Titimangsa (5)

3150668_20121112043017
Pelabuhan Tanjung Priok

Bagian 5

Banyak perubahan terjadi selepas dunia memasuki gerbang abad ke-20. Epidemi kolera yang menyerang Filipina mulai mereda. Fosil Tyrannosaurus rex ditemukan seorang paleontologis di Hell Creek, Montana. Australia menjadi negara persemakmuran. Subway kota New York diresmikan. Patung The Thinker karya pemahat Auguste Rodin dipamerkan di London dan Paris. Cina bergabung dalam Palang Merah Internasional. Mahatma Gandhi mendirikan rumah sakit darurat untuk korban wabah bubonic di Johannesburg. Max Planck memformulasikan teori kuantum. Sully Prudhomme meraih penghargaan Nobel pertama di bidang sastra. Ratu Wilhelmina dari Belanda mengumumkan penerapan politik etis untuk kesejahteraan kaum pribumi di wilayah kolonial Hindia Belanda.

Keputusan itu bukannya datang begitu saja seperti jatuhnya buah apel yang memantik teori gravitasi keluar dari benak Isaac Newton. Seorang juris berkebangsaan Belanda bernama Conrad Theodor van Deventer menulis sebuah esai berjudul Een Eereschuld—utang kehormatan—yang dimuat di majalah De Gids. Melalui esai tersebut, van Deventer mengklaim bahwa pembangunan negeri Belanda yang sudah sedemikian mapan—di antaranya kereta api dan bendungan—ternyata diperoleh dari hasil kolonialisasi selama berabad-abad. Sementara itu, kaum pribumi Hindia Belanda hidup dengan kemiskinan dan keterbelakangan yang tak terperikan. Untuk itu, pemerintah Belanda perlu membalas budi kaum pribumi Hindia Belanda.

Politik etis—demikian konsep balas budi itu kemudian dinamakan—dilakukan dengan menyejahterakan pribumi dalam tiga bidang: transmigrasi, imigrasi, dan edukasi. Pada akhirnya, penerapan politik etis memang tidak lepas dari kepentingan politik. Program transmigrasi dan imigrasi mengalami kegagalan. Hanya program edukasi yang membawa sedikit lebih banyak dampak, meski memang pribumi disekolahkan hanya agar ketika lulus nanti mereka dapat dipakai sebagai pekerja rendahan yang mampu membaca, menulis, dan berhitung.

Helene van Rees baru berusia dua puluh tahun. Ijazah kelulusan sekolah keguruan Amsterdam belum lama diterimanya ketika ia ditawari posisi sebagai guru di Batavia. Pelayaran pertama dijalaninya. Kapal uap melewati Laut Mediterania, Terusan Suez, Laut Merah, dan lepas ke Samudera Hindia yang penuh perebutan. Badai dan penyakit laut tidak meruntuhkan semangatnya. Helene menjadi calon guru perempuan satu-satunya setelah seorang calon guru perempuan lain meninggal karena kolera dan harus dibuang ke laut.

Helene tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada suatu pagi yang cerah di tahun 1903. Perempuan muda ini terkagum-kagum dengan segala hal: aroma laut tropis yang menyengat; iklim pesisir yang panas; hiruk-pikuk pelabuhan; orang-orang Jawa, Tionghoa, Bugis, Bali, semua dengan pakaian kebangsaan masing-masing; kanal-kanal Batavia yang diadaptasi dari sistem kanal Amsterdam; buah-buahan tropis dan kejenakaan anak-anak pribumi. Hingga pada akhirnya Helene ditempatkan pada sebuah sekolah dasar dan menyadari betapa pendidikan bagi anak-anak kulit berwarna adalah sesuatu yang sangat langka, sebuah fakta yang menyedihkan sekaligus menyulut semangatnya.

Suatu ketika ia menerima surat yang diantarkan langsung dari kantor Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz. Helene mengetahui bahwa van Heutsz ialah mantan komando militer yang memenangi Perang Aceh, baru saja diangkat menjadi gubernur jenderal. Hal itu membuat Helene bergidik. Ia tidak ingin dilibatkan dalam dunia kemiliteran. Namun surat itu tak lain adalah instruksi pemindahan Helene ke sebuah kota terpencil di pedalaman Jawa. Ia terbelalak ketika membaca posisi yang ditugaskan—bukan ditawarkan—kepadanya: kepala sekolah!

