Malu

art-city-city-lights-327064

Maka aku malu meski aku rindu, ketika angin yang dihempas kereta rel listrik tujuan Bogor terakhir malam ini membisikkan namamu. Kepada bayang-bayang liyan yang meringkuk di sudut gelap persimpangan Pasar Minggu kutitipkan hangat pelukan yang sebenarnya untukmu.

Lalu terserah awan pekat, yang timbul dan muncul di atas bujur-lintang kabel telepon yang menaungi jalanku pulang, sekiranya memikirkanmu adalah siksa karena lidah ini kelu meski tak bisu. Abaikan saja hati yang belum selesai, yang masih menimbang keinginan untuk menjadi milikmu.

Maka aku malu meski aku rindu, ketika kupandang lama bulan setengah bulat di sudut kanan atas bingkai jendela yang kau lewatkan karena kita tak jadi bertemu.

(Jakarta, 14 Desember 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s