Titimangsa (9)

54584_a.jpg
Uang kertas pecahan 100 Gulden, diterbitkan oleh De Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia) di Batavia pada tanggal 31 Juni 1908 (Sumber: https://banknoteindex.com)

Bagian 9

Ada dua jenis manusia yang hidup di atas bumi: mereka yang menghargai waktu dan mereka yang merugikan orang yang menghargai waktu. Sang arkeolog dan timnya termasuk yang kedua. Selepas makan siang, kira-kira dua jam setelah kericuhan singkat tadi, meja konferensi di pekarangan belakang ELS Moentilan barulah terisi penuh. Mevrouw Oosterheerd duduk dengan sabar, hanya itu yang dapat kupantau dari wajahnya.

Di atas meja yang dilapisi plastik transparan, benda-benda yang telah didata dan dibersihkan ditata rapi. Ada banyak sekali benda dengan berbagai bentuk dan ukuran. Sementara Mevrouw Oosterheerd bercerita tentang asal-usul de doos van hoop, aku sibuk mencatat apa saja yang ada di sana.

Sejauh ini ada enam yang telah kucatat. Pertama, boneka perempuan Belanda seukuran kepalan tangan, mengenakan baju tradisional Volendam (nampaknya jahitan sendiri) dengan renda dan motif bunga-bunga, rambut pirang terkepang, tak lupa topi bonnet putih dengan dua sayap mencuat di kedua sisi, serta rok bergaris.

Kedua, selembar uang kertas senilai 5 gulden keluaran De Javasche Bank pada 31 Oktober 1901 bergambar Jan Pieterszoon Coen. Di sisi kanan bawah terbubuhi tanda tangan J.F.H. de Vignon Vandevelde dan J. Reijsenbach. Siapapun yang meletakkan uang ini di de doos van hoop, pastilah berasal dari keluarga saudagar kaya pada masanya.

Ketiga, sebuah cundrik—keris berukuran kecil—sepanjang ujung jari manis hingga pergelangan tangan. Warna bilahnya hitam legam seperti batu meteorit, terukir indah dengan 13 luk yang melambangkan kedamaian dan keseimbangan hidup. Warangkanya—sarung cundrik—terbuat dari tembaga, dihiasi ukiran-ukiran mendetail, sedangkan gagangnya berbentuk tunggak semi Jogja berwarna coklat tua.

Keempat, buku belajar membaca untuk siswa tahun pertama berjudul Omte Leren Lezen, dengan gambar sampul berupa anak-anak berambut pirang sedang bermain lompat tali. Mungkin pemiliknya sempat mengalami dilema, apakah buku ini akan disumbangkan ke adik kelas atau didedikasikan untuk de doos van hoop. Untung saja ia memilih yang kedua, ya, kan?

Kelima, ini yang paling aku suka, amplop besar berisikan foto-foto ELS Moentilan pada tahun 1912. Dalam sebuah foto bersama, anak-anak Jawa, dengan dahi hitam mengilat, mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beskap berwarna kelabu dan belangkon untuk anak laki-laki, kebaya putih dan rambut disanggul untuk anak perempuan. Anak-anak Tionghoa dengan baju koko dengan kerah tinggi, ada juga yang memakai kaus oblong. Anak-anak Belanda mengenakan celana pendek, rok selutut, dan kemeja berwarna terang. Di salah satu sudut berdiri seorang perempuan—Mevrouw Oosterheerd sudah mengonfirmasi bahwa itu adalah kepala sekolah Helene van Rees, sedangkan di ujung lainnya ada pria jangkung dengan setelan yang tak kalah rapi, seorang guru ilmu hitung, Pieter Oosterheerd.

Keenam, sehelai kain putih yang cukup lebar untuk diisi murid-murid angkatan pertama ELS Moentilan dengan tulisan berbagai bahasa: Jawa, Mandarin, Belanda, bahkan Melayu. Ada pula yang membubuhi tanda tangan, menggambar, memberi cap tangan.

“Penemuan sejarah tidak pernah menggegerkan negara dalam dua puluh tahun terakhir,” ujar sang arkeolog, penuh retorika politik, menurutku. “Hari ini, kita dibangunkan oleh fakta sejarah. Hari ini, kita diingatkan oleh pendahulu kita, pelajar-pelajar kecil yang menghadiahi kita pesan perdamaian. Bukan begitu, Mevrouw?”

Mevrouw Oosterheerd mengangguk pelan. Di usianya yang sudah sangat lanjut, sebuah tugas mulia telah berhasil diselesaikannya dengan manis. Mungkin hanya ini perintaan Helene van Rees kepadanya dalam surat wasiat, atau setidaknya demikianlah kesadaran logis Mevrouw Oosterheerd setelah menemukan buku harian ibunya.

Namun selesai hari ini bukan berarti selesai selamanya. Setelah ini, ELS Moentilan akan dibuka sebagai museum. Bayangkan sebuah museum di sebuah bukit di kota kecil di Jawa Tengah dikuratori oleh seorang perempuan Belanda berusia 79 tahun. Ini bukan tugas yang sekali kerja langsung selesai, Mevrouw.

Demikian pula cerita yang dituturkannya, masih mengambang di kepalaku seperti kubangan air di wadah pencuci piring yang berputar-putar pelan, membentuk pusaran, namun tak kunjung surut karena salurannya tersumbat.

Bahkan sebelum ia memanggilku dari teras tadi pagi, aku sudah tahu bahwa kami belum selesai. Oh, Mevrouw.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s