Titimangsa (3)

iswanto-arif-613997-unsplash.jpg

Bagian 3

Stasiun Tugu, Yogyakarta

Keretaku berhenti di Stasiun Tugu, Kota Yogyakarta, sekitar 25 kilometer jauhnya dari Muntilan. Dari situ kutemui Harlan, teman SD yang kini kuliah di Universitas Gajah Mada. Dia memberiku sarapan gratis di warung belakang stasiun. Kami berbicara soal indeks prestasi (satu topik yang paling kuhindari), cuaca ibukota, lengangnya lalu lintas di Yogyakarta, dan ketidaksukaanku terhadap organisasi masyarakat berbasis agama yang belakangan ini semakin merasa berdaulat. Ketika aku merogoh saku untuk membayar, Harlan mencegah. “Biar aku saja. Nanti kamu ganti kalau sudah jadi jurnalis sungguhan,” gumamnya sembari melempar senyuman sinis. Anak bodoh, aku sekarang jurnalis sungguhan.

Selesai sarapan, Harlan menjelaskan rute paling efisien untuk mencapai Muntilan. Wisatawan yang hendak mengunjungi Candi Borobudur dari arah Yogyakarta pasti melewati Muntilan, sebab Muntilan memang jalur utama menuju ke sana. Dengan demikian, tidak sulit mencari kendaraan. Aku pergi ke Terminal Jombor, kunaiki bus yang kali pertama kudengar menyerukan nama candi Buddha terbesar di dunia itu.

Sepanjang perjalanan, mataku terbeliak melihat batu-batu besar—yang tidak pada tempatnya—tergolek di sisi kiri dan kanan jalan. Ada tenda-tenda sederhana tempat tukang pemecah batu berteduh. Lembah dan bukit pasir menjadi pemandangan selanjutnya, sebelum bus melewati deretan pertokoan yang menjual stupa dan arca Buddha. “Gunung Merapi”, kata seorang perempuan paruh baya yang duduk di sampingku, menyadari ketidakbiasaanku terhadap pemandangan di luar jendela. Dua tahun lalu Gunung Merapi meletus. Kali itu letusannya memang cukup besar hingga kota Yogyakarta pun mati. Menurut berita, juru kunci Gunung Merapi—seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta yang telah ditunjuk bertahun-tahun lamanya—turut menjemput ajal di sana.

Kucoba membayangkan bagaimana suasana ketika itu. Mungkin mirip dokudrama Krakatoa: The Last Days buatan BBC? Tanpa tsunami, tentu saja. Mungkin sinar matahari terhalang selama beberapa minggu, sementara debu vulkanik yang mengandung silika berjatuhan dari langit. Seperti salju, hanya saja zat ini merusak paru-paru dan kornea mata. Kemudian pohon-pohon mati, daunnya merunduk ke tanah. Atap rumah runtuh karena tak kuat menahan beban debu. Jembatan putus. Sungai diluapkan lahar dingin. Bebatuan segala ukuran menggelinding di lereng, banyak rumah yang rata dengan tanah karenanya.

Di kamp pengungsian, orang-orang harus bernapas menggunakan masker, sementara air bersih sama langkanya dengan pasokan listrik ketika malam tiba. Dalam situasi seperti itu, kurasa status dan peran sudah membaur dalam ketidakbergunaan. Barangkali konstruksi gender juga tidak ada artinya lagi. Semua kembali ke pemenuhan kebutuhan paling dasar yang diajarkan oleh moyang kita: bertahan hidup.

Turun di pinggir jalan besar, aku menyusuri toko-toko cinderamata hingga menemukan seseorang untuk bertanya. Aku berbelok ke jalan yang lebih kecil, menyeberangi rel kereta api tua yang sudah tidak digunakan lagi, melewati sebuah pedukuhan di belakang hiruk-pikuk pasar induk. Seperempat jam kemudian, setelah keluar dari hutan karet yang pohonnya tertanam lurus berbaris mengiringi jalan setapak, aku tiba di persawahan.

Kehijauan yang berundak-undak ini mengagumkanku. Matahari menggantung hangat di sisi timur. Di bawahnya ada geligi gunung, seolah menjadi pagar sejauh mana sawah ini menghampar. Seorang petani dan kerbaunya bergerak menjauhi saung bambu, figur mereka lebih menyerupai siluet yang diabadikan dalam lukisan pematang sawah bergaya pointilisme bagiku. Suara gemericik air menarik perhatianku, begitu juga kilauan embun di puncak lengkungan daun padi, juga suara kicauan burung-burung sawah yang kehadirannya sudah diantisipasi oleh boneka jerami bercaping.

Jalan batu kemudian mulai menanjak. Semakin dekat ke puncak bukit. Seorang anak laki-laki berseragam Pramuka berdiri tanggung di samping papan kayu tua berukirkan tulisan berbahasa Belanda. Aku berjalan pelan-pelan dari kejauhan, kedua kakiku berusaha berdamai dengan jalan setapak batu yang menanjak.

Bocah berseragam Pramuka itu tersenyum. Kutunjukkan kartu pers kepadanya. Tanpa banyak cakap ia mengajakku masuk ke dalam. Namun ketika ia mulai berjalan, aku masih terpaku di tempatku berada. Mataku terpaku pada bangunan besar yang menurutku terlalu bagus untuk ukuran gedung sekolah dasar. EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL MOENTILAN. Sekolah Dasar Eropa Muntilan.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s