat memperbaiki semuanya.

***

“Aborsi?” Badra terperangah. Murni memintanya mengecilkan suara, meskipun keduanya tahu sepanjang rangkaian tidak ada penumpang selain mereka. Hanya saja mereka mengenal telinga tembus pandang, namanya norma.

“Waktu yang tepat ya sekarang,” ujar Murni sembari melepas kardigan coklat kayumanisnya, kemudian ia letakkan di atas kubah kecil perutnya. “Kalau sekarang, minum misoprostol masih bisa. Lewat dari lima bulan, nggak ada dokter yang mau ambil risiko.”

Badra membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, namun ia katupkan kembali. Tenggorokannya tercekat. “Apa nggak ada pilihan lain, Mbak?”

Murni tersenyum kaku sambil menatap Badra dengan mata yang memicing.

“Wah, saya emang nggak tau gimana rasanya jadi perempuan, Mbak,” Badra mengangkat kedua tangannya. “Saya nggak tau gimana rasanya PMS. Saya nggak tau gimana milih pembalut yang bagus, gimana rasanya mual waktu hamil, gimana rasanya menstruasi. Tapi saya tau–dan mungkin ini satu-satunya yang saya tau–bahwa setiap anak layak untuk hidup. Dan janin Mbak punya seratus alasan untuk tetap dilahirkan. Ini semua nggak masuk akal aja–“

“Tahu apa kamu!” Murni memekik, mencoba menahan tangis. “Tahu apa kamu…” ia berpegangan pada tiang besi, isak tangis pecah dari pertahanannya. Ia menarik napas, mencoba menopang kepalanya yang berat. “Pada umur tiga tahun, dia akan mulai menatap ke langit-langit ketika aku mengajaknya bicara. Pada umur empat tahun–ketika anak lain sudah mampu merangkai kalimat dan memanggil ibunya–ia akan masih berkutat dengan kata-kata yang sama. Di saat anak lain membuat kesebelasan kecil, ia akan duduk sendiri dengan boneka kudanya. Ia akan sensitif setiap kali disentuh, menangis tanpa sebab di sekolah, mengamuk pada gurunya.”

Pada umur enam tahun, ia akan sepenuhnya hidup dalam dunianya sendiri. Teman sekelas akan datang padanya dan memanggilnya dengan nama-nama yang akan membuatnya menangis. Ia akan berlari padaku suatu hari dan bertanya ‘Ibu, kenapa teman-teman memanggilku idiot?’ Dan aku hanya akan diam saja di sana, kehabisan alasan, mencoba mencari penjelasan yang mungkin tak akan sepenuhnya ia dengar, karena lagi-lagi ia hidup dalam dunianya.”

Saya akan duduk di kelas pada hari pembagian rapor, berpura-pura tidak mendengar ibu-ibu membicarakannya. Suatu hari akan ada guru yang mengeluh karena ia tidak memperhatikan pelajaran. Ya karena dia tidur di kelas, lah. Ya karena dia asik sendiri dengan penggaris dan penghapusnya, lah. Ya karena dia berbicara sendiri, lah. Dia akan terancam dikeluarkan dari sekolah karena…” Murni menyeka air mata di pipinya, “hanya karena dia terlahir dengan autisme.”

Murni memandang kosong ke pintu penghubung antargerbong, lalu ia menatap Badra. “Sekarang beritahu aku, bagaimana aku harus sanggup menyaksikan anak yang kulahirkan sendiri menderita hal sedemikian menyedihkan? Bagaimana pula hidupku dibuatnya? Bagaimana perkawinan kami dibuatnya? Punya anak bukan tanggung jawab yang main-main. Masuk akal, kata siapa? Terapi ini akan berakhir sia-sia. Dan jangan beranggapan aku nggak punya hak untuk menggugurkan kandunganku, ya!”

Badra mengangguk pelan. Tatapannya sinis. Senyumnya getir. “Saya kenal perempuan yang mirip banget sama Mbak. Persis!” Ia bangkit, berjalan pergi.

***

Sepulang kerja, ibu Badra membawa nasi goreng kambing Kebon Sirih kegemaran keluarga. Badra menyiapkan piring, sementara ayah memindahkan nasi goreng ke periuk. Ayah Badra hanya pulang dua minggu sekali, perusahaan minyak tempatnya bekerja sedang melakukan pemetaan potensi sumber minyak bumi di Lebak. Sedangkan ibu, ia pulang setiap hari, namun biasanya tidak secepat ini.

