Sirkuit Malam

action-asphalt-back-light-434450.jpg

Ramos menghentikan motornya di seberang stasiun, diapit dua gedung ruko yang tutup. Waktu menunjukkan pukul sembilan, kereta menuju kota seharusnya sudah lewat. Ramos tidak takut kegelapan, hidupnya yang keras telah bersahabat lama dengan jenis itu. Maka ia heran mengapa malam ini gundah menggeligit benaknya.

Tengah ia rapatkan jaket kulitnya ketika seorang lelaki berjalan mendekat. Sosoknya terang dan gelap berselingan di bawah deretan lampu jalan. Ramos melambaikan tangan sebagai pertanda.

Arkan masuk ke peluknya. “Lo kenapa, Kan?”

“Nggak apa-apa. Kamu kenapa nunggu di tempat gelap begini, sih?”

“Nggak apa-apa juga,” Ramos mendaratkan cium di bibir Arkan, sekali, dua kali, hingga kemudian Arkan menolak dengan halus ketika Ramos menekannya lebih dalam.

Di atas motor, Ramos membiarkan Arkan menelisipkan tangan pada kantong jaket. Mereka melintasi jalan Cikini Raya, menuju Taman Ismail Marzuki. Sepanjang perjalanan singkat itu, Ramos tak mendengar sepatah kata pun, padahal biasanya Arkan selalu bercerita tentang objek fotonya.

Suatu hari pernah Arkan bercerita tentang rule of thirds—aturan sepertiga—dalam dunia fotografi yang memosisikan objek di sepertiga bagian dalam foto agar lebih enak dilihat. Lalu juga tentang framing—teknik menggunakan objek pendukung untuk membingkai objek utama, misalnya menggunakan lengkung dedauan untuk membingkai seekor harimau. Ramos tidak mengerti itu semua, pun ia selalu akan lupa dengan segera. Namun ia senang mendengarkan Arkan bercerita, terutama karena paras penceritanya begitu menggairahkan.

Mereka masuk ke sebuah bioskop kecil yang tengah memutar film bisu Prancis. Keduanya tak ambil pusing pada plot rumit yang disajikan layar karena di kursi pojok belakang mereka menciptakan jalan cerita sendiri.

Ramos dan Arkan masih terbilang muda, berada pada kisaran usia dua puluh tiga yang berarti sedang pada titik tertinggi gelora nafsu. Lagipula keduanya sepakat untuk melakukan hal ini, mereka tahu untung dan ruginya. Untuk ukuran fotografer jurnalistik, penampilan Arkan termasuk lumayan. Bagaimana mungkin Ramos menolak ketika seorang lelaki rupawan keturunan Arab, bertubuh tinggi dan berkulit putih, datang kepadanya menawarkan diri dengan jiwa yang kosong?

Ramos menarik kerah kemeja flanel Arkan, bibirnya berselirat dengan leher jenjang itu. Nafas memburu, sementara lawannya pasrah bagai kijang di bawah terkaman singa.

Arkan berbisik di telinga. “Sayang, kita nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Aku udah putusin Galang. Dia ternyata main sama kliennya, orang Aussie.”

“Oh.” Ramos menarik Arkan agar duduk di atas pangkuan, sedang tangannya meraba tubuh lelaki manis itu dari dalam.

“Iya, terus—” dipagutnya bibir yang belum tuntas, seolah-olah ingin ia hisap seluruh kenikmatan yang ada pada lawan kencannya itu. “Terus kita gimana?”

 Ramos berhenti. “Maksudnya?”

Arkan mendorong Ramos hingga terhenyak ke senderan bangku. “Aku. Kamu. Hubungan ini. Kita gimana? Kita apa?

Kegelisahan Ramon terwujud sudah. Bermain tubuh itu satu persoalan, bermain hati itu persoalan lain. Dua bulan menjalani hubungan terlarang, agaknya harus ia jumpai pertanyaan tersulitnya di sini. Melalui pantulan cahaya dari layar, tatapan tajam Arkan menjadi jelas. Kini bagian terdingin dari tubuhnya diminta untuk bersaksi.

Gulana bergelitar di reluk hati Ramos.

***

Gulana bergelitar di reluk hati Arkan.

Arkan selalu percaya kesetiaan merupakan jatidirinya. Setia dalam pekerjaan telah membawanya pada posisi fotografer jurnalistik tetap di harian Bentara Jakarta. Setia dalam pasangan telah mengantarnya pada hubungan menahun dengan Galang, seorang associate di Patunru Law Firm.

Menginjak tahun ketiga, Arkan merasakan hidupnya seperti foto yang hilang fokus. Kabur. Tanpa arah yang jelas. Ia temukan dirinya mempertanyakan hal mendasar tentang hubungannya dengan Galang. Adakah rasa sayang itu? Di antara keduanya selalu terdapat laptop. Arkan tak lagi dapat melihat jiwa manusia di balik lensa kacamata Galang yang bersinar dipantul cahaya layar, nyaris tujuh hari dua puluh empat jam.

