Titimangsa (8)

box-memories-nostalgic-5842

Bagian 8

Dengan hati-hati, kedua penggali menggotong peti besi ke sebuah tandu dari kain terpal putih. Mevrouw Oosterheerd, ditemani seorang arkeolog utusan Dinas Purbakala yang nampak sedang mengatur keterkagumannya, mendekati peti besi. Mereka berbincang sebentar dalam suara rendah, lalu sang arkeolog berlutut di depan peti. Dengan sebuah kapak berukuran sedang, dipukulnya gembok yang sudah berkarat hingga terlepas dari gantungannya. Dengan demikian, pembukaan de doos van hoop tidak perlu lebih sulit.

Kami memandang dari jarak dua meter ketika pintu peti dibuka. Aku tidak tahu apakah sang arkeolog akan mengeluarkan isinya di sini, sekarang juga, atau—kemungkinan terburuknya—hanya melongo sesaat, kemudian menutupnya lagi dan membawanya ke laboratorium. Semoga bukan begitu kejadiannya.

Dan benar saja, arkeolog itu hanya menjulurkan kepala, kemudian mengacungkan jempol ke koleganya. Orang-orang kembali bertepuk tangan, entah buat apa. Kabar bahwa barang-barang di dalam de doos van hoop masih dalam keadaan utuh memang melegakan, tetapi tidak untuk pekerjaanku jika hanya itu saja yang bisa kulaporkan.

Tak lama peti ditandu oleh anak-anak pramuka. Kerumunan jurnalis menyerbu dengan rentetan pertanyaan dan suara blitz kamera. Barisan penjaga menjadi pagar betis untuk memberi jalan bagi anak-anak pramuka melaksanakan tugasnya. Di belakang peti, Mevrouw Oosterheerd dan sang arkeolog mengikuti.

Aku berada di belakang pemuda pramuka berbadan tinggi, kepalaku hanya sebahunya. Tidak seperti jurnalis lain yang bergerak seperti arus mengikuti rombongan peti dengan harapan mendapatkan informasi, aku berdiri bergeming dengan banyak pertanyaan yang malah membuatku tak berbuat apa-apa. Aku juga tidak tahu mengapa aku tiba-tiba tidak begidtu tertarik mengetahui apa isi kapsul waktu tertua di dunia yang membuatku berangkat ke sini bahkan sebelum disuruh itu, tetapi cerita Mevrouw Oosterheerd tadi pagi belum sepenuhnya mengendap di kepalaku. Aku masih mencoba mencernanya.

Mendadak piramida kasta Hindu terbayang di kepalaku, namun kali ini nama-namanya berubah menjadi susunan redaksi majalah Periskop. Tepat di situ—di dasar piramida—aku berada. Jika kedatanganku tak mampu mengubah keadaan, apalah artinya semua ini? Pulang tanpa hasil, aku akan kembali menjadi jurnalis kampus, tanpa kartu pers semi profesional. Tanpa tulisan yang bisa dibanggakan. Tanpa jerih payah yang dihargai. Tidak boleh terjadi.

Semangatku kembali. Penyadaran ini memang sangat kubutuhkan. Aku adalah seorang jurnalis. Sudahi mengheningkan cipta, saatnya bekerja. Rombongan peti semakin dekat, aku mulai bergerak horizontal di antara pilar-pilar pramuka dan kerumunan jurnalis gila lainnya.

“Satu jam lagi. Satu jam lagi!” ujar sang arkeolog sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas. “Satu jam lagi kami akan buka press release. Sekarang peti ini akan diproses dulu, beri kami waktu. Terima kasih! Mohon kerjasamanya! Permisi!”

Yang terjadi berikutnya ialah sesuatu yang di luar kuasaku. Entah apa yang menyebabkannya, peti yang ditandu anak-anak pramuka oleng ke kiri—ke arahku—sementara orang-orang seketika merapat di sekelilingku—entah untuk menghalau peti atau malah menariknya supaya tumpah ruah. Di tengah himpitan itu seseorang mendorongku hingga terjerembab ke tanah, di antara kaki-kaki pramuka yang bergeming. Kacamataku lepas, aku meraba-raba di tanah. Semua orang saling menyeru. “Awas! Awas!”

De doos van hoop hampir terguling, seandainya saja tidak ditahan oleh barisan pramuka. Namun demikian bukan berarti isinya aman. Segera setelah kutemukan kacamataku—masih berusaha bangun dalam keadaan merangkak—kulihat koin-koin keemasan menggelinding di tanah, lalu ada remah-remah kayu lapuk dan potongan kertas. Aku berusaha mengambil benda yang terakhir itu. Selain karena itu yang terdekat, siapa pula yang peduli dengan potongan kertas ketika ada benda lain yang jatuh dan itu adalah koin-koin keemasan berusia seratus tahun?

Aku takut orang-orang akan saling berebut dan menginjak untuk memungut koin-koin tadi, sedangkan aku sendiri masih dalam posisi merangkak penuh resiko kematian konyol. Segera setelah potongan kertas itu berada di genggamanku, aku beringsut ke belakang dengan harapan tak ada seseorang yang tiba-tiba menginjak punggungku. Rombongan peti sudah berlalu, demikian pula jurnalis-jurnalis haus berita itu.

Aku berjalan pelan ke tempat teduh. Sakit sekali rasanya lutut dan siku ini. Seseorang harus meminta maaf karena telah mendorongku, kurang ajar. Jatuhku tadi hampir saja menjadi kesia-siaan yang memalukan kalau saja—aku meraba saku. Ini bukan pencurian, pikirku. Aku akan kembalikan benda ini kepada Mevrouw Oosterheerd nanti.

Setelah yakin tidak ada orang yang melihat, kukeluarkan potongan kertas tadi dari saku. Ini bukan kertas biasa, tebakku. Ketebalannya melebihi kertas pada umumnya. Dan, memang ini bukan kertas biasa. Aku terkejut mendapati benda yang kuselamatkan dari kerumunan tadi—setelah kubalik—ternyata merupakan foto hitam putih yang telah menguning.

Foto ini terpotong di bagian tengah sehingga yang dapat kulihat hanyalah sosok dua manusia dari pinggul ke bawah. Yang satu mengenakan rok bunga-bunga sebatas lutut dan sepatu flat putih. Yang satu lagi mengenakan beskap putih dengan terusan kain batik hingga tumit, lengkap dengan selop hitam khas priyayi Jawa.

Aku terdiam sesaat dan kembali memasukannya ke dalam saku.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s