Ebrahim & Ekalaya

A_&_C_Black_1854_Celestial_Hemispheres

Di antara malam dan pagi, Ebrahim terbangun dalam ketelanjangan. Bergelung selimut, ia memandang sekitar. Lampu baca terang menyala pada sudut kamar, seperangkat alat angkat beban di samping pintu, dan aquascape tepat di sisi. Ebrahim mulai mengira-ngira di mana ia berpisah dengan kesadaran. Apakah itu ketika ia menghadiri diskusi peta langit selatan di Planetarium, ketika ia duduk di pelataran Teater Jakarta, atau ketika ia pergi ke bar di seberang jalan bersama…

“Eb! Kamu udah bangun,” seseorang keluar dari kamar mandi, berbalut handuk di pinggang. “Sekarang tunjukkan padaku, di mana bimasakti?”

Ebrahim duduk dengan sigap, matanya awas. “Kamu siapa?”

Yang ditanya hanya diam, lalu memunguti pakaian yang berserakan di lantai. “Cuma butuh sembilan sloki untuk bikin kamu lupa namaku.” Lelaki itu melempar pakaian Ebrahim ke ranjang. Ia sendiri melucuti handuknya, mengenakan boxer brief merah. Dengan posisi menyamping, ia tunjukkan lengannya yang dirajah. “Kamu lihat?”

Ebrahim, masih dengan paras kusut dan setengah jengkel, memerhatikan tato bergambar sosok yang tengah membusur panah. Imaji yang tak asing bagi pengikut epos Mahabharata. Gambar itu jelas bukan Arjuna, karena tidak bertahta emas layaknya Pandawa bersaudara. Maka itu pasti: “Ekalaya?”

“Panggil aja Eka,” ujarnya sembari mengenakan kaus hitam. Senyumnya meringkai. “Kamu tergila-gila dengan ini semalam, tau?”

***

Ebrahim menolak tawaran untuk dibuatkan kopi, ia hanya meminta segelas air untuk mengantarkan alkohol keluar dari tubuhnya sesegera mungkin. Setelah menyerahkannya satu botol besar air hangat, Ekalaya mengingatkan, “Tadi kamu janji kasih lihat letak gugus bimasakti.”

Ebrahim menggenggam botol air dengan kedua telapak tangan, lekat ia di tepi ranjang. “Aku nggak pernah bikin janji apa-apa.”

“Kamu janji.”

“Kita nggak bisa lihat bimasakti di langit Jakarta. Terlalu terang, terlalu banyak polusi.”

Ekalaya mengajaknya naik ke atap. Awalnya Ebrahim bersikukuh, tetapi Ekalaya membukakan pintu kamar. Dalam perjalanan menuju tangga, Ekalaya menjelaskan betapa gigihnya Ebrahim meminta Ekalaya agar membawanya ke Megamendung, rumah peristirahatan Ekalaya di mana mereka dapat melihat bintang-bintang. Dengan gusar, Ebrahim mengelak cerita itu.

“Kamu nggak tau betapa sok kenalnya kamu ketika minum sloki kedelapan,” Ekalaya membukakan pintu atap. Ia membantu Ebrahim naik. Ekalaya menawarkan sebatang rokok, Ebrahim hanya menggeleng. Jadilah Ekalaya mengasap sendirian.

Keduanya diam, mulai membiasakan diri dengan dingin yang menggeligit tulang. Hingga kemudian: “Ceritain lagi, gimana kita bisa ketemu?”

“Itu nggak penting, Eb.”

Gusar, Ebrahim bangkit perlahan, memastikan dirinya tidak jatuh bersama genteng-genteng dari lantai kedua.

Ekalaya menggenggam tangannya. “Sehabis acara diskusi di Planetarium, kita sempat ngobrol selama beberapa menit, mengeluhkan peneropongan bintang yang batal karena cuaca nggak bagus. Lalu kita berpisah. Sampai tengah jalan, aku baru sadar kalau kamu ternyata ganteng juga. Makanya aku kembali ke TIM, dan ketemu kamu di pelataran Teater Jakarta.”

Ekalaya melanjutkan, “Aku bilang pohon besar di situ angker–tapi kamu bilang enggak, karena pohon itu cocok untuk dijadikan tempat ‘moksa’. Lalu aku ajak kamu ke Camden. Pada sloki kedelapan, kamu bilang kamu mau jelasin semua rasi bintang di langit selatan, dan juga gugus bimasakti. Tapi kamu nggak mau pake Stellarium, kamu butuh langit sungguhan. Makanya kamu memaksa kita pergi ke sini. Sloki kesembilan, kamu bilang kamu suka wangi parfumku. Sebelum sloki kesepuluh, kamu ‘tewas’ di tempat.”

Ebrahim mengalihkan pandangan. “Maaf udah ngerepotin.”

Gelungan asap melayang di antara keduanya. “Nggak kok.”

“Jadi, ngapain kita di sini? Kita cuma dua orang kehilangan arah yang mencoba sok tau tentang langit.”

“Hey,” Ekalaya menyenggol pundak Ebrahim. “Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir.”

“Boleh juga.”

“Itu kamu yang bilang, kok.”

“Di sloki keberapa?”

Ekalaya memperlihatkan tujuh jarinya.

(Jakarta, 9 November 2015)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s