Jentera

art-black-and-white-perspective-143967

Batavia, 1927

Agar terang jalannya, Rukiyem memantik sebatang korek api. Tak ia takutkan malam yang merumung langit, hanya saja perlu ia temukan segera tujuannya. Sejenak ia berpikir, lalu ia tiup nyala api agar padam. Hanya gelap yang akan membantunya. Maka ia angkat jarik hingga lutut, lalu berlari ia menuruni tangga pelataran gedung pengadilan, melintasi alun-alun kota, lantas menghilang di balik rindang kebun pisang.

Aku tak ingin ingkar janji. Aku tak ingin lalai lagi.

Tanda-tanda zaman, orang berkata, ketika sepasang hitam mata perempuan Jawa berani menatap kerling petugas kontrolir. Rusak kramanya, ketika ia bangkit dengan kedua tungkai lalu berjalan tegap di hadapan laki-laki semua bangsa. Terlarang adanya, ketika ia mengguratkan isi pikiran menjadi aksara latin, hitam di atas putih.

Rukiyem sadar ia melangkahi hidup-hidup semua batas yang digariskan padanya. Namun apa yang dapat diperbuat ketika nalurinya berkata ia ingin berserikat bersama buah Politik Etis lain seperti Sunario, Kasman, dan Kartosuwiryo? Ia tak ingin lagi digugu. Meski tubuh dibalut kebaya dan jarik, karsanya mengembara menuju kemerdekaan.

Dan aku menemukanmu dalam pengembaraanku.

Langkahnya terhenti seketika. Sesuatu berjalan di dekatnya, terdengar dari gemerisik dedaunan yang terinjak. Rukiyem bersembunyi di balik batang pohon pisang, awas. Seekor anoa. Kedua tanduknya terang memantulkan cahaya bulan. Rukiyem terpekur sesaat, makhluk itu bergeming. Rukiyem melangkah pelan, lalu meneruskan pelariannya.

Cahaya di kejauhan menandakan dirinya hampir tiba di tujuan. Pasar Gambir. Seseorang menunggunya, pasti dengan kemeja putih yang sama ketika mereka kali pertama bertemu di Kongres Pemuda. Rukiyem tiba di jalan besar, kakinya lelah, jariknya yang lusuh ia turunkan kembali hingga mata kaki. Ia usap wajah dengan lengan kebaya agar hilang kumuh pelariannya. Rambut hitam ia gelung ke belakang.

Kekasihnya menunggu dengan cemas di depan gerbang pasar, dinaungi jentera berhias lampu gas, persis seperti yang dijanjikan pada surat di berkas pembelaan. Tak sabar Rukiyem tunjukkan dirinya yang utuh dan bebas, meski untuk kali terakhir.

Tepat ketika negara ini berdiri suatu saat nanti, kau akan jadi kekasih sebangsaku.

Rukiyem berlari meninggalkan kegelapan menyeberangi lapangan Kongingsplein. Syahdan, bayonet menghujam punggungnya hingga ia rubuh ke rerumputan. Air mata pada tanah kelahirannya. Tubuh ringan seketika, terangkat dan terhempas kembali ke kegelapan.

“Inlander tidak tahu terima kasih! Seharusnya dia bersyukur, penjara Hindia lebih layak dibandingkan kampung tempatnya berasal. Ayo kita kembali, Mark.”

Dat weet je niet, Jan?”

“Apa, Mark?”

“Pengadilan tidak lagi memenjarakan pemberontak politik. Besok pagi dia akan dikapalkan ke Suriname. Kau tidak datang ke pembacaan putusannya tadi sore?”

Mijn God, kau pasti bergurau. Apa bedanya dia dengan budak-budak Nepal?” Jan meludah. “Lalu bagaimana dengan nasib si Indo, ketua Kongres Pemuda itu?”

“Lukas, maksudmu? Biarkan saja dia berkeliaran. Tanpa Rukiyem, dia bukan apa-apa.”

