Titimangsa (4)

architecture-building-cabin-279857

Bagian 4

Muntilan, Jawa Tengah

Europeesche Lagere School Moentilan—mulai sekarang akan kusingkat menjadi ELS Moentilan—terdiri dari bangunan berlantai dua yang dijejeri jendela berventilasi tinggi. Sebagian jendela sudah tidak berkaca lagi, menyisakan kerangka besi yang ditutup oleh tirai plastik. Dinding bangunan terbuat dari batu bata dicat putih, tentu kini sudah kecoklatan karena termakan usia. Serambinya terbuat dari kayu papan, mengelilingi sisi depan, samping, dan belakang bangunan. Tidak lupa atap yang tersusun dari genteng berwarna gelap disangga pilar-pilar ramping yang ditumbuhi tanaman rambat, sebuah versi bersahaja dari bangunan bergaya neoclassic.

Jalan setapak sempit berkerikil menjadi penghubung antara pagar dengan pintu masuk. Di sebelah kiri, sebuah pohon oak tua dengan bentuk seperti payung raksasa menciptakan bayangan temaram di pekarangan yang ditumbuhi alang-alang. Di sudut lain pekarangan terdapat semak-belukar dan sejumlah palem liar. Tempat ini memang sudah sejak lama ditinggalkan, vegetasi yang tumbuh tanpa kendali cukup menjadi bukti. Namun megahnya bangunan dan letaknya yang tidak biasa—di puncak bukit yang dikelilingi pematang sawah—membuatku merasa ini bukan sembarang tempat. ELS Moentilan mestilah merupakan sesuatu di masa lalu.

Anak Pramuka menantiku di ambang pintu. Kemudian kami masuk bersama. Ruang tengah yang—sesuai dugaanku—cukup besar ternyata tidak diisi apa-apa. Hanya ada sebidang lantai marmer dan beberapa perancah besi di sudut ruangan beserta tirai plastik yang menutupi furnitur tua. Ruangan ini sedang dalam renovasi, pikirku. Kami berjalan memasuki koridor kanan dan tiba di sebuah ruang kerja yang hanya terdiri dari sebuah meja kerja dan rak buku kosong. Seorang perempuan tua bertubuh mungil berdiri menghadap pekarangan, menjepit gagang telepon di antara pundak dan kepalanya, sementara tangannya sibuk menulis sesuatu.

Mevrouw, we’ve got our first visitor,” ujar si anak pramuka. Aku terkejut dengan kefasihannya berbahasa Inggris.

Ah, come in, please,” jawab perempuan itu. Kemudian ia menutup teleponnya, berbalik badan, dan berjalan ke arah kami. Ia tersenyum ramah padaku. Tangannya membelai kepala anak Pramuka. “Terima kasih, Soleh.”

“Sama-sama, Mevrouw!” ujarnya, kemudian ia pamit pergi.

Een scout lacht en fluit onder alle omstandigheden,” gumam sang Mevrouw sambil melirik padaku. “Seorang Pramuka selalu tersenyum dan meniup peluit dalam situasi apapun, begitu kata Robert Baden-Powell.”

Aku mengangguk. Kuperkenalkan diriku sambil menunjukkan kartu pers, satu hal yang entah mengapa membuatku merasa sebagai jurnalis sungguhan. Lagipula aku memang jurnalis sungguhan! Kalau tidak, aku takkan pergi sejauh ini.

“Jasmijn Oosterheerd. Saya ahli waris rumah ini,” katanya memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia yang jelas. “Secara de jure, tanah ini punya pemerintah. Tetapi saya selalu merasa ini rumah saya, sekolah saya. De facto. Ayo, silakan duduk. Teh?”

Aku agak segan. Namun menolak keramah-tamahan bukanlah awal yang baik, jadi kuterima tawarannya. Mevrouw Oosterheerd adalah seorang perempuan Belanda yang ramah. Usianya mungkin sekitar tujuh puluhan akhir. Langkahnya pelan dan bersahaja. Rambutnya yang telah memutih digelung seperti gadis Jawa. Ia memakai kebaya putih yang disesuaikan dengan tubuhnya mungilnya, lengkap dengan kain jarik sebagai bawahan.