Galang yang bersidang di pengadilan niaga. Galang yang membuat surat gugatan. Galang yang berperkara di badan arbitrase. Galang yang merancang kontrak jual-beli.

Galang yang tidak pernah lagi melihat Arkan sebagai bagian dari hidupnya. Galang yang tidak menghibur Arkan ketika fotonya ditolak kurator dan batal masuk pameran. Galang yang bersalin rupa menjadi kata benda. Galang yang menjadi objek utama dalam potret hitam-putih bertema pengabaian.

Malam itu Arkan membunuh Galang berkali-kali dalam benaknya. Sendirian, ia membidik warna-warni lampu yang silih berganti di bawah flyover Antasari. Editor meminta stok foto yang lebih memberikan cerita. Bertemulah ia pada sekumpulan pengendara motor berjaket hitam di persimpangan jalan.

“Lagi ada acara apa, Bang?”

Yang ditanya menoleh, lalu membuang puntung rokok ke pinggir jalan. “Biasa. Anak-anak pada ngetrek. Malem Jumat kalo jam segini udah sepi soalnya. Polisi juga nggak ada.”

Arkan terpaku pada bisep yang menyembul di balik jaket kulit lelaki itu. Bahu bidang dan padat. Perawakan seperti orang Timur, dengan rahang tegas dan alis tebal. Kulit kecoklatan, terbiasa dijerang matahari. Tato tribal bergeliat dari balik tipis kaos hingga ke leher. Berewok tipis dan senyum manis. Aroma kejantanan.

Sejenak angan melayang. Ia mengerepas mata, mengusir bayangan. “Arkan, fotografer Bentara Jakarta,” dengan gugup ia perkenalkan diri. “Gue lagi ngisi rubrik tentang kehidupan malam. Kalo boleh, gue pengen ambil gambar kegiatan temen-temen di sini. Lo juga ikut ngetrek, Bang?”

“Silakan aja. Malem ini gue cuma nonton, jagain mereka biar nggak pada ribut. Oh ya, jangan panggil Abang, lah. Nama gue Ramos,” seringai menggoda melintas di bibir.

Lewat tengah malam. Setelah sebotol Chivas dan dua linting cimeng, Arkan menyelesaikan ceritanya. Seisi kebun binatang sebagai pengganti nama Galang telah disebutkan tak terkecuali. Ramos mendengarkan sambil tergelak.

Arkan mulai kehilangan petunjuk. “Sampai mana kita tadi? Oh, si Bangsat. Eh, udah ya?”

“Udah. Tapi kalo mau diulang lagi juga nggak apa-apa,” Ramos meletakkan gelas yang tandas.

Pandangan Arkan mulai kabur. “Jadi begini, Mos,” ia mendekatkan wajahnya. “Gue dapet tawaran untuk ngisi rubrik fiksi. Ya, terbitnya seminggu sekali. Tapi gue bisa bikin jadi cerita bersambung, sih. Lo tau enaknya nulis tentang apa?”

“Tentang pacar yang impoten.”

“Ya, itu juga bisa. Tapi enggak, ah. Pembaca nggak akan simpati dengan cerita kayak gitu. Gue mau nulis tentang perselingkuhan. Kayak, orang lagi pacaran terus selingkuh. Ngerti kan lo? Tapi gue belum pernah selingkuh,” Arkan mengangkat kedua jari sebagai tanda sumpah. “Jadi gimana bisa gue bikin cerita tentang perselingkuhan? Kalo kata orang bijak, kau tak akan pernah merindukan apa yang tak pernah kau rasakan.”

“Lo mau gue jadi selingkuhan lo?”

“Tergantung apakah lo good kisser atau bukan.”

Ramos mencium Arkan di tempat. Sukacita yang tak pernah Arkan rasakan selama setahun terakhir. Hidupnya kini seperti foto dengan pencahayaan tepat, framing pas, dan nilai berita tinggi. Sisa malam mereka habiskan di apartemen Ramos. Potongan-potongan jiwanya tersusun kembali.

Arkan terbangun dalam pelukan Ramos. Perlahan-lahan tangan melepaskan lengan yang melingkari punggung. Lalu Ramos ikut terjaga, ia nyalakan sebatang rokok, menciptakan asap yang melingkar-lingkar lalu buyar sebelum menyentuh eternit. Arkan menyibakkan selimut. Ia berdiri telanjang, mengumpulkan pakaiannya, lalu pergi pulang.

Tetapi mengapa kau menciumku dengan mata terbuka, Ramos?

“Terus kita gimana?”

“Maksudnya?”

“Aku. Kamu. Hubungan ini. Kita gimana? Kita apa?

Amarah mengerabik batin Arkan ketika Ramos bangkit, pergi meninggalkannya. Ia berlari mengikuti Ramos keluar gedung. “Gue cinta sama lo, Anjing!”

“Lo putusin Galang karena dia selingkuh. Lo kan juga selingkuh!”

