Nisbi

Malam ini hendaknya kurayakan. Bukan karena apa, tetapi karena telah kupahami dengan seksama bahwa ada dan tiadamu adalah nisbi yang merupakan perwujudan dari kecacatan itu sendiri.

Read More Nisbi

Titimangsa (11)

Semesta takkan pernah lupa identitas yang selama ini kita sembunyikan dari terangnya dunia. Ia akan datang suatu ketika sebagai pengingat yang mencerahkan—tidak pernah mengaburkan.

Read More Titimangsa (11)

Titimangsa (10)

“Tapi cerita ini belum selesai, Mevrouw,” seolah aku yang mengambil kendali plot kisah hidup Helene van Rees. “Apakah dituliskan dalam buku hariannya sedikit lebih banyak tentang Satiyem?” Mevrouw Oosterheerd melipat kedua tangannya di dada. “Waarom vraag je dat? Mengapa kamu bertanya tentang itu?”

Read More Titimangsa (10)

Titimangsa (9)

Ketiga, sebuah cundrik—keris berukuran kecil—sepanjang ujung jari manis hingga pergelangan tangan. Warna bilahnya hitam legam seperti batu meteorit, terukir indah dengan 13 luk yang melambangkan kedamaian dan keseimbangan hidup. Warangkanya—sarung cundrik—terbuat dari tembaga, dihiasi ukiran-ukiran mendetail, sedangkan gagangnya berbentuk tunggak semi Jogja berwarna coklat tua.

Read More Titimangsa (9)

Titimangsa (8)

Foto ini terpotong di bagian tengah sehingga yang dapat kulihat hanyalah sosok dua manusia dari pinggul ke bawah. Yang satu mengenakan rok bunga-bunga sebatas lutut dan sepatu flat putih. Yang satu lagi mengenakan beskap putih dengan terusan kain batik hingga tumit, lengkap dengan selop hitam khas priyayi Jawa.

Read More Titimangsa (8)