Pasar Gambir

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_oude_kasteelpoort_van_Batavia_TMnr_3728-769
Kasteelpoort van Batavia (Source: Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Hangat hembus napasnya pada wajahku menyiratkan sesuatu yang hendak ia derai. Pada ketinggian dua puluh meter, Pasar Gambir adalah riuh-rendah keroncong dan elok cahaya keemasan lampu gas yang menerangi tenda-tenda di tengah kegelapan Koningsplein. Pesta rakyat ini telah ditunggu-tunggu sepanjang 1928. Semua orang datang dengan pakaian terbaiknya untuk merayakan hari kelahiran Sri Baginda Ratu Wilhelmina.

Pada puncak kincir ria yang berhenti berputar, kami duduk berhadapan satu sama lain. Barang tentu tiap kata yang hendak ia ucap harus menari di keraguan sebelum jatuh, acak tak bertuan.

Julie tersenyum getir. “Kita telah tenggelam di hati satu sama lain, seperti Centhini yang hilang pada bersatunya kembali Tambangraras dan Amongraga. Maafkan aku karena terlalu dalam menyayangimu, Timur. Telah kulakukan segala cara untuk mengubur rasa itu, tapi tiada guna.”

“Aku pun demikian. Begini saja,” kuraih revolver Nagant M1895 dari saku celana. Sosok manis itu, pujaan hatiku, tahu apa yang hendak terjadi ketika kumasukkan satu peluru. Kugulirkan silinder revolver pada porosnya. “Julie, sebelum kita melakukan ini, aku ingin kau tahu bahwa sekeras apapun usahaku untuk meninggalkanmu, sekeras itu pula kasih ini bertahan di hatiku. Maka benarlah, hanya kematian yang dapat memisahkan kita. Untuk satu alasan mengapa kita tidak seharusnya bersama, beri kesempatan pada satu kali tarikan pelatuk. Akan kuambil giliran pertama. Apabila ternyata maut belum menjemputku, kau ambil giliran kedua. Dan seterusnya, hingga peluru akhirnya bersarang di kepala salah satu dari kita.”

Perlahan kuarahkan pucuk senjata pada keningku. Kini yang harus kulakukan adalah berpikir, sementara harum tubuhnya mengingatkanku pada malam pertama kami bertemu.

***

Gedung itu berwarna putih. Beranda utamanya berhias sederet pilar yang menopang tulisan bercat hitam “HARMONIE” dalam bingkai dinding segitiga. Melalui pintu yang terbuka lebar, kulihat siluet-siluet menari dalam gelimang cahaya.

“Korporaal Timur Nuswantoro, welkom bij de Sociëteit de Harmonie.”

Kecuali kau Belanda, pejabat serikat dagang, atau militer, jangan sekalipun berharap melangkahkan kaki ke dalam Sociëteit de Harmonie. Itulah mengapa harus kuucapkan terima kasih pada seragam biru Luchtvaartafdeling-KNIL yang kukenakan pada jamuan Luitenant-kolonel Wesseling malam itu. Menjadi satu-satunya bumiputra dalam kesatuan muda Angkatan Udara KNIL tidak hanya memberikanku kemampuan untuk menerbangkan Curtiss P-6 Hawk, tetapi juga kesempatan untuk menghadiri pesta-pesta di balik tembok Batavia. Manusia-manusia berpendar di bawah lampu kristal terbaik, berdansa di atas marmer putih mengilap.

Sementara kedua rekanku Pieter dan Albert tengah memperdebatkan gadis mana yang menggunakan minyak wangi cendana, dalam diam aku mengagumi lukisan perburuan rusa Raden Saleh di seberang lantai dansa. Atau tidak. Sesungguhnya pandanganku tertuju pada sosok manis berbaju putih yang bersembunyi di balik bingkai, membidikkan lensa tustel pada Luitenant-kolonel Wesseling. Sesekali ia menulis sesuatu pada bukunya.

Baru saja hendak kuhampiri ia ketika sekelompok pamong praja datang menghardik. Mereka terlibat pembicaraan serius. Awalnya ia terlihat bersikukuh dan bertahan pada tempatnya, namun dengan kasar pamong praja menarik tustel di tangannya lalu menyeretnya keluar. Di tengah suasana heran para pengunjung pesta, aku mengikuti pamong praja ke pekarangan depan.