Tidak lama, Mevrouw Oosterheerd kembali dengan nampan berisi poci teh dan dua cangkir porselen. Aku merasa seperti tamu kehormatan di rumah aristokrat Hindia Belanda. Setelah kedua cangkir diisi penuh olehnya, aku mengucapkan terima kasih dan kami berdua menyesap teh bersama-sama.

“Jadi, Periskop, majalah apa itu?” tanyanya.

“Majalah ilmiah populer, Mevrouw,” jelasku. “Kami terbit sebulan sekali. Majalah kami sudah berskala nasional, namun mungkin hanya sebatas tersedia di toko buku dan gerai di ibukota provinsi.”

Mevrouw Oosterheerd mengangguk. “Kamu cukup muda untuk menjadi jurnalis.”

Aku sedikit tersipu. “Mevrouw tidak tahu, sekarang banyak jurnalis muda bekerja di media-media nasional. Kebanyakan memang masih berstatus sebagai volunteer, tetapi jika kinerja mereka baik, mereka akan mampu diangkat sebagai kontributor tetap, dan kemudian jadi jurnalis resmi.”

Mereka itu sebenarnya aku, dengan segala pengharapanku.

“Saya senang mendengarnya. Kamu adalah jurnalis pertama yang datang ke sini, saya sangat mengucapkan terima kasih. Memang sudah saatnya orang-orang di luar sana tahu apa yang tersimpan di Muntilan ini.”

“Anda tidak perlu berterima kasih, Mevrouw, memang inilah pekerjaan kami,” jawabku sambil tersenyum. Di ruang kerja terdapat teras terbuka yang langsung terhubung ke pekarangan belakang. Pohon-pohon besar menjadi batas pekarangan itu. Rumputnya hijau, rapi terpangkas, tidak seperti di pekarangan depan. Ada lebih banyak anak Pramuka di sana, namun mereka lebih besar dari Soleh. Mereka berjalan hilir-mudik, mengatur kursi dan melapisi meja dengan kain putih, mendirikan tiang-tiang tenda. “Apa yang anak-anak Pramuka lakukan di pekarangan, Mevrouw?”

“Ah. Tentu kamu tahu hari ini hari penggalian kapsul waktu, bukan? Siang nanti akan ada lebih banyak orang datang kemari. Pemerintah, peneliti, akademisi, pelajar, orang-orang desa, dan jurnalis—sepertimu. Akan ada press release tentang pengangkatan kapsul waktu, sekaligus memamerkan benda-benda apa saja yang ada di sana sebelum nanti sore kami tutup kembali untuk dibawa ke Dinas Purbakala, sesuai kesepakatan. Kami juga akan mengumumkan rencana pemerintah Belanda mendanai tempat ini, atas nama keluarga kami, untuk dipugar menjadi museum. Sejauh ini beberapa tahap renovasi sudah dilakukan.

“Hari ini hari besar, namun tidak ada tenaga yang dapat membantu. Saya sendiri sudah di Muntilan sejak tiga bulan lalu. Memang, kelompok peneliti menaruh perhatian besar terhadap kapsul waktu, namun mereka tidak peduli dengan persoalan sepele seperti ini. Untung saja saya menjalin komunikasi yang baik dengan keraton, mereka mengirim anak-anak Pramuka dari kota untuk membantuku. Ah, Pramuka. Mereka memang penuh kebajikan dan semangat. Mereka sudah ada di sini sejak kemarin malam. Sore nanti mereka akan kembali ke Yogyakarta. Kami harus berpisah. Saya pasti akan merindukan Soleh,” katanya sambil terkekeh.

Aku merasa beruntung bisa datang sepagi ini. Aku punya lebih banyak waktu untuk bercakap-cakap dengan Mevrouw Oosterheerd. Bayangkan jika aku baru datang nanti siang, mungkin aku hanya akan di pekarangan mencatat press release sama seperti jurnalis lainnya. Beruntung, sangat beruntung.

Mevrouw Oosterheerd meneguk tehnya, kemudian balik bertanya, “sudah berapa lama di Muntilan?”