***

Jakarta, 2015

Agar terang pikirannya, Banua memantik sebatang rokok. Tak ia takutkan kelabu yang merumung kepala, hanya saja perlu ia temukan segera kepastian. Sejenak ia berpikir, lalu ia tekan linting tembakau agar padam. Hanya gelap yang akan membantunya. Maka ia pandang dasar gelas Erdinger, lalu kursi kosong di sebelahnya.

Refill, Tuan?” seorang bartender menawarkan satu pitcher besar.

Banua mengangguk, “terima kasih.”

Masih merenungi pola di dasar gelas, sepasang lengan memeluk leher. Sebuah kecupan mendarat di tengkuk, kemudian di belakang telinga kiri. Kelana memosisikan duduknya agar berhadapan. “Tiga hari tanpa kabar. Ini bukan hari jadi kita, kan?”

“Ada hal penting yang harus aku bicarakan.”

“Nggak bisa di rumah?”

Banua menggeleng, “aku nggak pulang ke rumah malam ini.”

Jesus, man,” dengus Kelana. “Giandra itu masa lalu kamu, aku ngerti. Aku udah janji nggak akan mempertanyakan itu lagi. Kamu kenapa, sih?”

“Kelana,” Banua mengernyitkan dahi. “Kamu ingat waktu kita pertama bertemu, kamu bilang kamu ingin jadi whistleblower? Pembunuhan Komjen Wardoyo. Kamu yang liput beritanya, kan?”

Kelana menangguk.

“Apa yang kamu temukan?”

“Hanya mayat. Nggak ada jejak, nggak ada bukti. Siapapun pembunuhnya, dia main bersih.”

“Itu karena aku sudah merekayasa TKP sebelum pers masuk,” Banua merogoh sakunya. “Karena siapapun pembunuhnya, dia mencari ini.”

Kelana menerima flashdisk merah di genggaman. “Apa isinya?”

“Semua yang kamu perlu tahu tentang penculikan 1998. Kalau publik terpapar informasi ini, nggak perlu lagi ada Kamisan. Nggak perlu lagi ada komisi untuk orang hilang,” Banua memerhatikan sekeliling. “Tapi kamu dan aku tahu, ini nggak bisa dateng dari aku.”

“Sayang, ini harus dilaporin ke polisi.”

“Komjen Wardoyo itu polisi. Aku ini polisi. Pembunuhnya, itu polisi!

Banua siaga. Sesuatu muncul di balik kusen jendela, membentuk bayangan. Sejenis kerbau kerdil berwarna hitam. Kedua tanduknya terang memantulkan cahaya bulan. Banua terpekur sesaat, makhluk itu bergeming. Banua memejamkan mata, lalu menenggak habis bir yang sudah tak dingin lagi.

“Kamu kenapa?”

“Kelana,” ia genggam tangan kekasihnya. “Perlindungan yang diberikan kepada pers akan menjaga kamu dari orang-orang itu. Aku serahkan ini ke kamu. Aku percaya sama kamu. Informasi ini harus sampai ke Harian Jentera, ke semua sosial media dan deep web. Apabila terjadi sesuatu, Giandra akan memberikanmu akses suaka politik ke Finlandia. Nggak akan ada yang tahu tentang kita,” Banua menatap getir. “Dan sekarang seharusnya kamu paham kenapa aku menemui Giandra hari itu.”

Kelana mematung, wajahnya cemas. “Kamu janji kamu akan baik-baik aja?”

Banua meletakkan telunjuk di bibir Kelana. “Kita nggak punya banyak waktu. Kamu harus pergi.”

Syahdan, tenggorokan Banua tercekat hingga ia rubuh ke lantai. Tandas gelas bir memastikan darahnya mengental dengan sempurna. Tubuh kaku seketika. Sementara rentetan tembakan memecahkan kaca jendela dan botol-botol brandy, Kelana meringkuk mencari jalan keluar.

