Titimangsa (2)

clouds-cloudy-dark-716834

Bagian 2

Kereta Api Argo Lawu

Pukul 11.49 malam. Sudah hampir sepuluh menit kereta yang kutumpangi berhenti di Stasiun Cirebon. Dari pintu kereta yang sengaja dibuka lebar untuk keperluan penumpang yang akan turun, kudengar suara pedagang menawarkan emping dan telur asin. Aku tak menoleh ke belakang, namun sepertinya mereka hanya berdiri di ambang pintu. Tak satupun dari penumpang di gerbong beranjak dari kursinya. Semua bergelung di balik selimut masing-masing. Selimut itu, omong-omong, tidak menghangatkan barang sedikit.

Televisi layar datar di depan menayangkan iklan layanan masyarakat jasa perkeretaapian, tidak berubah sejak pemberangkatan dari Stasiun Gambir tadi. Sumpah aku sampai ingat di luar kepala adegan ini:

  • pemandangan kereta api melintas di atas jembatan;
  • seorang perempuan berseragam pramugari kereta muncul dengan efek chroma key yang kasar;
  • pramugari kereta mempersembahkan suasana kabin yang rapi; ia berbicara, menggerakan tangan; kotak-kotak virtual yang menunjukkan fasilitas terbaru layanan mereka;
  • tidak lupa animasi tanggung yang menggambarkan perkembangan jangkauan layanan kereta api di Sumatera dan Jawa; warna-warni animasinya mengingatkanku pada iklan obat demam anak-anak.

Tepat di depanku, menempel di bagian belakang kepala kursi penumpang, sebuah booklet plastik kehijauan menawarkan jasa perbankan syariah. Aku sudah membolak-baliknya, berharap menemukan simbol tersembunyi—mungkin semacam konspirasi bank syariah dengan Illuminati?

Lagi, panggilan penjaja emping dan telur asin semakin kencang—dan bersahut-sahutan. Kucoba pejamkan mata. Aku lelah sekali, tapi tidak bisa tidur. Atas nama kebebasan berekspresi kumaklumi mereka yang hanya ingin mencari nafkah. Toh ketika kereta ini melanjutkan perjalanan—mungkin lima menit lagi—mereka akan tetap bertahan di stasiun, menunggu kereta berikutnya singgah.

Kalaupun ada yang tidak bisa kutoleransi dalam gerbong ini, itu adalah seorang bapak tua yang duduk di kursi paling belakang. Dia—aku ingin sekali menunjuknya langsung dengan jari tengahku—sudah berbicara di ponselnya sepanjang perjalanan dari Gambir pukul delapan malam tadi hingga sekarang. Tentu itu bukan masalah bagi siapapun seandainya dia bisa mengecilkan volume suaranya dan menghormati semua orang yang ingin istirahat. Tapi dia tidak.

Beberapa petugas kereta sudah keluar dan masuk, mencoba menegurnya dengan sangat halus, namun bapak ini tak pernah menanggapinya dengan serius. Dia terus menelepon beberapa orang yang berbeda, bercakap-cakap dengan logat Batak yang kentara. Suaranya terdengar seperti teror bagiku—mungkin bagi semua orang di gerbong ini, namun tak satupun yang menunjukkan keterusikannya.

“Otak enthok! Kau dengar ini,” seru bapak itu. “Arab itu bukan Islam! Islam itu bukan Arab! Kau tahu itu? Nah, aku akan melawan. Apa? Ya pasti, lah! Aku ini bapaknya. Masa anakku digrepe-grepe di Arab Saudi aku diam saja?”

Tapi dia diam beberapa saat, nampaknya mengakhiri panggilan dengan lawan bicaranya, kemudian menghubungi orang lain.

“Halo. Ya! Ini aku. Aku gusar sekali, kau tahu? Anak perempuanku yang paling tua—ya, si Ros itu, yang jadi TKI di Arab Saudi—barusan dia telepon aku, katanya dipegang-pegangnya dia  sama majikannya. Muak aku! Kusuruh dia untuk pergi saja dari situ, tapi ternyata gaji dan paspornya ditahan, katanya. ‘Cam mana? Ya! Kurang ajar betul! Kau dengar ya, Arab itu bukan Islam! Islam itu bukan Arab! Getek memang! Haruslah dia recok denganku dulu!”