Badra meneguk segelas air, memerhatikan ayah yang hendak makan, memerhatikan ibu yang tengah mengambil cabe rawit, bawang merah, terasi, dan garam dari kabinet dapur.

“Yah, Ayah inget pesan moral dari Bawang Merah Bawang Putih?”

Ayahnya diam berpikir sejenak. “Bad, dongeng itu punya lima versi, kamu harus lebih spesifik,” jawab ayah. “Tapi dari semua cerita… ayah kira pesannya adalah, barangsiapa yang jujur, dia yang selamat. Kenapa emangnya?”

“Badra mau jujur, kalau gitu.”

“Ya. Kamu boleh ngerokok,” ayah berujar ringan. “Waktu seumuran kamu, ayah juga coba-coba. Nggak masalah, asal kamu tau kapan mau berhenti.” Ayah diam sesaat, menangkap kebingungan di wajah Badra. “Tadi ayah nemu bungkus rokok di kolong sofa. Nggak apa-apa.”

“Itu sebenarnya punya pacar Badra, sih–“

Ayah meletakkan sendok dan garpu ke piring.”Kalau anak perempuan ngerokok, baru ayah masalah.”

“Tapi pacar Badra laki-laki, Yah. Masalah… nggak?” Ia menyaksikan perubahan air muka pada wajah ayah, dalam gerak lambat seperti ketika Ben Whishaw dan James D’Arcy menghancurkan perabotan porselen di Cloud Atlas. Ibu berhenti melumat sambal. Badra menelan ludah, “masalah.”

Ibu meletakkan punggung telapaknya di kening Badra. “Kamu habis kehujanan?”

Badra menurunkan tangan ibu, membalas lembut tatapan khawatirnya. “Bu…”

Ibu tercenung cukup lama, hingga kemudian tersadar kembali. Ibu menutup mulutnya. “Ya Rabb. Kamu ini kenapa, Nak? Ibu udah bilang, hati-hati. Kerjaan kamu itu tempatnya orang-orang nggak beres! Ya Allah…”

Badra baru saja akan menjelaskan bahwa Bentara Jakarta sama sekali tidak berhubungan dengan perasaannya, meski benar kerjanya di sana memungkinkannya bertemu dengan Tondi. Tetapi poinnya bukan di situ, pikir Badra. Bagaimanapun juga ia tidak bangun pada suatu pagi lalu voilà, suka laki-laki. Sebelum ia dapat katakan itu semua, ibunya memotong, “ibu mau kita bikin janji sama dr. Arsan. Besok pagi kita ke Sanatorium Dharmawangsa.”

“Badra nggak pergi ke psikiater.”

“Badra! Dengar apa kata ibu kamu,” timpal ayah. “Kamu tahu kami berdua bekerja siang dan malam, bahkan sampai sering nggak pulang, itu untuk siapa? Untuk kamu. Kamu tau sekarang kamu itu apa, Badra? Kamu itu kekecewaan. Kamu mengecewakan ayah, kamu mengecewakan ibu. Jadi sebelum kamu sadar, ya, sebelum kamu paham betul kalau kamu itu sekarang ngomong kayak orang nggak beres, ya,” ayah menunjuk ke pekarangan depan, “kamu tidur di luar.”

Tanpa cakap, Badra bangkit dari kursinya, naik ke atas mengemas barangnya. Ia turun, mengambil sepatu, berjalan ke pintu depan. Ia melewati ruang makan. Badra mencari ibunya, namun ibu memalingkan pandangan. Ayah berdiri, mengatakan beberapa hal kepada ibu dalam bahasa kemarahan, kemudian meninju dinding. Badra mempercepat langkah. Ia keluar, membanting keras pintu di belakangnya.

Badra memang harus pergi. Ia berjalan cepat ke halte bus, menghubungi Tondi. Di tengah percakapan, ketika Tondi sedang menenangkan Badra, energi ponsel Badra habis. Badra gusar bukan  main, ia membanting ponselnya ke trotoar, cukup keras hingga layarnya retak. Badra jongkok untuk memungutnya kembali. Badra menyungkurkan diri ke belakang, duduk di trotoar, meraup wajahnya yang merah padam.

