Gandrung

ancient-antique-architecture-280395

Pada tanggal 4 Oktober 1582, penduduk Spanyol, Portugal, Polandia, dan sebagian besar Italia pergi tidur seperti biasa pada malam hari.

Anom selalu memintaku menceritakan isi buku yang baru selesai kubaca, mulai dari fiksi tentang seekor anjing bernama Winn-Dixie hingga kumpulan gagasan lesbian muslim reformis. Meski matanya memantulkan ketidakpahaman, ia berusaha mengikuti ke mana kata-kataku bermuara. Lalu ia akan menarikku keluar untuk menyaksikan planet Venus di pagi hari. Atau, di lain waktu, ia akan memintaku duduk bersamanya di dermaga suatu pelabuhan tua bernama Galesong di mana bahuku dijadikannya tempat bersandar sementara matahari menarik diri kepada bulan yang menerangi jalan kami pulang.

Mereka terbangun 10 hari kemudian.

Kini, bukankah kami hanyalah bintang-bintang tersesat yang mencoba menerangi kegelapan? Pada tiga dimensi kami masing-masing, hidup adalah kenyataan di mana bantal sebelah tak lagi hangat dan sikat gigi tak lagi dua. Toh di dalam bus, aku mendengarkan nyanyian pengamen riuh mengutuk parlemen, betapa hidup ini tidak pernah sesendiri itu. Toh aku mendengarkan Angus & Julia Stone dan tetap yakin mereka berkata “I wanna take you for a ride on a big jet fun” dan bukannya “I wanna take you for a ride on a big jet plane,” hanya saja aku tak punya lawan berdebat. Toh aku berjalan kaki dari bundaran hingga Stasiun Sudirman, tetap mengagumi cahaya yang dijatuhkan jendela gedung kepada pedestrian—meski kesepian menyapa di pojok bayang antara dua tiang lampu kota.

Peristiwa tersebut bukanlah mukjizat abad pertengahan.

Gandrung membalikkan badan, menyadari aku masih terjaga. Mengapa, tanyanya. Sembari menatap lekat langit-langit, kucoba menenteramkan pikiranku dalam tertib dan diam. Gandrung bergeser meletakkan lengannya di bawah kepalaku. “Kamu masih belum bisa melupakannya?”

Paus Gregorius XIII memastikan kalender Gregorius menggantikan keberlakuan kalender Julius sejak tanggal 4 Oktober 1582.

“Aku ingin sendiri,” kataku. Perlahan Gandrung menarik kembali lengannya. Kukira ia sudah tidur ketika tak lama kemudian kurasakan dadanya pada punggungku, dan tangannya pada bahuku. Hangat tubuhnya tak seperti Anom—aroma tubuhnya juga. Tak bisa kukatakan mana yang lebih kusuka. Namun ketika ia daratkan kecupnya pada tengkukku, tak bisa kularang pikiranku untuk menginginkannya.

Dalam transisi kedua sistem kalender tersebut, terdapat celah yang mengharuskan sepuluh hari setelah tanggal 4 Oktober 1582 dihapus dari kalender.

Perlahan Gandrung melucuti pakaianku. Ia telusuri tulang belakangku dengan bibirnya. Kulapangkan jarak kedua kakinya hingga ke pangkal. Pada mulanya ia memagutku dengan lembut, namun ketika napasku dan napasnya mulai memburu, ia mendorong pelan bahuku untuk turun sedikit ke bawah. Bintang-bintang yang tersesat, pada saatnya akan mati dan menghisap apa yang ada di sekelilingnya. Dengan napas yang tertahan, ia melingkarkan lengannya di leherku. Kini ia menimpaku, dengan pipi kami melekat satu sama lain dan tangan bergenggaman di bawah wajahku yang menghadap ranjang. Melenguh bagai ternak, genggaman tangannya mengeras, bibirnya bergetar, tubuhnya mengejang hebat. Seperti suatu ledakan yang melahirkan kembali bintang-bintang. Berpeluh, kubiarkan ia kemudian membalas budiku.

Demikianlah mengapa tanggal 5 Oktober 1582 tidak pernah ada.

Gandrung menceritakan padaku suatu trivia mengenai bagaimana tanggal 5 Oktober 1582 luput dari sejarah. Sambil mereguk kopi, ia berujar bahwa dalam suatu transisi, terkadang kita memang perlu menghapus beberapa hal—bahkan menganggapnya tidak pernah ada. Aku tidak tahu mana yang lebih ia maksudkan dengan perkataannya itu, apakah kalender Gregorius atau Anom.

(Jakarta, 23 November 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s