“Ya tapi kan itu untuk cerita bersambung di koran.”

“Yang udah selesai sejak berminggu-minggu lalu itu.”

“Lagipula Galang nggak tau kalo gue selingkuh. Sedangkan gue tau dia selingkuh. Lo sendiri yang bilang, sejarah itu ditulis sama yang menang!”

Ramos menggeleng. “Gue nggak bisa. Gue nggak percaya cinta.”

Arkan berjalan menghampiri sosok yang ia harapkan hadir tanpa diminta. “Lo bilang selama dua bulan ini kita jalan nggak pake cinta?”

“Denger, Arkan. Kita jalan dan main bareng, iya. Tapi ada satu hal yang harus lo sadari dari hubungan ini. Lo bawa perasaan.”

“Dan lo enggak.” Duka merengat di pelupuk Arkan. Ia terpekur di tempatnya berpijak. Cinta merupakan wilayah kuasa Tuhan. Kepada siapa hati ini tunduk, sepenuhnya berasal dari luar kendali manusia. Tetapi dapatkah hati menyesal, sekali, dua kali? Dengan berat langkah Arkan mundur, berjalan pergi.

“Tapi kita masih bisa sayang-sayangan!” Ramos bergaung di kejauhan. “Sebagai teman!”

Arkan mempercepat langkah. Sosoknya menyaru di kegelapan malam. Ia membayangkan hidupnya seperti pacuan karma buruk yang berputar-putar di sirkuit balapan motor. Cahayanya menciptakan warna-warni yang indah dalam karya foto. Tetapi cahaya itu semu. Apa yang diabadikan sesungguhnya tak lebih dari kilatan yang datang dan pergi sekejap mata.

Kelumun getir meringkai batin Arkan.

***

Kelumun getir meringkai batin Galang.

Kau tidak tahu apa yang kau miliki sampai kau kehilangannya. Galang menyadari betul perginya Arkan diakibatkan kenaifannya. Ia anggap Arkan akan selalu berada di sisinya tanpa kenal bosan dan lelah.

Awalnya Galang berpikir ia adalah matahari. Orang lain adalah planet yang mengelilinginya tanpa batas waktu. Lalu ia salah. Ia adalah bumi yang memperoleh sisi terang dan gelap secara bergantian. Sementara Arkan adalah bulan yang menerangi di kala malam. Tapi ia salah lagi. Ia adalah bumi, sementara Arkan matahari—yang hilangnya membawa kemusnahan di muka bumi.

Ruap lara menyisir kembali kesadaran. Apa yang sedang kulakukan? Layar pada laptop menampilkan dokumen legal opinion yang setengah jadi. Kalimat terakhirnya diketik setengah jam lalu. Persetan dengan pengadilan mana yang berwenang mengadili perkara ini. Persetan dengan klausula arbitrase yang cacat. Pikiran berguguran. Penyesalan tiada guna. Kenangan merecip di sanubari. Hati tersayat geligi keris.

Terdengar ketukan di pintu depan. Pukul setengah dua belas malam. Sembari menuruni tangga, Galang membayangkan Arkan berada di balik pintu. Menunggu dalam rinai hujan. Maka Galang akan kembali mengulang kata maaf itu, entah untuk yang kali keberapa.

Lalu benar Arkan berdiri di beranda, mengantarkan pelukan hangat. Tidak ada hujan. Ribuan maaf tercekat di tenggorokan.

“Aku kembali.”

“Terima kasih untuk mempercayaiku lagi.” Aku mencintaimu.

“Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu,” kekasihnya berujar lirih. “Aku nggak bisa nggak sayang sama kamu.”

“Apalagi aku. Kita mulai dari awal lagi, ya?” Aku akan berubah, seperti yang kamu minta.

“Kamu janji nggak akan macem-macem lagi sama orang Aussie itu?”

“Ethan dan aku nggak ada apa-apa. Kasusnya udah selesai. Kami nggak pernah komunikasi lagi.” Percayalah padaku.

“Ya udah,” Arkan mengangguk. “Sayang, kamu laper, nggak? Aku bawain kwetiau goreng kesukaan kamu.”

Bahagia menggelimuni pesisir hati Galang. Tenteram dunianya kini. Cinta merupakan wilayah kuasa Tuhan. Kepada siapa hati ini tunduk, sepenuhnya berasal dari luar kendali manusia.

Arkan mendaratkan cium di bibir Galang, sekali, dua kali.

Tetapi mengapa kau menciumku dengan mata terbuka, Arkan?

Galang merangkup selapis aroma tembakau pada kemeja flanel Arkan. Kekasihnya itu tidak pernah merokok. Tetapi mereka baru saja melewati situasi yang sulit. Barangkali sebatang dua batang menjadi pelariannya.

Sementara itu, sebaris pesan Skype terjentik di layar laptop.

[EthanJones] Sweetheart, done with your work?

[EthanJones] I miss you.

[EthanJones] Let’s make a call.

 

(Jakarta, 30 Desember 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s