Dalam pejam matanya, Badra teringat akan pesta ulang tahunnya yang kesembilan. Ayah, seperti biasa, sedang mengeksplorasi minyak nun jauh di Biak. Ibu mengundang seluruh teman sekelas Badra. Ibu juga mengundang badut yang lupa cara memainkan trik telur menghilang. Kado-kado menumpuk di kolong perosotan. Kertas crepe warna-warni dicelupkan ke dalam air sampai luntur, menjadi mainan yang paling hits. Topi-topi kerucut dengan tali yang mudah putus bertebaran di lantai. Balon gas mengambang di langit-langit. Ketika Badra tengah berusaha meniup sembilan lilin yang tertancap di atas black forest–bukan lilin sembarangan karena ibu sengaja membeli cannot-blow-outcandle yang baru akan padam jika ditutup oleh kuncup plastik khusus–seorang teman yang tidak begitu Badra kenal bergumam di belakang telinganya, “makanya tiup yang bener, bencong!”

Ibu menarik anak itu keluar dari kerumunan, mengajaknya bicara dengan suara yang tak dapat terdengar dari kejauhan. Ayah dari anak itu datang bergabung dan nampak bersilat lidah dengan ibu. Badra mengintip resah dari balik kerumunan anak-anak yang tengah berebut potongan kue tart. Ibu nampak menunjuk-nunjuk keluar. Tak lama kemudian anak dan ayah itu pergi.

Badra bertanya mengapa. Ibu berdalih anak itu sedang tidak enak badan, lalu ayahnya bertanya di mana klinik terdekat. Badra tahu ibu tidak mengatakan yang sebenarnya, ia bisa melihat itu melalui sorot matanya. Badra memeluk ibu, mengucapkan terima kasih. Ibu hanya diam, membelai lembut kepala Badra. Ada rasa aman dalam peluk itu. Laksana perisai yang melindunginya dari anak-anak bermulut kasar. Perisai itu menerima Badra apa adanya.

Hanya saja kini Badra sangsi. Bagaimana jika perisai itu sebenarnya hanya tidak ingin dipermalukan? Ada perbedaan mendasar antara melindungi orang lain untuk orang lain dan melindungi orang lain untuk diri sendiri. Keduanya serupa, hanya tak sama sejak dalam pikiran. Bagaimana jika ibu, pada akhirnya, adalah bagian dari mereka yang berdansa dalam gelimang keabadian pesta topeng? Pesta apik yang baru saja Badra tinggalkan. Topengnya koyak berserakan di atas meja, bersama sisa nasi goreng kambing Kebon Sirih yang sebenarnya tidak enak-enak amat.

Bus datang, membawa Badra ke Stasiun Lenteng Agung.

***

Terpekur, Badra berdiri bergantung pada dua gagang plastik yang dipasang di tiang besi. Kepalanya tertunduk. Bahunya melengkung, seperti buluh layangan yang melayang-layang tanpa arah di langit, terbang tinggi, diulur dan ditarik tanpa ada kuasa untuk menentukan ke mana ingin pergi, hingga kemudian putus, lalu tersangkut di antah-berantah.

Dalam lamunannya, Badra merasakan roda-roda di bawah kakinya berdecit. Kereta mundur, lalu maju perlahan. Pendingin ruangan kembali berhembus. Badra menengadahkan kepalanya sembari mengehela napas, seolah berterima kasih kepada Tuhan–itu pun kalau ada.

Badra kembali ke gerbongnya semula. Murni masih duduk di bangku yang sama, memandang kosong ke jendela di depannya. Badra menaikkan ritsleting hoodie karena dingin udara mulai menggigit kulitnya. Ia berdiri di samping Murni. “Mungkin Mbak ada benarnya juga,” ujarnya pelan. “Bagaimanapun juga, saya cuma orang asing yang kebetulan terjebak sama Mbak di kereta mogok ini. Ya, intinya, saya nggak punya hak sedikit pun buat ngasih tau apa yang seharusnya Mbak lakukan. Apalagi menghakimi keputusan yang Mbak ambil. Saya minta maaf.”

“Sudahlah. Saya yang seharusnya minta maaf. Kan saya yang curhat duluan.”

“Curhat colongan, ya, Mbak?”

“Iya, kurang-lebih,” Murni tersenyum. Ia bergeser, memberi tempat Badra untuk duduk.

“Saya juga habis mengalami hari yang berat, Mbak. Pikiran saya nggak karuan. Jadi maaf ya kalau tadi saya lancang, sampe bilang Mbak licik segala.”

“Kamu nggak bilang saya licik, kok.”

