Pawaka

bonfire-burn-burning-776113

Mungkin hati ini tidak terbuat dari api. Ia senang mengembara di tengah pastura kala matahari terbenam, hidup dari debur ombak yang mendamparkan mutiara dalam tiram, bahagia di bawah pendar langit semalam.

Mungkin hati ini tidak terbuat dari api. Ia tidak mengukus penantian hadirmu dalam keharusan, tidak merebus nafsu pada titik yang meleburkan, tidak menghanguskan ketidaksempurnaanmu dalam penuntutan.

Mungkin hati ini tidak terbuat dari api. Ia waspada dalam mengenalmu, sederhana dalam memahamimu, gusar dalam ketidakacuhanmu, bisu dalam kelembutanmu, tuli dalam menerima kejujuranmu, buta dalam memagutmu.

Mungkin hati ini tidak terbuat dari api. Ia hanya ingin memelukmu erat dalam dingin malam tanpa bintang, meski hari akan kembali terang dan rasa ini harus diikat, dibungkus pulang. Ia hanya ingin berbisik di telingamu ketika fajar menembus teralis, pagi telah tiba, kau harus pergi sekarang.

Mungkin hati ini tidak terbuat dari api. Karenanya, ia tidak menjalar membakar nalar ketika kau bilang sayang. Ia termangu dalam kelindan dua tubuh yang berbaring di bawah bayang. Aku harus bilang apa, hati ini bimbang. Kau telunjukkan bibir ini agar diam dan tenang. Segan hati ini hilang, ia terbang.

(Jakarta, 13 Juli 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s