“Ini baru tiba, Mevrouw. Semalam berangkat dari Jakarta, tadi subuh tiba di Yogyakarta, langsung ke sini.”

“Kali pertama ke Muntilan?”

Aku mengangguk. “Ya, Mevrouw.”

“Bagaimana Muntilan, menurutmu?”

Aku teringat kembali pematang sawah dengan segala keindahannya di kaki bukit tadi. “Muntilan sangat cantik. Sejuk. Cukup lengang—kecuali di pasar. Aku kagum bagaimana di kota kecamatan kecil yang asri dan bersahaja seperti ini ternyata pernah ada kolonialisasi. Fakta bahwa di sini pernah dibangun ELS menandakan Muntilan bukan sembarang tempat bagi pemerintah Hindia Belanda. Benar begitu, Mevrouw?”

“Saya memang bukan ahli sejarah, tapi saya hidup dalam sejarah,” ujarnya bangga. “Dan ya, kamu benar. Muntilan bukan kota biasa. Mama saya, Helene van Rees—nanti kamu akan tahu lebih banyak tentangnya—selalu mengatakan bahwa awal abad 19 adalah permulaan dari Muntilan. Dulu banyak orang Tionghoa tinggal di sini. Kalau tidak salah pada akhir abad ke-19, Pastor Frans van Lith datang dari Oirschot. Ia membangun komunitas umat Katolik pribumi pertama di Jawa. Ia membangun gereja, rumah sakit, asrama, dan sekolah,” Mevrouw Oosterheerd terhenti di situ. Kemudian ia berujar lirih pada dirinya sendiri, “sekolah yang didirikan Pastor van Lith beruntung, masih berdiri sampai sekarang.”

Kubiarkan Mevrouw Oosterheerd terpekur selama beberapa saat. Jika ELS Moentilan masih bertahan, tentu keadaan akan jauh berubah. Ruangan manis ini barangkali adalah ruang kepala sekolah. Pekarangan di depan akan rapi, mungkin dengan parkiran sepeda. Pekarangan belakang akan dialihfungsikan menjadi kantin dengan air mancur. Jendela-jendela tinggi masih utuh. Ruang kelas penuh dengan meja dan kursi tempat anak-anak Muntilan mengisi hari. Ruang guru akan penuh percakapan akademis. Ruang utama yang berlantai marmer itu—selain menjadi meja resepsi—mungkin juga menjadi loket lost-and-found. Khayalanku buyar saat Mevrouw Oosterheerd mengangguk untuk melanjutkan.

“Pada tahun 1900, Muntilan ditempati oleh pejabat Belanda berpangkat kontrolir. Kukira pembangunan mulai dilakukan sejak saat itu. Jalur kereta yang menghubungkan Yogyakarta dengan Magelang dirangkai melewati Muntilan. Perkebunan tebu dibuka. Belanda memiliki sebagian besar tanah.

“Sementara itu, bukit ini hanyalah hutan beringin. Tidak ada yang berani membuka lahan di sini karena hal itu dipercayai akan membawa petaka. Tidak baik mengusir penunggu hutan beringin. Namun pemerintah tetap saja membebaskan lahan ini untuk dijadikan sekolah. Tidak ada kejadian buruk terjadi setelahnya. Kecuali, ya—sekolah ini tidak pernah bertahan begitu lama. Tetapi kami mengalami masa-masa yang sangat indah di ELS Moentilan, aku berani katakan itu.”

Aku mengangguk. Kedua cangkir kami telah kosong. Kuambil poci teh yang isinya tinggal setengah. Kutawarkan Mevrouw Oosterheerd untuk kuisikan cangkirnya, ia tidak menolak. Setelah menyesap sekali, aku bertanya, “jadi, tahun berapa ELS Moentilan berdiri, Mevrouw?”

Mevrouw Oosterheerd memejamkan matanya, berusaha mengingat. “Dibangun pada 1904, mulai dibuka pada Juli 1905. Saya belum lahir pada saat itu, tetapi Mama selalu menceritakannya dengan bangga. Bukan bangga pada dirinya yang ketika itu diutus langsung oleh gubernur jenderal untuk menjadi kepala sekolah, tetapi karena sejak hari pertama kegiatan belajar-mengajar diadakan, kami tak pernah memisahkan antara murid Eropa dengan murid pribumi.”