Maka tibalah Helene di Muntilan, sebuah kota kecil yang dilintasi rel kereta api dari kota keraton Yogyakarta ke Magelang. Hanya ada sawah, perkebunan tebu, pohon kelapa, hutan jati dan beringin, sungai, jembatan gantung, orang-orang Jawa, sekolah Katolik asuhan Pastor Van Lith, dan pemukiman Belanda. Lebih dari itu, Muntilan adalah kota sunyi yang dikelilingi oleh Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Pegunungan Menoreh—tidak jauh letaknya dari sebuah candi raksasa Borobudur yang sedang dipugar.

Pertengahan tahun 1905. Helene van Rees ditempatkan di sebuah sekolah di atas bukit. Bangunannya masih baru. Wangi pelitur tercium dari meja dan kursi yang tertata rapi di ruang kelas. Jendela kaca bening berukuran besar mengizinkan cahaya masuk, terutama ketika Helene membuka tirai di ruang kerjanya, ruang kepala sekolah.

Helene dibantu oleh guru Belanda kelahiran Semarang, Pieter, dan seorang pembantu dari dusun di barat Magelang, Satiyem. Ketika hari pertama tiba, dua puluh anak berbagai bangsa datang, sebagian bersama orang tua mereka. Betapa gembiranya Helene. Anak-anak Belanda, Jawa, Tionghoa, mereka duduk cemas di kelas utama. Tidak lebih tidak kurang, mereka hanyalah anak-anak manusia yang perlu diajari membaca, menulis, dan berhitung. Demikian Helene selalu berpikir.

Meskipun begitu, tidak semua anak kulit berwarna bisa bersekolah di ELS Moentilan. Hanya mereka yang orang tuanya memiliki jabatan tertentu di pemerintahan yang boleh bersekolah.

Tahun 1905 merupakan tahun ajaran pertama di ELS Moentilan. Dua puluhan murid adalah awal yang baik. Sesuai dengan kurikulum yang disepakati, jenjang sekolah dasar berlangsung selama tujuh tahun. Helene dan Pieter mengajar secara bergantian. Helene lebih sering mengajarkan baca tulis dalam bahasa Belanda, sedangkan Pieter ilmu hitung.

Terkadang Satiyem diperbantukan untuk anak-anak Jawa yang mengalami kesulitan karena perbedaan bahasa. Helene tidak dapat berbahasa Jawa. Sebaliknya, Satiyem tidak dapat berbahasa Belanda. Pieter—yang sepanjang hidupnya tidak pernah meninggalkan Hindia Belanda—awalnya menjadi perantara bagi kedua perempuan ini, namun seiring berjalannya waktu Pieter dapat kembali disibukkan dengan urusan ilmu hitung sementara Helene dan Satiyem mulai belajar untuk saling mengerti, meski dengan bahasa tangan sekalipun.

Pengikutsertaan anak-anak pribumi dalam pendidikan formal yang disetarakan dengan anak-anak Belanda ternyata membawa permasalahan sendiri, terutama karena kendala bahasa. Terjadi penurunan pencapaian akademik yang mengecewakan. Dengan demikian pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membersihkan sekolah-sekolah kolonial dari murid pribumi, mereka ditempatkan di sekolah-sekolah pribumi.

Ketika perintah sampai di ELS Moentilan, Helene dengan tegas menolaknya. Baginya, kastanisasi yang menyebabkan hanya anak pribumi kaya saja yang dapat bersekolah sudah cukup membuatnya miris hati. Suatu pagi setelah duduk bersama Pieter dan Satiyem di ruang kepala sekolah, Helene membuat keputusan. ELS Moentilan harus terbuka untuk semua anak tanpa memandang laki-laki atau perempuan, status ekonomi, status politik, agama, maupun suku bangsa. Lagipula Muntilan adalah kota kecil, perubahan semacam itu bukanlah sesuatu yang menggegerkan, pikir Helene, namun itu adalah langkah besar.