Badra terkesiap, “berarti tadi baru sampe di pikiran aja, Mbak. Duh…”

“Terkadang kita memang butuh dimaki ya biar sadar,” ujar Murni sambil tertawa. “Tadi kamu bilang, janinku punya seratus alasan untuk tetap dilahirkan. Apa aja, emang?”

“Apa, ya? Banyak, Mbak.”

“Apa?”

“Saya nggak tau sih, tapi, kayak, misalkan…” Badra berpikir keras. “Supaya bisa liat sunset, mungkin? Atau sunrise? Supaya bisa liat bintang jatuh, bisa baca Lima Sekawan, supaya bisa main api unggun, naik jet coaster, makan gummy bears, bikin istana Lego, nulis nama di kaca yang beruap, main Uno pake bedak, selfie pake Lomo–itupun kalau masih jaman–bikin inside jokes, ikut drum band, terima salam tempel waktu Lebaran, gandengan sama pacar, mencari jati diri” Badra mengangkat kedua bahunya, kehabisan kata-kata. “Lebih dari seratus, kayaknya, Mbak. Tapi–kembali lagi–janin Mbak, hidup Mbak.”

“Terima kasih, ya.”

“Mbak turun di Jakarta Kota?”

“Iya, kamu di mana?”

“Di sini. Saya duluan, ya.” Badra berdiri, melihat papan nama Jayakarta muncul sekelebat melalui jendela. “Seandainya, Mbak, seandainya ada USG yang bisa mendeteksi orientasi seksual, lalu janin Mbak ternyata gay, apa Mbak mau aborsi juga?”

Yang ditanya tak diberi kesempatan untuk menjawab. Pintu kereta kadung terbuka, lantas Badra menghilang di temaram peron.

***

Kerang-kerang pantai yang digantung di atas pintu beradu satu sama lain ketika Tondi masuk membawakan coklat panas. Badra mengucap terima kasih sembari menyambut cangkir, meneguknya sekali. Tondi duduk di sebelahnya, melipat tangan untuk menghalau dingin hujan.

“Cepat atau lambat mereka harus tau aja sih, Ton…”

“Kenapa begitu?” tanya Tondi sembari menerima coklat panas Badra dan menyeruputnya.

“Kenapa enggak begitu?”

Tondi terpekur agak lama. Kata-kata Badra meragas di udara. Keduanya bersandar satu sama lain menyaksikan bulir-bulir air menempel di jendela, berkilau bagai mutiara dibias lampu jalanan, lalu membentuk bayangan bercak-bercak di dinding kelabu.

“Ayo tidur. Besok pagi kamu mungkin mau telepon mereka? Biar mereka nggak khawatir-khawatir banget.”

Badra menatap nanar, “apa yang aku pikirin ini bener, ya?”

“Apa itu, Bad?”

“Nggak tau sih, tapi, kamu kayak nggak pernah bener-bener mendukung niat aku buat coming out?

Tondi menggelengkan kepala, bertanya apa maksud Badra mengatakan demikian.

“Kamu nggak bilang apa-apa waktu kali pertama aku bilang pengen coming out. Kamu juga nggak bilang apa-apa sekarang, kecuali malah minta aku telepon mereka? Bayangin gimana rasanya diusir sama orang yang pulang ke rumah pun cuma dua minggu sekali, Ton. Kemudian ibu, orang yang paling aku harapkan untuk ada di saat kayak gini, bahkan nggak mau ngeliat aku lagi.”

“Badra…”

Ia berdiri, “kamu tau aku lagi mikir apa? Aku lagi mikir kayaknya kamu sekarang ngeliat aku persis kayak ngeliat orang paling ceroboh di dunia. Kayak anak kecil yang nggak pake mikir sebelum main korek api, terus ngebakar rumah, terus bikin susah orang–“

“Kamu kok nangkepnya–“

“Ya, kan?” Badra mengangkat kedua tangannya. “Kamu ngerasa keberatan udah mau nampung aku–orang yang super gegabah ini? Atau jangan-jangan, jangan-jangan, kamu pikir aku berani coming out karena aku toh bisa mengandalkan kamu kalau ada apa-apa? Wow!”