Pada rinai hujan kutemukan ia di pinggir jalan Rijswijkstraat, bermandikan lumpur. Tanpa pikir panjang, kubantu ia berdiri. Seorang Indo. Ia hanya menatapku sekilas ketika aku menanyakan keadaannya. Tulisan pada bukunya luntur tak terbaca lagi. Kami berlari menyeberang, berteduh di beranda toko jahit Tuan Oger Freres. Badannya menggigil. Ia tak juga bicara.

“Kulihat kau mengambil gambar Luitenant-kolonel Wesseling. Kau juru warta?”

“Bataviaasch Nieuwsblad.”

Pantas saja ia diusir. Surat kabar itu bahkan dilarang beredar di markas KNIL karena diusung oleh golongan Indo yang kerap mengecam Gubernur Jenderal Hindia Belanda, mengangkat penderitaan petani, dan mengumumkan pembentukkan organisasi politik bumiputra seperti Budi Utomo.

“Luitenant-kolonel Wesseling itu komandanku. Berita apa yang kau tulis?”

“Kalian baru saja mengambil tustelku. Bagaimana aku harus percaya denganmu?”

Aku diam, memandang jauh. Tentu aku bisa saja kembali dan melanjutkan pesta, namun ada bagian dari diriku yang ingin bersamanya hingga hujan berhenti.

“Kau tahu, nasib bangsamu tidak akan selamanya berada di bawah Kerajaan Belanda. Sudah berapa lamakah itu, seratus, dua ratus, tiga ratus tahun?”

“Apa maksudmu?”

“Perwakilan organisasi pemuda bumiputera dari penjuru Hindia Belanda datang ke Batavia. Mereka akan menggelar kongres. Mungkin juga akan ada ikrar, perjanjian, semacamnya. Tak lama lagi, semua orang ingin menentukan nasibnya sendiri. Tak lama lagi, semua orang akan bicara tentang pembebasan. Liberasi. Kemerdekaan. Kenalkah kau dengan istilah itu? Nampaknya tidak. Bumiputera memang, tapi kau serdadu KNIL—”

“Kau Indo, peduli apa?”

“Aku menjawab pertanyaanmu! Ini berita yang sedang kutulis. Luitenant-kolonel Wesseling memata-matai persiapan kongres pemuda itu, entah atas perintah siapa. Jika kabar itu benar, maka kebebasan berorganisasi bumiputera sebenarnya semu karena mereka tetap berada di bawah pengawasan militer. Kau KNIL, peduli apa?”

Aku bangkit, hendak meninggalkan orang yang tidak tahu terima kasih ini.

“Hei, lupakan saja. Maaf aku telah lancang berbicara,” ia menggenggam tanganku. “Maukah kau minum? Malam ini Sociëteit de Harmonie akan mengeluarkan brendi terbaik, baru tiba dari Prancis. Boulard namanya. Telah disimpan selama 12 tahun.”

Meski gusar bukan main, bibirku menjawab, “aku tahu pintu belakang menuju dapur.”

Begitulah, kami menyelinap ke dapur tepat ketika semua orang tengah mendengarkan pidato Luitenant-kolonel Wesseling tentang pertahanan udara Hindia Belanda. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk menemukan lemari penyimpanan. Tanpa menemui kesulitan berarti, kami membungkus dua botol brendi dan sekerat roti lalu membawanya pergi.

Jalan setapak berlumpur di samping gedung menuntun kami memasuki sebuah kebun palem. Pikiranku ringan, melayang rendah seperti Fokker membelah lembah kunang-kunang. Entah karena tujuh teguk brendi atau senyum manisnya, tubuhku mulai berhenti merasakan gigil hujan. Lalu kusadari hangat itu berkat pelukannya. Aroma alkohol bercampur cendana mengambang di hidungku. Mungkinkah ini minyak wangi cendana yang dibicarakan Pieter dan Albert?

Vraag niet wat u voor uw land kunt doen, maar vraag wat voor diner!” guraunya sambil tergelak. “Jangan tanya apa yang bisa kita lakukan untuk negeri ini, tanyalah apa yang bisa kita makan malam ini!”