Helene, Pieter, dan Satiyem—yang hanya berstatus sebagai pembantu namun kemudian diangkat menjadi guru bantu—kewalahan pada tahun-tahun pertama sekolah mereka terbuka untuk umum. Ruangan kelas ternyata tidak cukup. Anak-anak ada yang harus belajar di serambi, di ruang tengah, di pekarangan belakang. Helene mengatur jam sekolah sehingga ada kelas pagi dan kelas siang. Helene meminta tambahan guru bantu dari Batavia, maka dikirimlah seorang lulusan sekolah keguruan Batavia bernama Jan.

Namun ternyata Jan tidak hanya memfungsikan kedatangannya untuk membantu ELS Moentilan, tetapi juga menjadi informan bagi kontrolir Muntilan yang mulai menaruh curiga kepada sekolah dasar itu. Suatu ketika kontrolir Muntilan marah besar ketika tahu bahwa Helene tidak mengusir anak-anak pribumi dari sekolahnya. Helene mendapat ancaman pembubaran, tetapi ia bergeming. Kekuatan pendiriannya didukung oleh segenap pengajar—kecuali Jan, tentu saja, karena Helene memberhentikannya segera—murid, dan keluarga mereka. Karena status kewarganegaraan Belanda yang Helene miliki, dan karena surat penugasan Helene yang bertandatangan gubernur jenderal Hindia Belanda sendiri, kontrolir Muntilan tidak dapat berbuat banyak.

Di luar kehidupan sekolah, Helene van Rees bertemu dengan Raden Suryodikromo, seorang bangsawan dari Yogyakarta. Mereka ingin ELS Moentilan tidak dilupakan. Mereka mempunyai mimpi agar suatu hari nanti, ELS Moentilan—dengan segala keterbukaannya terhadap anak semua bangsa—dapat menjadi percontohan di mana-mana. Pendidikan adalah hal yang paling hakiki untuk memerdekakan manusia. Apalah arti politik etis jika pada akhirnya pendidikan hanya untuk kalangan atas? Adalah sia-sia jika Hindia Belanda punya banyak sekolah namun tidak semua anak dapat mengenyamnya.

Adalah sia-sia jika Hindia Belanda punya banyak sekolah, namun tak ada yang berani memutus rantai penindasan.

Helene dan Raden Suryodikromo sama-sama memiliki kecintaan terhadap dunia anak-anak dan pendidikan. Lebih dari itu, keduanya memiliki kecintaan terhadap satu sama lain. Seorang guru Belanda dan seorang bangsawan Jawa. Mereka pergi ke gereja pada suatu pagi dan mengikat janji sehidup semati.

Kami berhenti di situ. Mevrouw Oosterheerd kembali mengisi cangkir tehnya, menunggu jika ada sesuatu yang ingin kutanggapi. Sepertinya ia menangkap raut kekaguman di wajahku.

Aku berhenti menulis. Berhenti berpikir. “Saya akan pastikan cerita ini dapat menggugah redaksi kami, Mevrouw. Di luar itu, saya tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Sungguh.”

“Ayo. Tanyalah sesuatu. Kamu kan jurnalis.”

Sebenarnya ada, sih. “Bagaimana Anda bisa mengingat semuanya dengan begitu detail, Mevrouw?”

“Seperti yang saya katakan tadi, saya belum lahir ketika itu. Dan, tidak, saya bukan pengingat yang baik,” katanya sambil menunduk, membuka laci, dan mengangkat sesuatu berbungkus kain beledu kecoklatan. Ketika Mevrouw Oosterheerd menyingkapnya, jelaslah bagiku kalau itu sebuah buku. Buku yang sangat tua. “Mama menulis semuanya dalam buku harian. Kutemukan buku ini di antara benda-benda yang diwasiatkannya padaku.”

Aku tertegun memandang buku itu. Mevrouw Oosterheerd mengijinkanku memegangnya, tetapi aku hanya menyentuh sampul yang sudah kelupas. Aku tak berani mengangkatnya. Keadaannya pasti sudah sangat rapuh. “Ini adalah sejarah, Mevrouw,” gumamku kagum.

Kita adalah sejarah, Nak,” ucapnya sambil mengangguk. “Nah, saya lanjutkan lagi?”

Aku mengangguk.

“Pada tahun 1912, seperti yang kamu tahu, kapsul waktu dibuat. Saya akan lompati bagian ini karena nanti kamu akan dengar sendiri, oke?”

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s