Titimangsa (7)

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Groepsportret_voor_het_gebouw_van_de_openbare_H.I.S._Soemenep_Madura_TMnr_60024369
Foto bersama di depan Hollandsch-Inlandsche School Sumenep, Madura, 1934 (Sumber: Tropenmuseum)

Ketika sekop pertama dihujamkan ke tanah, tidak ada satupun dari kami yang berani bersurara. Semua memandang lamat-lamat ke dua pekerja yang mulai menggali dan terus menggali. Sebuah pohon beringin tua menaungi kami, menaungi rasa penasaran kami, menaungi pesan sejarah yang terkubur di bawah lapisan tanah, menanti untuk diangkat pada hari yang telah diperjanjikan, hari ini.

Sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah Hindia Belanda di awal abad 20, pendidikan dasar berbasis Europeesche Lagere School harus ditempuh selama 7 tahun. Hitung-hitungan sederhana. ELS Moentilan membuka kelas pada tahun 1905. Dengan demikian, murid-murid ELS Moentilan angkatan pertama menerima rapor kelulusan mereka pada tahun 1912.

Berangkat dari cita-cita Helene van Rees dan suaminya Raden Soerdjadikromo untuk menghadiahi sekolah mereka kenangan yang mampu dijadikan pelajaran untuk masa depan—cita-cita yang dihiasi rangkaian bunga cinta kasih—mereka meminta setiap anak yang hendak mengambil rapor kelulusan untuk membawa benda kesukaan mereka.

Ieder van ons geeft een erfenis door aan de volgende generatie. Masing-masing dari kita memberi warisan kepada generasi berikutnya, begitu kata Helene van Rees ketika itu. Meski Robert sering mengganggu Katmo, meski Sri dan Mieke tidak bisa dibuat sebangku, meski A Yin enggan berbagi makan siang, Helene tahu dalam tujuh tahun pengajaran ia dapat mengubah keadaan. Dan itu terjadi. Setelah tujuh tahun bersama, mereka menjadi sahabat hidup, sahabat belajar, sahabat mengenal dunia. Batas-batas warna kulit tidak berlaku di ruang kelas, batas-batas kekuasaan menjadi khayalan semu.

Dan hari yang ditunggu tiba. Hari kelulusan. Semua anak berkumpul di bawah pohon beringin di pekarangan belakang, mengelilingi liang tanah yang baru digali oleh Pieter. Masing-masing dari mereka telah membawa benda yang direlakan. Hari itu, mereka membungkus manis sejarah kemanusiaan.

Hari ini, kami membongkarnya seperti kado natal di bawah pohon cemara. Sebuah batu pipih telah disingkirkan dari tanah. Di atas batu hitam itu, berukir tulisan:

OP DEZE DAG,

10 JULI 1912,

BEGROEVEN WIJ VRIJWILLIG DEZE DOOS MET SPULLEN OM ONZE EERSTE ALUMNI TE VIEREN EN HEDENDAAGSE EN TOEKOMSTIGE STUDENTEN EN DOCENTEN TE EREN. MOGEN ZIJ DIE NA ONS KOMEN DEZE DOOS OPENEN OP 10 JULI 2012 EN ONS HERINNEREN, EVENALS ONZE GENEGENHEID VOOR DEZE PLAATS EN DE MENSHEID. 

EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL MOENTILAN

Pada hari ini, 10 Juli 1912, kami mengubur dengan sukarela sebuah kotak berisi benda-benda dalam rangka merayakan kelulusan alumni pertama kami dan menghormati guru serta murid saat ini dan di masa yang akan datang. Semoga mereka yang hadir setelah kami dapat membuka kotak ini pada 10 Juli 2012, sembari mengingat keberadaan dan kasih sayang kami terhadap tempat ini dan kemanusiaan. Sekolah Dasar Eropa Moentilan.

Kedua pekerja masih terus menggali. Aku berdiri merapat ke batang pohon beringin. Akar-akar gantungnya berjuntai sejengkal di atas kepala kami. Suasana masih sunyi. Bisikan terdengar sayup, bunyi klik dari kamera-kamera jurnalis mengisi kekosongan penuh rasa penasaran.

Ketika Helene van Rees mewariskan buku hariannya kepada Jasmijn muda di hari-hari terakhir hidupnya, Jasmijn tidak pernah tahu akan ada satu tugas yang harus ia emban. Tidak sampai ketika ia membaca halaman-halaman yang bertandakan tahun 1912, bahwa Helene dan suaminya menghubur de doos van hoop di pekarangan belakang sekolah. Setelah cukup lama memberanikan diri, Jasmijn Oosterheerd kembali ke Muntilan dan mencari lokasi penguburan kotak harapan. Pada dasarnya ELS Moentilan tidak pernah tersentuh oleh sejarah, sehingga ketika ia menemukan ‘batu nisan’ di bawah pohon beringin, tidak ada satupun yang berubah. Hanya tanaman rambat dan semak belukar yang berani menjamah ELS Moentilan. Namun kini, ELS Moentilan dimiliki semua orang, dimiliki kemanusiaan.

Satu abad bukanlah waktu yang sebentar. Dalam rentang waktu selama itu, berapa generasi sudah terlahir? Berapa kali revolusi terjadi? Berapa perang dimulai dan usai? Berapa kapal tenggelam? Berapa negara sudah merdeka?

Kupandangi Mevrouw Oosterheerd yang berdiri bersedekap di seberangku. Wajahnya melambangkan perpaduan antara rasa cemas dan kelegaan. Dapat kubayangkan bagaimana tugas mulia ini telah hampir selesai diembannya. Mevrouw Oosterheerd telah berhasil menjaga agar kotak harapan—si kapsul waktu yang telah mengundang peneliti LIPI, arkeolog, orang asing, petugas Dinas Purbakala, penduduk Muntilan, pemerintah, dan jurnalis sepertiku—dapat dibuka pada saat yang seharusnya. Mulai saat ini, sejarah tidak akan lupa. Aku menjadi saksi.

Napasku tertahan ketika sekop penggali menghantam sesuatu sehingga menimbulkan bunyi berdenting. Kotak logam. Beberapa orang bergerak mendekat, namun barisan pramuka menahan mereka untuk tetap di lingkaran.

Seorang pekerja masuk ke dalam liang, seorang lagi menunggu di atas. Ini seperti penggalian harta karun. Pekerja yang ada di dalam tanah meminta bantuan, sehingga temannya masuk. Beberapa pemuda pramuka bersiaga di mulut liang. Tak lama sebuah kotak menyembul, disapa oleh tangan-tangan sigap pramuka. Deru blitz kamera bersahut-sahutan. Gumaman manusia berdengung di telingaku. Tak lama tepuk tangan terdengar riuh. Mevrouw Oosterheerd mengatupkan kedua tangan di wajahnya, entah menangis, entah menyembunyikan senyum kegembiraan.

Kami bersiap-siap untuk kejutan berikutnya.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s