***

Poros Tenggara, 2108

Agar terang pandangannya, Saka menyalakan sebatang natrium salisilat. Tak ia takutkan kelam yang merumung kalut, hanya saja perlu ia temukan segera nasibnya. Sejenak ia berpikir, lalu ia patahkan reaksi kimia agar padam. Hanya gelap yang akan membantunya. Maka ia ajak Manokwari naik ke atap koloni, duduk memandang hitam langit, lalu menghela napas.

“Saka, panggil aku Saka. Jangan Profesor. Aku bukan siapa-siapa. Di bawah kolong langit ini, kita sama, meski kau manusia klon,” Saka meletakkan telapak tangan Manokwari di dadanya. “Kau rasakan ini? Kau juga punya. Namanya detak jantung.”

Manokwari merasakan jantungnya sendiri, kemudian tersenyum.

Saka melanjutkan, “kau tahu? Ada satu sifat yang tak lagi dimiliki oleh manusia hayati maupun manusia klon.”

“Sifat apa itu, Saka?”

Setia. Jangan pernah kau cari dalam kamus bahasa apapun di dunia ini, karena sudah lama ia dihapus.” Saka menunjuk kepalanya, “meskipun begitu, dahulu, setia ada di sini. Ventral pallidum, area pada lapisan ketiga otak. Area ini memunculkan ilusi positif sehingga kita dapat melihat kebaikan di balik keburukan. Area ini yang membuat manusia dapat berjuang mempertahankan sesuatu. Area ini yang menimbulkan perang dan perbuatan ceroboh lainnya. Tetapi, area ini juga yang memungkinkan kita bertahan dalam kehidupan domestik monogamis.”

“Mengapa manusia tidak boleh setia, Saka?”

Saka mengangkat bahu. “Bukan tidak boleh, Manokwari. Tidak bisa. Apapun alasannya, ventral pallidum pada manusia hayati kini tidak berfungsi lagi sehingga mereka kehilangan hasrat berperang dan memilih untuk tinggal di Satelit Jentera. Planet ini sudah beracun, Manokwari. Satu-satunya cara adalah menciptakan manusia klon untuk menambang dan memungut hasil bumi, agar manfaatnya dapat dinikmati manusia hayati di atas sana.”

“Manusia klon juga tidak memiliki ventral pallidum, apakah itu yang menyebabkan mereka tidak memiliki hasrat untuk melawan meski diperlakukan berbeda dengan manusia hayati?”

Saka hendak mengangguk tetapi kemudian ia terkejut. Sesuatu muncul dari balik kabut malam. Sesosok makhluk berkaki empat yang nampak asing. Kedua tanduknya terang memantulkan cahaya bulan. Saka terpekur sesaat, makhluk itu bergeming. Saka mengerepas mata, sosok itu hilang.

“Aku melihat sesuatu yang berbeda pada dirimu, Manokwari. Itukah alasanmu mengikutiku hingga ke koloni?”

Manokwari tersipu, lalu mengangguk. “Kau juga berbeda, Saka. Itukah alasanmu menolak tinggal di Satelit Jentera?”

Jemari Saka mengisi celah pada jemari Manokwari. “Aku sudah menunggumu sejak lama.”

“Aku tidak ingin kehilangan kamu,” Manokwari menatapnya cemas. “Apa yang harus kita lakukan?”

“Belajar dari kesalahan, Manokwari. Manusia berpisah dan menemukan berkali-kali sepanjang masa, kita saja yang belum sadar. Manusia dan jentera raksasa itu tidak ada bedanya. Sama-sama berputar, untuk pada akhirnya kembali ke titik awal.”

Syahdan, gemuruh menggetarkan koloni. Dua puluh empat wahana angkasa terbang meninggalkan bumi dari utara menuju Satelit Jentera di sisi bulan. Purna sudah pemberangkatan terakhir manusia hayati. Saka dan Manokwari mengamati jejak cahaya yang ditinggalkan, merajut rasa yang tak lagi dikenal dalam bahasa manusia.

(Jakarta, 17 April 2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s