Titimangsa (6)

Raden_Saleh_-_Merapi_volcano,_eruption_at_night,_1865
Gunung Merapi Meletus di Malam Hari (Raden Saleh, 1865)

Bagian 6

Kontrolir Muntilan sudah tidak pernah mengusik lagi. Kota kecil itu hidup damai dengan segenap kebersahajaannya. ELS Moentilan tetap dengan hiruk-pikuknya di atas bukit.

Rutinitas itu berlangsung cukup lama hingga suatu ketika di tahun 1930 alam mulai tidak ramah. Muntilan memang sering digetar oleh gempa kecil karena letaknya yang berdekatan dengan Gunung Merapi, namun pada hari itu getarannya sangat kuat. Bumi nampaknya sudah tidak kuat menahan tenaga yang begitu besar sehingga pada 25 November 1930 Gunung Merapi meletus. Penduduk Muntilan, tak terkecuali Helene, Raden Suryodikromo, dan para guru, dibawa ke pengungsian. Dalam hujan abu, mereka bergerak ke arah selatan, meninggalkan kota kecil Muntilan yang menjadi sasaran terjangan abu panas. Lebih dari 1300 orang meninggal. Itu adalah jumlah terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah letusan Gunung Merapi.

Enam bulan kemudian, ketika langit sudah bebas dari abu, mereka kembali ke ELS Moentilan. Mereka harus memulai dari awal lagi, dalam hal ini berarti bangunan harus dibetulkan kembali, buku-buku harus dibeli lagi, kursi meja dipesan lagi. Jumlah murid berkurang, sebagian karena keluarganya pindah, sebagian karena beristirahat di pekuburan masal. Kota Muntilan semakin sepi.

Ada satu yang tidak kembali. Tidak pula dimakamkan di pekuburan masal. Helene sudah menghabiskan dua tahun mencari keberadaan Raden Suryodikromo ketika suatu hari ia menerima selembar salinan manifes kapal uap yang berangkat dari Surabaya ke Suriname, sebuah wilayah jajahan Belanda di Amerika Selatan. Nama suaminya tertera di sana.

Helene tak bisa berpikir jernih. Banyak pribumi diangkut ke Suriname untuk menjadi buruh migran setelah letusan Merapi. Tetapi mengapa harus Raden Suryodikromo?

Hanya satu orang yang tahu jawabannya. Helene mendatangi kantor kontrolir Muntilan. Mencari pria licik yang dengan kekuasaannya bisa membuat hal itu terjadi. Tetapi sang kontrolir sudah lepas jabatan dan pulang ke Belanda. Hatinya hancur seketika. Kemarahannya memuncak, tetapi ia tak tahu ingin marah pada siapa. Ia ragu apakah kemarahannya akan menjadi sesuatu yang penting. Helene diam. Dalam diamnya ia membangun kembali ELS Moentilan bersama sisa-sisa yang ada.

Pada saat itulah ia datang ke sebuah panti asuhan Katolik dan memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi perempuan cantik bernama Jasmijn. Bayi itu dirawatnya seperti anak sendiri. Dan memang anak sendiri. Jasmijn menjadi pelipur bagi hati Helene yang remuk redam. Jasmijn mengembalikan rasa cinta kasih Helene yang selama itu tersaput awan duka kehilangan.

Jepang menyerang Hindia Belanda pada tahun 1942. Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang yang langsung mengambil alih semua kekuasaan di Hindia, termasuk di dalamnya adalah gedung-gedung, alam, dan manusianya.

ELS Moentilan kembali harus menyerahkan nasib kepada pergulatan jaman. Gedung sekolah itu digunakan sebagai gudang persenjataan. Kota Muntilan dijadikan markas tentara sekaligus lokasi tahanan politik Jepang. Orang-orang Belanda dan Jawa sama-sama berada pada titik yang tidak aman. Helene, si kecil Jasmijn yang baru berusia 9 tahun, Pieter, dan orang-orang Belanda lainnya diangkut ke sebuah asrama Katolik yang sudah dialihfungsikan menjadi rumah tahanan.

Helene dan anaknya kehilangan wewenang atas dirinya ketika status kebelandaannya tidak dapat membantu sedikitpun. Bagi penguasa, mereka adalah tawanan perang. Mereka dipindahkan dari satu rumah tahanan ke rumah tahanan lain. Dari satu kota ke kota lain. Hingga pada suatu hari mereka dibebaskan dan ditinggal di pinggir tembok kota Jakarta. Keesokan harinya, tanpa membawa apapun kecuali sebuntal kain pakaian dan buku jurnal, Helene dan Jasmijn dikapalkan ke Belanda.

Ketika perang sudah usai, Helene memberanikan diri mencari Raden Suryodikromo ke Suriname. Pasangan hidupnya itu tidak ada di mana-mana. Bahkan, menurut kabar, kapal yang berangkat dari Surabaya pada tahun 1933 tidak pernah tiba di Suriname melainkan tenggelam di lepas pantai karena menabrak karang. Lagi-lagi pekuburan masal yang harus Helene temui. Namun kali ini ia tidak yakin betul apakah jasad Suryodikromo benar-benar dikubur di situ, atau ternyata tidak pernah ditemukan sama sekali, hanyut ke tengah samudera yang tidak hanya membunuh suaminya, tetapi juga mimpi-mimpinya.

“Mama pulang ke Belanda satu bulan kemudian dengan membawa kabar yang tidak lebih buruk. Hanya saja pilu,” ujar Mevrouw Oosterheerd. “Mama tidak pernah menikah lagi sejak saat itu. Namun ia masih menjalin hubungan baik—hubungan persaudaraan—dengan Pieter Oosterheerd. Anaknya kemudian dinikahkan denganku. Ya, hidup kami biasa-biasa saja setelah itu. Mama menjalani masa tua dan meninggal dengan tenang pada suatu pagi di Amsterdam.

“Mama tidak pernah cerita banyak tentang masa lalunya, tetapi buku ini lebih dari cukup. Dan dari buku ini pula aku tahu Mama dan Raden Soerjadikrama mengubur kotak besi di pekarangan belakang. Kini semua orang menjululiknya kapsul waktu, padahal dulu Mama dan Raden Soerjadikrama menamakannya De Doos van Hoop. Kotak Harapan,” kata Mevrouw Oosterheerd sambil terkekeh.

Aku menyelesaikan catatan kecilku ketika Soleh mengetuk pintu. “Bapak-bapak dari Dinas Purbakala sudah datang, Mevrouw. Bagaimana?”

“Ah, ya. Suruh mereka masuk, Soleh,” jawab Mevrouw Oosterheerd cepat.

Dengan begitu, aku minta diri untuk berjalan-jalan menikmati lingkungan sekitar ELS Moentilan. Aku keluar lewat teras yang langsung menuju ke pekarangan belakang di mana pemuda-pemudi Pramuka telah menyelesaikan tugasnya dengan rapi. Jurnalis sudah mulai berdatangan, sebagian dari mereka duduk di kursi yang disediakan untuk press release, sedangkan sebagian lagi membuat liputan di sudut-sudut strategis.

Mevrouw Oosterheerd memanggilku dari teras. “Saya belum selesai,” serunya. “Nanti kita lanjutkan lagi, ya?”

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s