Keparat

pexels-photo-375888.jpeg

Hidup itu menyeramkan. Budi baik dan buruk melahirkan manusia pada rahim yang telah dijanjikan. Tangisan ia di hari pertama barang tentu bukan diperuntukan bagi gelagap napas tanpa ketuban, namun sesederhana mekanisme melawan rasa takut. Tidakkah ruang dan waktu kelak mengenalkan padanya pahit dan manis pencobaan? Lalu ia yang fana akan hidup untuk sakit, belajar, lalu sakit lagi, lalu mati.

Maka benar apabila setiap napas yang ia hembuskan hendaknya dihayati seperti perjalanan Tambangraras ditemani Centhini yang menyamar agar tak diganggu oleh keparat birahi di tengah belantara, pada suatu malam ketika Amongraga menunggunya dalam diam.

(Jakarta, 17 Januari 2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s