Kepalaku ingin pecah rasanya. Kucondongkan tubuhku ke koridor, melihat ke sumber suara. Bapak itu duduk di kursi yang menempel dengan dinding belakang gerbong, namun berada di tepi koridor sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.

Petugas kereta menghampiriku dan memohonkan maaf atas ketidaknyamanan yang dibuat si bapak tua. Aku memintanya untuk menindak penumpang satu itu, tapi seperti yang sudah kuperkirakan sebelumnya, bapak tua hanya mengangguk-angguk seolah paham ketika dinasihati, meski kali ini agak tegas. Ketika petugas menutup pintu di belakangnya, hanya butuh waktu tiga menit untuk mendengar kembali maki-makian khas Batak berhamburan dari mulutnya.

Aku kembali membenamkan diri di kursi. Berbekal MP3 Player, kupilih lagu yang paling menghentak dengan volume tinggi. Apapun kulakukan agar suara bapak itu tak menggangguku lagi. Tapi bukan ini yang kubutuhkan. Seandainya ada musik yang melantunkan ketiadaan suara, mengedapkan semua kebisingan, akan kuputar saat itu juga. Kucoba untuk tidur.

Dua jam—yang menyiksa—kemudian, kereta berhenti di Stasiun Purwokerto. Aku kembali terjaga ketika pedagang gethuk dan tempe mendoan berteriak-teriak di ambang pintu. Setelah kereta berjalan, suara bapak tua tidak terdengar lagi. Kukira dia turun di Purwokerto. Turun, atau diturunkan, syukurlah. Aku menatap ke jendela di sampingku. Gelap. Hanya sekali dua kali cahaya berkelebat. Kedamaian. Hanya ini yang kubutuhkan.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Ismi, penanggungjawab rubrik sejarah yang ramah namun selalu awas dengan kualitas tulisan wartawannya, mengirim pesan:

Tolong kirim transkrip wawancara paling lambat nanti sore, ya? Gue mau cek dulu, jadi kalau ada yang kurang bisa langsung dikoreksi di tempat. Mumpung lu masih di sana. Jaga-jaga kalau ada yang salah. Thanks!

Aku menekan reply, mengetik dengan cepat:

Gue nggak seamatir itu, Mbak.

Tapi aku tidak mau Ismi salah tangkap, jadi kuhapus lagi. Kuganti:

Gue tau apa yang buat ditulis kok Mbak, tenang aja ok.

Sejenak kudiamkan teks itu. Dalam kelas Pengantar Sosiologi pekan lalu di kampus, Bu Supinah menggambar piramida untuk membantunya menjelaskan sistem kasta umat Hindu di India. Brahmana, golongan pendeta yang dimuliakan dengan segala kebijaksanaannya, menempati puncak piramida. Selapis di bawahnya adalah Ksatriya, golongan bangsawan yang mengatur urusan administrasi kenegaraan dan militer. Kemudian ada Waisya, golongan penggerak perniagaan yang mengurusi dunia materi, wajib memenuhi kebutuhan pokok dua kasta di atasnya. Di paling dasar ada Sudra, golongan pembantu dan pelayan. Sebenarnya ada satu lagi golongan—paria—namun golongan ini bahkan tidak masuk dalam piramida. Mereka adalah outcast abadi. Bahkan dalam beberapa literatur yang kubaca, paria tidak dianggap sebagai manusia. Tentu kastanisasi seperti itu tidak kentara lagi di kehidupan modern, terutama sejak dipahaminya konsep hak asasi manusia.

Namun piramida stratifikasi sosial Bu Supinah akan selalu ada di mana-mana, termasuk di ruang redaksi majalah kami. Dan jika benar kami dipiramidakan, maka aku akan berada di paling dasar, seperti Sudra. Aku hanyalah—baru—seorang volunteer yang melayani dengan imbalan pengalaman bekerja di badan pers profesional. Hanya rasa bangga yang membayarku, terutama ketika tulisanku dimuat. Jurnalis mana yang tidak bangga kalau artikelnya dimuat di media berskala nasional?

Hanya ini kesempatan yang—jika berhasil—akan memompaku sedikit lebih tinggi. Dari Sudra ke Waisya.

Kuhapus lagi semuanya.

Ok mbak.

Sent.

Ada yang mengganjal. Bagaimanapun juga, draft pertamalah yang sebenarnya ingin kukirim.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s