Entitas

backlit-conceptual-dark-2276051

Kendati sudah dipersilakan masuk oleh empunya kamar, Safir masih berdiri di ambang pintu. Tubuhnya bersandar, namun tetap tegap. Raut wajahnya sulit ditebak, karena lampu kamar belum dinyalakan. Dari ranjang tempat Tio saat ini duduk, Safir adalah bayangan.

“Ayo, masuk. Aku mau kunci pintunya.”

“Kita duduk saja di teras,“ Safir menawar. “Udaranya enak.“

“Repot, nanti ada yang lihat,” Tio beranjak, menyalakan kipas angin. “Bagaimana?”

Safir membisu, menimbang-nimbang. Apa boleh buat? Barang tentu Tio sudah tak kuat menahan nafsu. Ia dekati pria itu lekas-lekas. Tanpa sepatah kata keluar dari bibir keduanya. Sementara jarak antarhidung kian dekat, Tio menempatkan tangan kiri pada belikat Safir, menariknya pelan sehingga Safir maju satu, dua langkah. Tangan kanan Tio menggapai pintu dan menutupnya pelan. Ia putar anak kunci satu, dua kali.

Kedua pasang mata yang bersirobok, perlahan beradaptasi dengan gelapnya kamar indekos berukuran delapan meter persegi. Satu-satunya sumber penerangan adalah lampu neon, remang menembus kaca jendela dan tirai kelabu.

“Energi.” Tio berkata, sembari mengambil sebatang rokok dan korek api gas, “Energi tidak bisa diciptakan, tidak pula bisa dimusnahkan.” Terdengar bunyi klik, lalu pendar kemerahan ujung batang rokok menyala, diikuti suara hisapan dan bumbung asap. “Yang bisa kita lakukan adalah membantunya bersalin rupa, menjadi sesuatu.”

“Kita adalah perantara,” tanpa dinyana, Safir menimpali.

“Tepat sekali.” Tio memindahkan batang rokok dari bibirnya ke bibir teman kencannya. Perlahan namun dengan cekatan, Tio melepas satu per satu kancing baju Safir. Di tengah jalan, ia berhenti dan menyelipkan kedua telapak tangan pada tengkuk Safir, lalu turun ke dadnya. “Manusia, kita hanya bisa menyerap dan menyalurkan apa yang ada.“

Pagut penuh gelora. Pertarungan antara aroma sider dan tembakau dimulai.

Tidaklah tepat sekiranya dikatakan bahwa hukum fisika tidak berlaku dalam situasi bercinta. Sebaliknya, justru bercinta adalah saat ketika hukum ditegakkan. Gravitasi, tanpa kendala berarti mampu menarik Tio dan Safir rebah dan rendah ke ranjang.

Aliran darah, yang berdesir berkat gaya dorong otot jantung, turun dengan cepat untuk melaksanakan tugasnya di bawah sana. Sementara itu, dua pasang tangan dan dua pasang kaki yang berkelindan erat menimbulkan gesekan, yang oleh karenanya meningkatkan suhu tubuh, dan sebagai kompensasi, bulir-bulir keringat menetes menyeimbangkan suasana.

Tio mengangkat Safir ke udara dan menggulingkannya ke bawah, mereka tukar posisi. Tio kesulitan melepaskan bajunya, sehingga Safir membantu dari bawah. Kini giliran Tio yang berkelana mencari kait untuk membuka sabuk Safir. Namun seketika jemarinya dihentikan. “Apakah kita akan melakukannya?“

Tio tidak menjawab. Ia pagut bibir Safir kuat-kuat, lalu turun perlahan mengecup dagu, leher, dada, perut, dan dengan tempo sesingkat-singkatnya menurunkan celana Safir.

Syahdan, usaha Tio terhenti seketika. Ia melompat ke belakang, hampir terjengkang dari tebing kasur. “Safir,” ia beranikan diri untuk bertanya, masih setengah tidak percaya. “Kontol kamu mana?”

***

Safir

Pada mulanya kuperhatikan kipas angin yang berputar perlahan. Bayangan baling-baling memindai tubuhku, tubuhnya, ujung seprai yang lepas dari sudut kasur, celanaku, celananya, bajuku, bajunya. Dan malam masih panjang. Tapi tidak untuknya.

Kuselesaikan ceritaku pada batang rokok ketiga.

Tio mengambil jeda cukup panjang — semacam jeda yang memberi kesempatan bagi suara getar kipas angin dan gemerisik tirai yang bergesekan dengan dinding mengambil alih suasana — yang mana menurutku wajar. Siapa yang dapat mengantisipasi? Lantas ia bertanya, “jadi berapa lama lagi waktu yang tersisa untukku?”

“Waktumu sudah habis,” aku berkata. Sedikit dengan penekanan, mencoba untuk tidak mengulangi cerita panjang yang tadi baru kuselesaikan. “Kamu kan sudah jatuh koma satu jam yang lalu, di kubikel kantormu. Ingat, berapa botol minuman energi dan bungkus rokok yang kamu habiskan selama dua malam terakhir?”

“Aku datang ke sini untuk menjemputku,” lanjutku kemudian. “Waktumu sudah habis, Tio. Saatnya kamu ikut denganku. Kamar indekos ini, batang rokok yang kita hisap, kasur tempat kita duduk saat ini — semua ini adalah realitas perantara pada sisa kesadaranmu. Mari.”

“Ada yang perlu aku bawa?”

Aku menggeleng pelan, sembari mengulurkan tangan. Sementara itu, tiga dimensi kamar indekos di sekeliling kami mulai terurai menjadi energi yang bebas. Tio masih bergeming di tempatnya duduk.

Situasi ini memang tidak mudah. Setidaknya itulah yang mereka katakan — orang-orang yang harus aku jemput setiap hari dari realitas perantaranya masing-masing. Cahaya mulai mengambil alih wujud badaniah. Aku bisa bersalin rupa menjadi ibu, bapak, seekor kucing, seorang anak — apapun yang relevan pada realitas perantara orang yang kujemput. Kali ini, aku menjadi Safir, seseorang yang asing dalam hidup Tio, namun dapat mewakilkan sosok ideal yang selama ini dicarinya. Bagiku, sama saja.

Bagaimana menurutmu, apakah malam ini penyamaranku berhasil?

***

Tio

“Ada yang perlu aku bawa?” tanyaku.

Safir — setidaknya itulah nama yang ia pilih — menggeleng pelan, sembari mengulurkan tangan. Sementara itu, tiga dimensi kamar indekosku mulai terurai menjadi energi yang bebas. Aku masih duduk di tempatku, dengan begitu banyak pertanyaan.

Tapi, apa peduli? Waktuku sudah habis. Apakah ada pilihan lain? Kuraih tangannya. Sembari bangkit dengan bantuannya, aku berkata, “lain kali, kalau mau menyamar jadi seseorang dari aplikasi kencan, pastikan kamu punya titit dulu.”

 

(Jakarta, 22 Mei 2019 dan 5 September 2019)

One thought on “Entitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s