“Badra dengerin gue!” geram, Tondi bangkit dari lantai. “Kalau lo berpikir gue nggak peduli, lo salah memahami gue. Tapi kalau lo berpikir gue menilai lo ceroboh, awalnya sih enggak. Sekarang, gue mulai berpikir demikian. Gila ya, Bad. Lo nggak bisa tiba-tiba coming out dan nuntut supaya semuanya baik-baik aja! Coba lo bayangin gimana perasaan ayah-ibu lo sekarang, yang lagi syok karena tau anak semata wayangnya gay. Kalau lo mengerti kenapa orang-orang kayak kita nggak ada yang berani gandengan tangan–apalagi ciuman–di depan umum, harusnya lo juga mengerti kenapa reaksi orang tua lo kayak gitu.”

Lo mengharapkan habis coming out mereka bakal merangkul lo seolah-olah lo dapet ranking satu di kelas? Lo tinggal di mana, Bad? Lo nggak tinggal di San Francisco, dan lo bukan Harvey Milk!” Tondi berjalan ke arah jendela. “Ya, seandainya lo menganggap gue pengecut karena nggak coming out sampai kapanpun–bahkan sampai Sinabung meletus sekalipun–itulah jawaban gue. Lagipula berpikir buruk ke semua orang nggak bikin keadaan jadi lebih baik, Bad. Egois.”

Hujan telah berhenti tanpa keduanya menyadari. Tondi dan Badra mengabaikan ketuk tetes terakhir hujan yang merembesi langit-langit, mengisi jarak di antara kesunyian. Tondi menghela napas, duduk di kursi. “Mohon maaf, Bad, tapi perkara coming out ini sepenuhnya adalah perjuanganmu. Aku nggak ingin ada di dalamnya.”

Badra pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Malam itu ia tidur di kursi pekarangan belakang rumah susun tempat Tondi tinggal. Sebelum terang tiba, ia terbangun, menarik selimut sekepala karena dingin yang melutu tubuhnya. Namun kemudian ia terjaga, menyadari selimut itu tidak ada tadi malam.

Melawan dingin, ia kembali ke lantai empat. Pintu ditinggalkan tidak terkunci. Badra masuk, mengintip Tondi yang tengah terlelap di ranjang. Ia berjalan ke dapur, tidak menemukan apapun di kabinet kecuali sekantong kresek mie instan. Sembari menunggu air mendidih, Badra meringkuk, membelakangi Tondi.

“Kalau lapar, di dapur ada mie,” Tondi berujar dengan suara serak dini hari.

“Kamu mau berapa?”

***

Ruang rapat redaksi Bentara Jakarta riuh rendah pagi itu. Banjir menjadi topik utama yang dibicarakan–atau, lebih tepatnya–diributkan. Sementara informasi terbaru mengenai titik banjir dan lokasi pengungsian terus diterima dan muncul secara bergantian di layar proyektor, Sapta membagi tugas peliputan.

“Badra,” Sapta menulis namanya di papan, pada kolom headline. “Proyek sodetan Ciliwung-Cisadane diprotes karena dianggap tidak efektif dibandingkan waduk. Walikota Tangerang minta keputusan itu dikaji ulang oleh Kementrian PU dan pemimpin Jabodebek. Nah, kabarnya walikota Tangerang ini dapet back-up dari warga Teluk Naga, Kosambi, dan Paku Haji. Kamu klarifikasi kabar ini ke pihak-pihak terkait. Minta semua kontak ke Omar, dia turun ke Tangerang kemarin. Witra! Witra, kamu ambil foto buat liputan ini, ya! Deadline sore ini. ToR-nya kamu yang bikin, Bad, serahkan ke meja saya satu jam dari sekarang.”

Badra lari bergegas ke meja kerjanya ketika Gun muncul. Badra menerobos, mengangkat kedua tangannya “Nggak sekarang, Gun. Hidup gue sedang rumit.”

“Ada yang nyariin di bawah, security bilang,” ujar Gun sambil mendengus jengkel.

Badra meraih ponselnya, menekan angka 5 untuk panggilan cepat ke Tondi. Ketika Badra terbangun tadi pagi, Tondi sudah tidak ada. Di kulkas, Tondi meninggalkan pesan sedang pergi belanja kemudian mampir ke yayasan. “Maaf aku nggak bisa turun, mesti bikin ToR. Kunci rumah aku tinggal di bawah keset, kok. Ada apa?”

“Iya,ini aku baru masuk rumah,” Tondi menjawab. “Kamu udah di kantor, ya? Ada apa telepon?”

***

Murni duduk dengan sabar, menunggu namanya dipanggil. Ia hendak mengambil koran yang digantung di rak ketika kepala perawat menyembul dari balik pintu ruang dr. Rosmini, tersenyum kepada satu-satunya pasien yang datang sepagi itu.