Kulihat senyum bangga juga merekah pada bibir tipis Mevrouw Oosterheerd. Ada banyak hal yang bisa kugali dari sini, tetapi rasa penasaranku akan kapsul waktu ternyata meluap kembali. Kucoba alihkan pembicaraan. “Tentang kapsul waktu yang ditanam pada tahun 1912, Mevrouw, ba—”

“Jika saya jelaskan kapsul waktu sekarang, saya jamin tidak akan ada bedanya dengan apa yang akan saya sampaikan di press release nanti,” potongnya lembut. “Jadi, daripada kamu membuang waktu untuk mendengar hal yang sama dua kali, saya akan menceritakan hal lain yang takkan kusinggung nanti. Orang-orang di luar sana tidak tertarik dengan ini. Barangkali tidak penting. Barangkali tidak ada dampak ilmiahnya. Biarlah mereka begitu, tetapi bagi jurnalis muda sepertimu, cerita ini ada baiknya kusampaikan.”

Aku mengangguk paham. Kuajukan beberapa pilihan dalam wawancara kepada Mevrouw Oosterheerd. Menjelaskan hal ini merupakan bagian dari kode etik jurnalistik. Ada tiga pilihan di luar wawancara biasa: Not for attribution, berarti aku boleh mengutip perkataannya tetapi tidak boleh mencantumkan identitasnya; Not to be quoted, berarti aku tidak boleh mengutip langsung apa yang dikatakan oleh narasumber. Di sini kelihaian gaya bahasa dan parafrase seorang jurnalis bermain; dan yang terakhir, off the record, berarti baik identitas narasumber maupun informasi yang diberikan tidak boleh kuberitakan sama sekali. Biasanya ini dipakai untuk alasan keselamatan, atau karena menyangkut isu yang sensitif.

Aku yakin semua jurnalis menginginkan narasumbernya kooperatif dengan mengizinkan identitas dan informasinya diberitakan penuh. Namun jika seseorang meminta wawancara dilakukan secara off the record—meskipun itu menyakitkan karena berarti tidak ada yang bisa ditulis—ada rasa kebanggaan tersendiri bagi seorang jurnalis. Kepercayaan narasumber untuk menyampaikan informasi secara off the record berarti—secara tidak langsung—merupakanpengakuan terhadap integritas si jurnalis itu sendiri.

Tetapi Mevrouw Oosterheerd ternyata hanya menginginkan wawancara biasa. “Kamu datang ke sini jauh-jauh tentu tidak untuk pulang dengan rekaman kosong, bukan? Ayo, keluarkan!”

Kukeluarkan alat perekam dari tas. Apapun yang akan diceritakannya, kini aku sudah siap.

“Tapi,” tangan Mevrouw Oosterheerd menutup mulutnya. “Saya mungkin akan lebih fasih dalam bahasa Belanda—atau bahasa Inggris. Bagaimana?”

“Silakan dalam bahasa apapun yang membuat Mevrouw nyaman.” Kunyalakan alat perekam. Benda hitam seukuran genggaman tangan itu kudekatkan ke mulutku. “Wawancara dengan Jasmijn Oosterheerd, ahli waris ELS Moentilan—“

“Dan calon kurator Museum ELS Moentilan,” tambahnya.

“—sekaligus calon kurator Museum ELS Moentilan berusia—“

“Tujuh puluh sembilan tahun.”

“Berusia tujuh puluh sembilan tahun. Warga negara Belanda. Selasa, 10 April 2012, pukul 9.34 pagi waktu Indonesia barat. Lokasi: Europeesche Lagere School Moentilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Topik—”

“Tentang sekolah ini, dan tentang mama saya, Helene van Rees.”

Kurasa suara Mevrouw Oosterheerd sudah cukup terdengar sehingga tak perlu lagi kuulangi. Alat perekam kuletakkan di atas meja. Sebuah buku dan pensil untuk mencatat poin-poin penting telah siap. Aku sedang menggambar angka ‘1905’ ketika Mevrouw Oosterheerd mulai menuturkan kisahnya dalam bahasa Inggris.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s