Hujan memang ternyata telah berhenti. Kami berdansa di tengah jalan, seakan dunia hanya milik kami berdua. Aku menciumnya di tepi kanal Molenvliet dengan kedua telapak tanganku pada pipinya, sementara cahaya lampu kota berputar-putar di punggungnya membentuk sayap malaikat.

Ia menarik tanganku menelusuri jalan Prinsenstraat sambil bercerita tentang boneka prajurit yang melindungi boneka putri dari serangan boneka beruang. Malang, boneka beruang berhasil menjebak boneka prajurit dan boneka putri ke dalam kobaran tungku perapian. “Yang menjadikannya indah adalah,” lanjutnya ketika kami menyeberangi alun-alun balai kota, “boneka prajurit dan boneka putri yang terbakar itu kemudian melebur menjadi satu, membentuk liontin hati.”

Ia membawaku ke ceruk tersembunyi di lengkung gerbang Kasteelpoort. “Tuan Prajurit,” bisiknya lembut, “maukah kau melebur bersamaku?”

Aku tidak dapat menolong diriku sendiri ketika jemarinya mulai berkelana di punggung, pada tulang belakang yang berakhir di tengkuk. Kuletakkan hidungku pada lehernya yang mewangi cendana. Wajahnya bersinar, begitu indah. Telunjukku tiba di ujung bibirnya yang kemudian kupagut lembut. Kurapatkan ia di dinding, sementara jemarinya kini melepas kancing bajuku satu per satu. Syahdan, sisa malam menjadi potongan cerita yang kami titipkan pada patung perunggu dewa Mars dan dewi Minerva di kedua sisi Kasteelport.

Pagi menjelang, ia pergi menaiki trem pertama menuju Koningsplein. Seketika itu juga aku terjaga lalu bangkit mengejarnya. “Hei! Siapa namamu?”

“Julius de Graaf! Temui aku di depan gereja Willemskerk!”

***

Hangat hembus napasnya pada wajahku menyiratkan sesuatu yang hendak ia derai. Pada ketinggian dua puluh meter, Pasar Gambir adalah riuh-rendah keroncong dan elok cahaya keemasan lampu gas yang menerangi tenda-tenda di tengah kegelapan Koningsplein. Pesta rakyat ini telah ditunggu-tunggu sepanjang 1928. Semua orang datang dengan pakaian terbaiknya untuk merayakan hari kelahiran Sri Baginda Ratu Wilhelmina.

Pada puncak kincir ria yang berhenti berputar, kami duduk berhadapan satu sama lain. Julie. Julius namamu. Pujaanku, dunia ini tidak sempurna. Karenanya, ia tak siap dengan kasih yang tumbuh di hati kita. Peduli apa dunia, ketika kau adalah sosok pertama yang ingin kulihat di pagi hari sepanjang hidupku.

Ijinkanku membawamu pergi. Kau duduk di samping, sementara kuterbangkan dirimu melampaui jenuh awan. Bersama, kita jelang matahari yang memerah di ufuk barat. Bersama, kita buru lintang kemukus yang akan mengabulkan setiap mimpi. Bersama, kita bersalin rupa menjadi sepasang burung yang melayang berkelindan menentukan nasibnya sendiri.

Pembebasan, liberasi, kemerdekaan—semua hal yang kau katakan akan menjadi perjuangan kaumku kelak—tak bolehkah kita menumbuhkannya juga sejak dalam hati? Atau beginikah kita seharusnya, berakhir seperti hantu dan dewa yang menemui ajalnya pada manusia dan moralnya yang nyata?

“Aku tidak bisa melakukan ini!” tangan Julius bergetar hebat, pipinya basah. “Maafkan hatiku!”

“Julius, jangan,” kuusap air matanya. Rambut halus pada pipi, rahang, dan dagunya mengisi celah jemariku. “Jangan minta maaf untuk sesuatu yang berada di luar kendali kita.”

Seandainya peluru ini keluar pada giliranku, aku ingin mati di tangan orang yang kusayangi. Dengan telunjuk Julius pada pelatuk, kuarahkan kembali pucuk revolver pada keningku. Dingin, namun sudah kutemukan jawabannya. “Kita tidak seharusnya bersama. Kau laki-laki Indo Protestan dan aku laki-laki bumiputra Muslim.”

Aku masih hidup.

Julius, pujaan hatiku, sekarang giliranmu.

(Jakarta, 24 Februari 2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s