“Apa kabar, Ibu Murni?” dr. Rosmini menyalaminya. Murni tersenyum, menjawab ia baik-baik saja. Sambil membuka rekam medis Murni, dr. Rosmini bertanya hal-hal ringan seperti bagaimana kabar Murni, bagaimana perasaannya, bagaimana tidurnya, dan–yang tidak mungkin tidak ditanyakan–di mana suaminya.

Menjawab pertanyaan terakhir itu, lagi-lagi Murni hanya tersenyum. “Suami ada panggilan meeting, Dok. Jadi saya cuma diantar sampai depan sini,” ujarnya sambil meremas kartu single-trip commuterline. Nyatanya, pada hari Murni mengatakan ingin meneruskan kehamilan, suaminya pergi meninggalkan rumah dengan dalih ingin menjernihkan pikiran dan ‘memikirkan yang terbaik’. Tiga hari berlalu, jemari Murni masih menyentuh kehampaan di sisi ranjang suaminya.

“Jadi sudah siap ya, Bu Murni, kita akan ambil program terapi,” dr. Rosmini memastikan. Yang ditanya mengangguk pelan. “Sebenarnya akan lebih baik jika pada pertemuan ini suami Ibu hadir sehingga pengambilan keputusan bisa dilakukan saat ini juga. Tapi kalau begini ya sudah, saya jelaskan sekarang, nanti di rumah Ibu bisa berdiskusi dengan suami, ya? Jadi begini, Bu Murni, ada beberapa program–“

“Anak satu-satunya, Dok?”

Tersentak, dr. Rosmini berhenti menatap rekam medis Murni, ia menoleh ke foto berbingkai kaca yang dimaksud Murni. “Iya.”

“Ganteng, Dok.”

“Ah, Bu Murni bisa saja,” sambil menahan senyum, dr. Rosmini mengangkat foto itu. “Suami saya tidak pernah mau ambil cuti kalau sudah keasikan kerja di pelosok. Juni tahun lalu, dia ambil cuti panjang. Saya juga. Akhirnya, kami bertiga berangkat ke Lombok. Sampai Senggigi, kami lanjut ke Gili Trawangan naik perahu jukung, berencana menginap di sana untuk beberapa hari. Namun baru sampai di pantainya, saya dan suami sepakat agar kami kembali lagi ke Senggigi. Pasalnya, kami lihat bule-bule telanjang–bener-bener nggak pakai benang barang sehelai, Bu–berjemur di pantai. Nggak beres ini, kami bilang. Anak saya tidak mau balik, dia bersikeras–memaksa, lebih tepatnya–agar kami tetap menginap di sana. Dia bilang kami punya seratus alasan untuk tetap bermalam di Gili Trawangan.”

“Oh, jadi akhirnya Ibu Dokter sekeluarga menginap di Gili?”

“Ya, ndak toh. Ngeri kami nginap di tempat kayak begitu. Jadi ya, langsung saja kami tarik dia masuk ke perahu,” dr. Rosmini tertawa. “Tapi biar dia tidak ngambek, kami bikin foto bertiga di sana. Setidaknya dia jadi ada kenangan, kan? Lagipula, ngumpul sekeluarga seperti itu susahnya bukan main. Apalagi kalau anak sudah besar seperti sekarang,” dr. Rosmini tercekat pada kalimat terakhir. Ia menelan ludah, lalu mengembalikan foto ke tempatnya. “Ya, begitulah kalau punya anak, Bu Murni. Kita selalu ingin yang terbaik untuknya, tapi terkadang dia punya jalannya sendiri. Kalau sudah begitu, ya, kita harus banyak berdoa saja. Bagaimanapun juga dia anak kita. Dia keluar dari rahim kita, dia buah sakit dan senang kita. Apa yang sudah diberikan Gusti Allah tidak bisa kita tolak. Bukan begitu, Bu Murni?” bergetar, dr. Rosmini memaksakan senyum. Apakah ia sedang menasihati Murni atau dirinya sendiri, ia tak yakin.

“Lalu, seratus alasan untuk tetap bermalam di Gili itu apa aja, Dok?”

“Wah, apa ya? Saya nggak mendengarkan waktu itu.”

Murni membelai lembut perutnya yang semakin besar, buah hati–yang ia janjikan dunia–menggeliat lagi. “Saya mendengarkan, Dok.”

(Jakarta, 20 Januari 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s