Burai

blur-bright-bulb-517985

Hangat hembus napasmu pada wajahku menyiratkan sesuatu yang hendak kau burai, lewat tengah malam. Bentang langit selatan tak pernah menarik hatimu karena tak kau sesalkan lintang kemukus melintas terbakar di belakang punggungmu.

Hadirku, satu-satunya perhatianmu. Barang tentu tiap kata yang kau ucapkan harus menari-nari terlebih dahulu di bawah temaram lampu kertas sebelum ia jatuh, acak tak bertuan. Dalam dekatnya teduh pandangmu, dalam senyap pagutmu, kupahami mengapa terhadap pertanyaan tak usahlah dijawab pada waktunya.

Kau teruskan, “sementara Centhini hilang pada bersatunya kembali Tambangraras dan Amongraga, Madilog mengakhiri hantu dan dewa pada manusia dan moralnya yang nyata.”

(Jakarta, 15 November 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s